ciri ciri tafsir tahlili
TafsirTahlili; Kriteria Pemuda Sukses Dalam Perspektif Al-Qur'an. Tafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 234-235 (1): Idah Talak dan Idah Wafat. Makna dan Ragam Amanah dalam Al-Qur'an. Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari penafsiran Thabathaba'i ini. Yaitu pertama, Thabathaba'i dalam menafsirkan Al-Quran dimulai dengan menunjukkan
umumdisebut dengan tafsir. 2. Tafsir Tahlili a. Pengertian Tafsir Tahlili Secara bahasa, at-tahli>li> berarti terlepas atau terurai. Jadi tafsir tahili ialah metode penafsiran ayat-ayat al-4XUnD!Q melalui pendeskripsian (menguraikan) makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-4XUnD!Q dengan mengikuti tata-tertib atau susunan atau urutan-
Penelitimengambil tafsir ahkam ini karena dalam penguraian dan penjelasannya, al-'Uthaimin memiliki ciri khas yang berbeda dengan yang lain. jika dilihat dari judulnya, tafsir ini mengarah kepada tafsir ayat hukum/fiqh, tetapi pada hakikatnya tafsir ini bukan hanya memuat ayat-ayat hukum saja, melainkan seluruh ayat Alquran, sehingga menjadi
Orangorang munafik itu mempunyai ciri lahir dan ciri batin.Sedang yang kedua, ciri batin, tampak pada sedikitnya berzikir kepada Allah. tafsir Surat Al-Mu'minun Ayat 10 Mereka yang memiliki ciri - ciri seperti itu akan memperoleh semua kebaikan dan akan menerimanya di hari
Metodetafsir ini berusaha untuk menerangkan arti ayat-ayat al-Qur'an dari berbagai seginya, berdasarkan urutan-urutan ayat atau surah dalam mushaf, dengan menonjolkan kandungan lafadz-lafadznya, hubungan ayat- ayatnya, hubungan surah-surahnya, sebab-sebab turunnya, hadis-hadis yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para mufassir terdahulu dan mufassir itu sendiri diwarnai oleh latar belakang pendidikan dan keahliannya Ciri-ciri metode tahlili adalah penafsiran yang mengikuti metode
mở bài gián tiếp đoàn thuyền đánh cá. Uploaded bykafafila 0% found this document useful 0 votes7K views6 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes7K views6 pagesTafsir TahliliUploaded bykafafila Full descriptionJump to Page You are on page 1of 6Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 4 to 5 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Result for Tafsir Tahlili Pengertian Ciri Cii Contoh Kelebihan Dan TOC Daftar IsiTafsir Tahlili, Pengertian, Contoh, Kelebihan dan Kekurangan - WISLAHJun 4, 2022 Diantara kelebihan tafsir Tahlili adalah Tafsir Tahlili merupakan tafsir tertua yang digunakan oleh mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Tafsir Tahlili mencakup ruang lingkup yang sangat luas, aspek kebahasaan, sains dan pengetahuan, fiqih dan Tafsir Tahlili, Kelebihan Tafsir Tahlili dan Kelemahan b. Kelebihan Tafsir Tahlili. Beberapa kelebihan dari tafsir metode ini adalah 1 Dapat mengetahui dengan mudah tafsir suatu surat atau ayat, karena susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat dalam mushaf. 2 Mudah mengetahui munasabah korelasi antara suatu surat atau ayat dengan surat atau ayat Tafsir Tahlili Kelebihan Dan Kekurangan - Penerbit Al Quran Oct 22, 2021 Beberapa kelebihan dari tafsir metode tahlili, yaitu 1. Dapat mengetahui dengan mudah tafsir suatu surat atau ayat, sebab susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat dalam mushaf. 2. Praktis mengetahui munasabah korelasi antara suatu surat atau ayat dengan surat atau ayat lainnya. Tafsir Tahlili - 23, 2021 Ciri-Ciri tafsir dengan metode tahlili antara lain 1. Mengemukakan munasabah korelasi antara ayat atau surat 2. Menjelaskan sebab-sebab turunya al-Quran 3. Menganalisis lafadz atau mufrodat dengan sudut pandang kebahasaan/linguistic 4. Memaparkan kandungan ayat serta maksudnya secara umum TAHLILI SEBUAH METODE PENAFSIRAN AL-QURAN - COREalam perkembangan tafsir al-Quran dari dulu hingga kini, secara umum para mufassir menggunakan metode tafsir yang beragam yang diklasifikasikan menjadi empat metode. Metode tafsir Ijmlig lobal, metode tafsir Tall. analisis, metode tafsir Maudhi tematik, dan metode tafsir.PDF MENGENAL METODE TAFSIR TAHLILI - ResearchGateDec 28, 2017 Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas kemunculan tafsir ijmli, dasar dan urgensi tafsir ijmli, langkah-langkah tafsir ijmli dan kelebihan serta kekurangan tafsir Tahlili Sebuah Metode Penafsiran Al-Qur'an - ResearchGateMufassir with tahlili method present an explanation of Al-Qur'an verses which are based on sequence of verses in the manuscripts mushaf of Al-Quran seen from any aspects, such as compatibility...Tafsir Tahlili Pengertian Ciri Cii Contoh Kelebihan DanPengertian Tafsir Tahlili, Kelebihan Tafsir Tahlili dan Kelemahan. Kelebihan Tafsir Tahlili. Beberapa kelebihan dari tafsir metode ini adalah 1 Dapat mengetahui dengan mudah tafsir suatu surat atau ayat, karena susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat dalam Tahlili Pengertian Ciri Cii Contoh Kelebihan Dan Kelemahannya Nov 17, 2022 Keistimewaan dan Kelemahannya Ciri-ciri Tafsir Tahlili Metode Tafsir tahlili memiliki ciri khusus yang membedakannya dari metode tafsir lainnnya, ciri-ciri tersebut adalah Mufasir menafsirkan ayat per ayat sesuai dengan urutan dalam mushaf ustmani, yaitu dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat Tafsir Ijmali, Ciri-Ciri Metode Tafsir Ijmali, Kelebihan dan Pengertian Tafsir Tahlili, Kelebihan Tafsir Tahlili dan Kelemahan Tafsir Tahlili; Pengertian Tafsir Maudui, Contoh, Bentuk Tafsir Maudui, Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Maudui; Pengertian Tafsir Muqarin, Ruang Lingkup, Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Muqarin; e. Contoh Kitab Tafsir Tafsir Tahlili, Kelebihan Tafsir Tahlili Dan Kelemahan Jan 6, 2019 Beberapa kelebihan dari tafsir metode ini adalah 1 Dapat mengetahui dengan gampang tafsir suatu surat atau ayat, sebab susunan tertib ayat atau surat mengikuti susunan sebagaimana terdapat dalam mushaf. 2 Praktis mengetahui munasabah korelasi antara suatu surat atau ayat dengan surat atau ayat Tahlili Pengertian Contoh Kelebihan Dan KekuranganJun 4, 2022 Diantara kelebihan tafsir Tahlili adalah Tafsir Tahlili merupakan tafsir tertua yang digunakan oleh mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Tafsir Tahlili mencakup ruang lingkup yang sangat luas, aspek kebahasaan, sains dan pengetahuan, fiqih dan Tafsir Tahlili dalam Menafsirkan Al -Quran Analisis pada dasar dan urgensi, langkahlangkah metode tafsir - tahlili, pengaplikasian metode tahlili pada kitab tafsir al-Munir serta kelebihan dan kekurangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara kerja tafsir tahlili dengan pembahasan yang rinci di dalamnya sehingga maksud ayat dapat tersampaikan. Walaupun metode ini merupakan metode awal ...Tafsir Tahlili ahmadmubarok212Mar 25, 2014 Tafsir Tahlili adalah ilmu tafsir yang menafsirkan Al-Quran secara detail dari mulai ayat demi ayat, surat demi surat ditafsirkan secara berurutan, selain itu juga tafsir ini mengkaji Al-Quran dari semua segi dan maknanya. Tafsir ini juga lebih sering digunakan daripada tafsir-tafsir yang Tafsir tahlili,ijmali,maudhui,muqorrinApr 17, 2015 tentang metodologi tafsir al-quran penafsiran al-quran Tujuan Tujuan penulisan makalah ini sebagai tugas untuk mata kuliah Metodologi Study Islam Untuk menambah wawasan khasanah keislaman kita, terutama dalam metode penafsiran al-quran yang sangat urgent bagi kehidupan Makalah TAFSIR TAHLILI - BloggerNov 27, 2013 1. Apa yang dimaksud dengan tafsir Tahlili? 2. Bagaimana ciri-ciri dari tafsir Tahlili? 3. Apa Contoh tafsir Tahlili? 4. Apa keistimewaan dan kelemahan tafsir Tahlili? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Tafsir TahliliPengertian Tafsir Ijmali, Ciri-Ciri Metode Tafsir Ijmali, Kelebihan Dan Jan 6, 2019 Diantaranya yaitu sebagi berikut 1. Mudah dan gampang dipahami mudah tanpa berbelit-belit. Sesuai bagi yang ingin memperoleh pemahaman ayat-ayat al-Qur`an dalam waktu yang relatif singkat. 2. Bebas dari penafsiran isra`iliyyat, dikarenakan ringkasnya penafsiran. 3. Menggunakan bahasa yang singkat dan bersahabat dengan bahasa al-Qur` Tafsir Ijmali, Ciri-ciri, dan Kelebihan Serta KekurangannyaFeb 3, 2023 Namun pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas, tetapi tidak seluas pembahasan pada tafsir tahlili. C. Kelebihan dan Kekurangan Metode Ijmali. Dalam kaitan ini metode ijmali dalam penafsiran al-Qur`an memiliki kelebihan. Diantaranya adalah sebagi berikut 1. Praktis dan mudah dipahami praktis tanpa Tahlili dan Ijmali Dalam Menafsirkan Al-Quran Al-KarimPembahasan. Metode Penafsiran al-Quran al-Karim. Maksud dari istilah asalib al-Quran adalah sebuah metode untuk menyampaikan makna-makna al-Quran kepada penuntut ilmu dan mendekatkannya pada makna yang sesuai. Para pakar ulum al-Quran al-Karim atau ulum al-Tafsir menyebutkan empat metode penafsiran 1. Metode Tahlili analitikMakalah Tafsir Tahlili ~ Aneka Ragam MakalahA. Pengertian Tafsir Tahliliy Kata tahlili berasal dari bahasa Arab yakni hallala-yuhallilu yang berarti menguraikan atau menganalisa jadi Tafsir Tahlili analitis atau yang juga disebut dengan tafsir tajzii merupakan suatu metode yang bermaksud menjelaskan dan menguraikan kandungan ayat-ayat Alqur'an dari seluruh sisinya, sesuai dengan urutan ayat di dalam suatu METODE TAFSIR TAHLILI AL-THABARI - terlihat menjadi parsial, menghasilkan penafsiran yang subyektif, masuknya pemikiran israiliat, dan lain-lain. Dalam sejarahnya Metode tafsir tahlili dalam dunia Islam dimulai sejak ditulisnya tafsir Jamul Bayn f Tafsr al-Qurn karya Ibnu Jarir at-Thabari. Karya at-Thabari ini dianggap sebagai tafsir tertua yang ...Pengertian Tafsir Ijmali Dan Ciri-Ciri Metode IjmaliOct 21, 2021 Kelebihan Metode Tafsir Ijmali. 1. Mudah dipahami tanpa berbelit-belit. Sesuai dengan sebutannya, tafsir ijmali merupakan penafsiran yang menafsirkan suatu ayat secara ringkas dan mudah dipahami oleh pembacanya. Selain itu juga, pesan-pesan yang terkandung dalam tafsir ini, sangat mudah dipahami oleh pembaca. // Pengertian Tafsir Ijmali. Tafsir Muqaran Kelebihan Dan Kekurangan - Penerbit Al Quran Oct 22, 2021 Pengertian Tafsir Muqaran Kelebihan Dan Kekurangan Metode tafsir muqarin adalah metode penafsiran yang menyajikan penafsiran dengan membandingkan satu tafsir dengan tafsir lainnya, satu ayat dengan ayat lainnya, surah satu dengan lainnya, tema-tema tertentu ataupun ayat Al Quran dengan dan Ciri-Ciri Tari Tradisional beserta ContohnyaJun 11, 2023 Pengertian dan Ciri-Ciri Tari Tradisional. Perbesar. Sebutkan ciri-ciri tari tradisional. Sumber Tari tradisional adalah jenis tarian yang berasal dari hasil ekspresi manusia terhadap keindahan dengan latar belakang ataupun sistem budaya masyarakat milik kesenian Keywords For Tafsir Tahlili Pengertian Ciri Cii Contoh Kelebihan Dan For You
ArticlePDF Available AbstractMetode tafsir tahlili merupakan salah satu metode dalam tahlili berusaha menganalisa dan menjelaskan ayat-ayatal-Qur‟an secara keseluruhan dan meliputibacaan ayat, bangunan nahwu dan sharaf, sebab nuzul ayat, maknagelobal dari ayat, hikmat pensyariatan dan al-Qur‟anyang menggunakan metode ini sangat bermanfaat bagi para penuntutilmu khususnya bidang ilmu al-Qur‟an untuk memperdalampemahamannya tentang al-Qur‟an dan tidak tepat bagipara Tafsir tahlili, Metode Tafsir, Tahlili Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Mengenal Metode Tafsir Tahlili MENGENAL METODE TAFSIR TAHLILI Syaeful Rokim Dosen Prodi IAT STAI Al-Hidayah Bogor Abstrak Metode tafsir tahlili merupakan salah satu metode dalam penelitian tahlili berusaha menganalisa dan menjelaskan ayat-ayat al-Qur‟an secara keseluruhan dan meliputi bacaan ayat, bangunan nahwu dan sharaf, sebab nuzul ayat, makna gelobal dari ayat, hikmat pensyariatan dan al-Qur‟an yang menggunakan metode ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu khususnya bidang ilmu al-Qur‟an untuk memperdalam pemahamannya tentang al-Qur‟an dan tidak tepat bagi para pemula. Keyword Tafsir tahlili, Metode Tafsir, Tahlili A. Pendahuluan Pembahasan tafsir merupakan hal yang penting pada setiap waktu dan tempat. Hal itu dikarenakan kebutuhan umat Islam akan petunjuk yang terkandung di dalam al-Qur‟an al karim untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Adapun kebutuhan petunjuk manusia sangat beragam satu sama lainnya dalam satu daerah, atau masa dahulu dengan masa kontemporer. Oleh karena itu tafsir al-Qur‟an membutuhkan aktualisasi agar dapat mudah dipahami oleh masyarakat Muslim dengan realita mereka yangberbeda-beda adat kebiasaannya. Para ahli tafsir pun berusaha untuk menafsirkan al Qur‟an dengan pendekatan dan metode yang berbeda-beda antara satu ahli tafsir dengan pendekatan tafsir yang melihat pada sumber penafsiran, ahli tafsir mengkategorikan tafsir al-Qur‟an menjadi 4 kategori; pertama tafsir bil ma‟tsur riwayah.Kedua, tafsir bil ra‟yi dirayah.Ketiga, tafsir bil-lughah bahasa.Keempat, tafsir isyari. Mengenal Metode Tafsir Tahlili Adapun metode tafsir yang digunakan oleh para ahli tafsir dalam penafsiran al Qur‟an dapat dikategorikan menjadi empat metode; Pertama, Metode tafsir metode tafsir metode tafsir maudhu‟ metode tafsir kategori ini merupakan pengkategorian baru, karena kategori ini muncul setelah penelitian pada buku-buku tafsiryang beragam, sehingga para ahli ilmu membagi metode tafsir yang digunakan oleh para ahli tafsir menjadi 4 macam. Metode tahlili merupakan metode penafsiran yang digunakan oleh para ulama dahulu dan paling luas cakupan bahasannya. Hal itu dikarenakan mufasir membagi beberapa jumlah ayat pada satu surat dan menjelaskannya kata perkata secara rinci dan komprehensif. Pada kesempatan ini, penulis berusaha untuk membahas metode tafsir empat metode penafsiran yang dijelaskan di paragraph sebelumnya, makalah ini membatasi pembahasannya pada metode penafsiran tahlili. B. Makna Metode Tafsir Tahlili Sebelum masuk pada pembahasan isi metode tafsir tahlili, penulis berusaha mengungkapkan definisi kata metode, tafsir dan tahlili merupakan bentuk kata majemuk yang terbentuk dari dua ini membutuhkan penjelasan pada setiap bagiannya sebelum menjelaskan definisi dari tafsir tahlili. Kata metode berasal dari bahasa Latin yaitu berasal dari kata methodos. Kata methodos itu sendiri berasal dari akar kata metadan hodos. Meta berarti „menuju, melalui, mengikuti, sesudah‟, sedangkan hodos berarti „jalan, cara, dan arah‟.Sedangkan kata metode atau dalam bahasa inggris „methode‟ berarti prosedur atau proses untuk mencapai apa yang diinginkan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.. Definition Of Method, Accessed Oktober 2017. . Definisi kata metode, diakses oktober 2017, entri/metode Mengenal Metode Tafsir Tahlili Kata tafsir berarti al Tawdi>h „penjelasan‟ dan al-bayan „penegasan‟ serta menyikap sesuatu yang seperti kata „tafsir‟ yang disebutkan dalam firman Allah swtsurat al Furqan ayat ke 33 yang bermakna kata tafsir secara istilah kelimuan adalah ilmu yang membahas tentang al Qur‟an al Karim dari segi dilalah petunjuknya yang diinginkan oleh Allah sesuai kemampuan manusia. Imam al-Zarkasyi mengatakan bahwa ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw, untuk menjelaskan makna-maknanya, untuk mengeluarkan hukum dan hikmah di dalamnya. Hal itu akan membutuhkan ilmu bahasa, nahwu grammer, sharaf, ushul fiqih, qiraat dan lainnya. Dan membutuhkan juga pengetahuan asbab nuzul, nasikh dan Abu Hayyan rhm juga menjelaskan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang bagaimana mengucapkan lafadz al-Qur‟an, membahas petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, dan membahas makna-makna yang terkandung dalam susunan ayat al-Qur‟ kata tahlili bentuk kata arab „‟ contoh „‟ yang bermakna membuka ikatanmenjadi terurai. Secara umum tahlili bermaksud menjelaskan sesuatu pada unsur-unsurnya secara terperinci. Adapun definisi tafsir tahlili secara istilah adalah metode yang digunakan seorang mufasir dalam menyingkap ayat sampai pada kata-perkatanya, dan mufasir melihat petunjuk ayat dari berbagai segi serta menjelaskan keterkaitan kata dengan kata lainnya dalam satu ayat atau beberapa ditemukan definisi pada ulama terdahulu, dikarenakan metode ini dikenalkan setelahnya. . Ibnu Faris, Maqa>yis al-Lugah hal 355. . Allah swt berfirman tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. QS. Al-Furqan 33 . Muhammad Abd al Adzim al-Zarqa>ni, Mana>hil al Urfa>n fi Ilm al Qur‟an Beirut Dar al-Kitab al-Arabi, 1995 hal 2/6. . Muhammad Abdullah al-Zarkasyi, Al-Burhan fi „Ulum al-Qur‟an Kairo Dar l-Turats, 1984 juz 1/13. . Muhammad Yusuf, Abu Hayyan, Al-Bahru al-Muhith Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993 juz 1/121. . Muhammad al-Ra>zi, Mukhtar al Shihah, Kairo al-Saktah al-Jadid, 1329H hal 411. Mengenal Metode Tafsir Tahlili Menurut Musaid al Thayyar, tafsir tahlili adalah mufasir bertumpu penafsiran ayat sesuai urutan dalam surat, kemudian menyebutkan kandungannya, baik makna, pendapat ulama, I‟rab, balaghah, hukum, dan lainnya yang diperhatikan oleh mufasir. Jadi tafsir tahlili dapat kita katakan; bahwa mufassir meneliti ayat al Qur‟an sesuai dengan tartib dalam mushaf baik pengambilan pada sejumlah ayat atau satu surat, atau satu mushaf semuanya, kemudian dijelaskan penafsirannya yang berkaitan dengan makna kata dalam ayat, balagahnya, I‟rabnya, sebab turun ayat, dan hal yang berkaitan dengan hukum atau Urgensi Metode Tafsir Tahlili dan Kelebihannya Metode tafsir tahlili atau metode tafsir yang digunakan oleh ahli tafsir sepanjang masa memiliki banyak faidah yang beragam, dan tujuan yang tinggi. Secara gelobalnya penulis jelaskan sebagai berikut Pertama, metode ini meneliti setiap bagian nash al qur‟an secara detail, tanpa meninggalkan sesuatupun. Sehingga metode ini memberi pengetahuan yang komprehensif mengenai ayat yang dibahas baik kata atau kalimat. Di mana metode ini menyajikan makna dan hukum yang terkandung dalam nash. Kedua, metode ini menyeru peneliti dan pembacanya untuk mempelajari/mendalami ilmu-ilmu al qur‟an yang itu mufasir menjelaskan ayat dari berbagai segi dengan metode tahlili ini. Ketiga, metode ini memperdalam pemikiran, dan menambah kuat dalam menyelami makna ayat, serta tidak puas hanya melihat makna gelobal metode ini dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan untuk ber-istinbat, memilih ragam makna, memilih pendapat yang kuat dari pendapat para ulama. Keempat, dari metode ini, seorang alim dapat menggunakan informasi dalam tafsir tahlili menjadi sebuah pembahasan tersendiri, seperti metode tafsir karena itu tafsir tahlili menjadi pengantar atau asas untuk tafsir maudhui. Adapun kesimpulan kelebihan metode tafsir tahlili dapat dijelaskan menjadi dua ruang lingkup yang luas . Musa‟id al-Tayyar, su‟al an al-tafsir al-tahlili, fun=artview&id=335 Mengenal Metode Tafsir Tahlili padametode tafsir dalam tafsir tahlili, mufassir berusaha menjelaskan ayat demi ayat secara rinci dan dalam metode tafsir tahlili, seorang mufassir mendapatkan ruang yang luas untuk mengutarakan ide dan gagasannya dalam menafsirkan ayat al-Qur‟ tetapi tafsir dengan metode tahlili kurang tepat dalam pembelajaran bagi para siswa pemula dan masyarakat itu dikarenakan pembahasan dalam tafsir dengan metode tahlili sangat luas dan mencakup berbagai cabang ilmu al-Qur‟an dan hal itu menyulitkan para pemula dalam memahami ayat dan menyimpulkan maknanya. D. Macam-macam Metode Tafsir Tafsir dilihat dari metode penelitian dan penulisannya yang digunakan oleh para ulama tafsir dari zaman dahulu sampai sekarang dapat dikategorikan menjadi empat ini bukan disimpulkan oleh para ulama zaman dahulu akan tetapi pembagian metode ini muncul belakangan setelah buku-buku tafsir ditulis. Di antara macam metode tafsir sebagai berikut 1. Tafsir Ijmali Metode ini berusaha menjelaskan ayat al-Qur‟an secara gelobal, ringkas dan padat, tanpa memperluas pembahasan dan memperinci utama metode ini adalah memperjelas makna dan bentuk kata uslub yang zaman Sahabat Nabi tafsir dengan metode ijmali sangat itu dikarenakan kebanyakan masyarakat waktu itu memahami sebagian besar ayat-ayat al-Qur‟an, sehingga hanya sebagian kecil jumlah ayat yang perlu ditafsirkan. Di antara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir ijmali Tafsir Jalalain, Tafsir al-Wajiz karangan al-Wahidi al-Naisaburi, al-Muhalla wa al-Suyuti, dan Tafsir Shofwah al-Bayan Li-Ma‟ani al-Qur‟an karangan Husain Makhluf. . Misy‟an al-Aisawi, al-Tafsir al-Tahlili; Tarikh wa al-Tathawur, al-Mu‟tamar al-Ilm al-Thani li-Kulliyah al-Ulum al-Islamiyah, 2012 M, hal 62. Mengenal Metode Tafsir Tahlili 2. Tafsir Tahlili Ini telah yang dijelaskan pada halaman besar ulama zaman dahulu menggunakan metode saja, mereka berbeda-beda dalam corak penafsirannya. Di antara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir tahlili adalah; Tafsir Jami‟ al-Bayan Fi Ta‟wil Ayat al-Qur‟an karangan Muhammad Jarir al-Thabari, Ma‟alim Tanzin karangan al-Bagawi, al-Bahru al-Muhith karangan Abu Hayyan al-Qur‟an al-Adzim karangan Abu Fida Ibnu Katsir. 3. Tafsir Maudhui Ini merupakan metode dalam tafsir modern walaupun memiliki akar di zaman dulu, tetapi tidak seluas pembahasannya di zaman sekarang. Metode maudhui berusaha mengumulkan dan mentafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an yang memiliki tema yang sama. Sebagian besar tafsir dengan metode maudhui ini digunakan pada penelitian-penelitian ilmiah di perguruan tinggi dan lainnya. 4. Tafsir Muqaran Metode tafsir Muqaran adalah sebuah penelitian mendalam dan pengumpulan pendapat-pendapat berkaitan dengan tafsir ayat-ayat atau surat dalam al-Qur‟an yang memiliki hubungan tema yang sama. Kemudian dipelajari secara mendalam untuk mengenal perkataan yang lebih rajihkuat.Itu semua untuk mencapai petunjuk al-Qur‟an yang berkaitan dengan tema yang diteliti. E. Perkembangan Tafsir Tahlili Adanya metode tafsir tahlili tidak secara tiba-tiba tetapi metode ini muncul dengan melalui beberapa tahapan periode tentang sejarah dan periode yang dilalui „ilmu‟ tafsir ini, kita dapati bahwa tafsir melalui periode yang banyak, sampai pada zaman sekarang gelobal penjelasannya sebagai berikut; Periode pertama, pada masa Nabi saw, tafsir waktu itu terbatas pada penjelasan pada kata-kata yang samar atau asing. Analisa tafsir secara kebahasaan kata dalam ayat di masa Nabi sangat jarang sekali, dikarenakan waktu itu masyarakat tidak membutuhkan corak tafsir Mengenal Metode Tafsir Tahlili seperti sangat paham dengan bahasanya dan belum banyak tercampur dengan orang-orang asing .Pada zaman Nabi saw, tafsir terfokus pada asbab nuzul. Yakni sebab diturunkannya ayat al Qur‟an kepada Nabi saw. Sahabat yang menyaksikan turunnya ayat meriwayatkan kepada sahabat yang tidak sempat hadir menyaksikan turunnya itu juga, ada penjelasan langsung dari Nabi saw, yaitu menyelaskan al Qur‟an dengan Al Qur‟an, penjelasan istilah tertentu dalam ayat, penjelasan hukum hala dan haram, atau penegasan tentang hukum yang terdapat pada ayat. Sehingga banyak hadits yang memiliki keterkaitan dengan tafsir ayat baik secara langsung atau tidak. Pada zaman Nabi saw, tersisa banyak ayat yang tidak ditafsirkan oleh Nabi saw. Dikarenakan masyarakat waktu itu tidak membutuhkannya, atau dibiarkan agar manusia setelahnya mendalami ilmu tafsir itu dan menggunakan pemahaman mereka untuk ber-istinbat makna, hukum atau hikmah yang terkandung dalam ayat. Periode kedua, terjadi perluasan penafsiran secara itu menjadi kebutuhan primer bagi orang-orang yang baru masuk Islam, di mana mereka tidak menyaksikan langsung turunnya adanya kebutuhan tafsir secara bahasa setahap-setahap. Hingga islam menyebar di timur dan barat. Sebagaimanadinukil bahwan Umar bin Khattab memberikan perhatian khusus pada segi bahasa. Begitu pula Ibnu Abbas rda merupakan sahabat Nabi saw yang berandil besar dalam menafsirkan al qur‟an al ini, keseriusan para sahabat dan tabi‟in memiliki pengaruh besar dalam perkembangan berusaha dalam menafsirkan al Qur‟an berlandaskan kaidah-kaidah syariat dan memiliki pendapat-pendapat tafsir yang diriwayatkan dan terjaga dalam buku-buku tafsir dan saja sebagian besarnya berkaitan tentang kebahasaan, atau hukum pergerakan penafsiran di daerah Islam tumbuh subur seperti madrasah Makkah. Madinah, Bashrah, Kufah dan Yaman. Oleh karena itu perkataan sahabat dan tabiin yang berkaitan dengan penafsiran ayat menjadi pilar penafsiran bil-Ma‟ perbedaan pendapat di antara mereka pada periode ini sangat sedikit, dan itu terjadi dalam Muhsin Abd al-Hamid, Tatawur Tafsir al-Qur‟ 17. . Abd al-Rahman al-Suyuti, al Itqan fi „Ulum al-Qur‟an, Madinah Munawarah Majma‟ al-Malik al-Fahd, 1426H hal 1/347. Mengenal Metode Tafsir Tahlili masalah hukum terjadi perkembangan tafsir pada periode ini, al qur‟an secara rincinya belum ditafsirkan seluruhnya. Baik pada masa sahabat nabi atau masa ketiga,periode tafsir tahlili muncul setelah ilmu-ilmu keislaman muncul ilmu baru yang berkhidmat pada al-Qur‟an al-Karim. Mulai analisa nash ayat al-Qur‟an dengan bentuk yang lebih luas. Pada periode ini, kamus bahasa banyak dibukukan dan ilmu bahasa menjadi lebih luas, seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Oleh karena itu terjadi peluasan penjelasan nash ayat al-Qur‟an dalam ilmu bahasa arab dalam rangka menjelaskan kata-kata gharib asing dalam al-Qur‟an. Maka ditulislah buku secara khusus yang menjelaskan makna kata dalam al-Qur‟ buku Majaz al-Qur‟an yang ditulis oleh Abi Ubaidah w 210H. dia menafsirkan petunjuk kata al-Qur‟an, menjelaskan bacaaan ayat dan berbicara tafsirnya secara keilmuan bahasa secara dari majaz al-Qur‟an, ada buku yang bernama kutub ma‟ani, seperti tafsir „Ma‟ani al-Qur‟an‟ karangan Abi Zakaria al-Fara‟ w lebih fokus pada kata-kata seputar bacaannya, I‟rabnya dan kata juga buku „Ma‟ani al-Qur‟an karangan al-Akhfasy w 215, dia lebih perhatian pada suara, sifat dan tempat keluarnya umum beliau menjelaskan tafsirnya secara bahasa, sharaf, nahwu dan balaghah. Dengan meluasnya ruang analisa bahasa dalam tafsir kata-kata dalam al-Qur‟an, maka perkembangan selanjutnya terjadi keluasan ruang analisa dalam istinbat penetapan hukum fiqih, hal ini sesuai dengan perkembangan yang maju pada madrasah-madrasah fiqih di dunia Islam. Mereka mulai mempelajari nash al-Qur‟an dari segi fiqihnya saja. Oleh karena itu muncullah buku „Ahkam al-Qur‟an‟ karangan imam Syafi‟i w 204 H, selain itu, pengikut madzhab Maliki juga menulis hal yang sama seperti Ismail bin Ishaq al-Qadhi w 282 H. begitu juga madzhab Hanafi seperti imam Al-Thahawi w 321 periode ini juga, mucul pembukuan-pembukuan cabang ilmu-ilmu al-Qur‟an seperti buku-buku tentang asbab nuzul, salah . Muhammad Husain al-dzahabi, al-Tafsir wa al Musfassirun, Kairo Maktabah Wahbah, 1976 M Juz 1/100. . Muhsin abd al-Hamid, Tathawur Tafsir al-Qur‟ 50. . Misy‟an al-Aisawi, al-Tafsir al-Tahlili; Tarikh wa al-Tathawur, al-Mu‟tamar al-Ilm al-Thani li-Kulliyah al-Ulum al-Islamiyah, 2012 M, hal 66. Mengenal Metode Tafsir Tahlili satunya yang ditulis oleh guru imam bukhari, Ali bin Al-Madini w 234. Terbukukan juga ilmu qira‟at seperti buku Abi Ubaid bin Salam w 224. Ahmad bin Zubair al-Kufi dan Ismail bin Ishaq al-Qadhi 282 H. Dibukukan juga ilmu naskh wa mansukh, yang buat oleh Qatadah al-Sadusi, Ibnu Syihab al-Zuhri, dan Muqatil bin Sulaiman Periode keempat, periode penggabungan dari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir. Buku yang paling lama dengan metode tahlili adalah buku yang ditulim oleh imam Muhammad bin Jarir al-Tabari w 310. Beliau menulis kitab tafsirnya dengan metode yang komprehensif dalam mempelajari nash al-Qur‟an. Imam Suyuti rhm mengatakan,kitab tafsir al-tabari adalak kitab tafsir yang paling agung lagi mulia, karena di dalamnya dipaparkan perkataan-perkataan sahabat, tabi‟in dan ulama dan juga I‟rab dan instinbat dari itu, tafsir ini lebih dalam dan luas dari tafsir-tafsir al-Nawawi rhm mengatakan juga tentang tafsir al-Tabari, umat sepakat bahwa belum terdapat kitab yang disusun seperti tafsir demikian, imam al-tabari adalah orang pertama yang meniti jalan tafsir tahlili dan ditulis dalam di dalamnya kaidah-kaidah ilmu ini dan langkah-langkahnya. Imam al Zarkasyi rhm mengatakan bahwa sesungguhnya Muhammad bin Jarir al-Tabari mengabarkan kepada seluruh manusia tentang penafsiran yang beragam, dan mendekatkan sesuatu yang dapat kita katakana bahwa tafsir Ibnu Jarir al-Tabari memiliki keutamaan tersendiri dari kitab-kitab tafsir lainnya baik dari segi waktu, segi faniyah, dan segi pembuatannya. Setelah imam al-Tabari, imam al-Tsa‟labi al-Naisaburi w 427 Hmembuat kitab tafsir al-Qur‟ penafsiranyya, beliau terpengaruh dengan metode yang digunakan oleh imam mengatakan di dalam pengantar kitab tafsirnya, bahwa beliau menyebutkan pendapat 14 ahli nahwu dalam . Abd al-Rahman al-Suyuti, al Itqan fi „Ulum al-Qur‟an, Madinah Munawarah Majma‟ al-Malik al-Fahd, 1426H 4/212. . Muhyiddin Syarof al-Nawawi, Tahdzib al-Asma‟ wa al-Lugat Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyah1/78 . Muhammad Abdullah al-Zarkasyi, Al-Burhan fi „Ulum al-Qur‟an Kairo Dar l-Turats, 1984 juz 2/76. . Ahmad Al-Tsa‟labi, al-Kasyf wa al-Bayan, Beirut Dar al-Ihya‟ al-Turats al-Arabi 2002 M juz 1/75. Mengenal Metode Tafsir Tahlili juga muncul kitab tafsir „Ma‟alim al-Tanzil‟ karangan imam al-Bagawi w 516. Tafsir yang lebih jelas dan dalam lagi dalam penggunaan metode tahlili adalah tafsir Ibnu Hayyan al-Andalusi w 745, beliau menulis tafsir yang bernama „al-Bahr al-Muhi>th‟. Ibnu Hayyan dalam pengantar bukunya menjelaskan langkah-langkahnya dalam menafsirkan al-Qur‟an secara terperinci dan mengawali penafsiran ayat dengan menjelaskan mufradat ayat, yakni kata-perkata dijelaskan makna bahasa dan beliau menjelaskan tafsir ayat dengan menyebutkan sebab nuzul ayat, jika memiliki asbab nuzul. Kemudian beliau menjelaskan nasakh atau tidaknya ayat yang dibahas, dan menyebutkan keterkaitan ayat dengan ayat sebelumnya, atau surat sebelumnya. Beliau juga menjelaskan macam-macam qiraat yang mutawatir dan Ragam Metode Tafsir Tahlili Dalam perkembangan penafsiran al-qur‟an, metode tafsir tahlili memiliki ragam penggabungan antara metode tafsir tahlili dengan pendekatan tafsir bil ma‟tsur dan tafsir bil ra‟yi dirayah.Oleh karena itu, tafsir tahlili –minimalnya- memiliki dua ragam; 1. Tafsir tahlili bil ma‟tsur Dalam hal ini, metode tafsir tahlili berusaha menjelaskan ayat-ayat secara terperinci dengan menggunakan pendekatan tafsir bil ma‟ yang dimaksud dengan tafsir bil ma‟tsur adalah penafsiran ayat-ayat al-Qur‟an berlandaskan pada penjelasan dalam ayat yang lain, dan pada hadits-hadits nabawi, dan pada perkataan para sahabat dan tabi‟in. Di antara tafsir tahlili yang menggunaka pendekatan tafsir bil ma‟tsur yaitu; a. Tafsir Jami‟ al-Bayan fi Ta‟wil ayat al Qur‟an, b. Ma‟alim Tanzil tafsir al-Qur‟an al-Adzim, Ibnu al-Durr al-Ma‟tsur fi al Tafsir bi al-Ma‟tsur Suyuti. E, . Muhammad Yusuf, Abu Hayyan, Al-Bahru al-Muhith Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993 juz 1/103. Mengenal Metode Tafsir Tahlili 2. Tafsir tahlili bil ra‟yi Ragam tafsir tahlili yang kedua adalah penggunaan pendekatan tafsir bil Ra‟ dalam penjelasan tafsir tahlili ini, mufasir menggunakan sumber ra‟yu yang didukung dengan kaidah-kaidah tafsir dan cabang-cabang ilmu tafsir. Di antara tafsir tahlili yang menggunakan pendekatan tafsir bil ra‟yi yaitu; a. Tafsir al-Khazin, al-Khazin. B, Anwar Tanzil wa Asrar Al-Ta‟wil,al-Baydhawi. C, Tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Qur‟an, Thanthawi tafsir al-Manar, Muhammad Rasyid. G. Langkah Penafsiran Tahlili Tidak terhenti perjalanan tafsir tahlili sampai pada ulama terdahulu tafsir tahlili sampai saat ini masih relevan dan dapat digunakan dalam penafsiran al-Qur‟an sebagaimana perkembangan kehidupan manusia secara ini ada beberapa langkah yang digunakan para ulama terdahulu dalam penafsiran al-Qur‟an dengan metode tahlili; Pertama, penjelasan makna kata dalam al-Qur‟ penjelasan asbab nuzul ayat sebab turunnya ayat. Ketiga, penjelasan munasabah antar ayat dan surat sebelumnya. Keempat, penjelasan I‟rab ayat dan macam-macam qiraat ayat. Kelima, penjelasan kandungan balagahnya dan keindahan susunan kalimatnya. Keenam, penjelasan hukum fiqih yang diambil dari ayat. Ketujuh, penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. Tujuh point inilah yang merupakan inti dalam metode tafsir tahlili, yang digunakan oleh para ahli tafsir terdahulu dalam buku tafsir saja langkah-langkah di atas bukan berarti harus berurutan seperti urutan di atas, tetapi itu adalah langkah secara umum para ahli tafsir dalam metode sebagian ahli tafsir tidak menggunakan salah satu langkah yang di sebagian mufasir mengedepankan makna umum dari pada penjelasan I‟rab, sesuai yang dipandang penting oleh ahli tafsir penulis dalam tafsirnya. Sebagaimana juga ada mufassir yang tidak mengelompokkan tafsirnya seperti di atas, akan tetapi mufassir menjelaskan tafsirnya secara natsryakni campur dan menyatu antara penjelasan makna dan penjelasan lainnya. Pada zaman kontemporer sekarang ini, Nampak jelas ada perhatian serius ada metode ini. Yakni ada tambahan langkah-langkah Mengenal Metode Tafsir Tahlili baru dari sebelumnya, atau ada pembagian bab yang jelas secara berurutan, sehingga dapat dipahami dengan mudah. Perkembangan ini banyak terjadi pada dunia akademisi, terkhusus pada akademisi jurusan tafsir, baik tafsir surat tertentu ataupun tafsir al-Qur‟an secara keseluruhan. Di antara tema bab yang ditawarkan dalam metode tafsir tahlili ini sebagai berikut pertama, Apa faidah dari nash ayat , kedua, Hikmah pensyariatan dalam ayat, ketiga, I‟jaz keilmuan dalam nash al-Qur‟an, keempat, Penjelasan historis masyarakat saat ayat turun, kelima, Kandungan pengetahuan individu dan sosial kontemporer. 1. Apa faidah dari nash ayat Nash al-Qur‟an mengandung banyak petunjuk, makna, dan ini menunjukkan tingkatan tertinggi kefasihan bahasa dan itu juga, ada faidah yang diambil dari nash ayat dan ruhnya, tetapi faidah ini mengantarkan pada faidah dalam kehidupan ilmiah. Adanya langkah ini akan menjadi mengingat bagi pembacanya, atau memberikan ringkasan baginya. langkah ini terkadang dengan nama lain seperti; Hidayah ayat , Fawaid ayat , dan petunjuk ayat . 2. Hikmah pensyariatan dalam ayat Ini mungkin yang dibutuhkan dalam di masa sekarang besar masyarakat mencari penjelasan hikmah pensyariatan, agar hati mereka thuma‟ninah. Mereka menyadari bahwa apa yang dibawa islam dalam Al-Qur‟an selaras dengan akal, ilmu dan realita. Hal ini akan kita temukan dalam kitab-kitab tafsir modern seperti Rawa‟I al-bayan dan al-Tafsir al-Munir. 3. I‟jaz keilmuan dalam nash al-Qur‟an Ada beberapa ayat yang mengandung petunjuk pada bidang keilmuan dan penemuan ilmiah modern,seperti ilmu falak astronomi, , seperti yang dinamakan oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam kitab tafsirnya „Aisar al-Tafasir‟ . seperti yang dinamakan oleh Muhammad Nashir al-Umar dalam tafsirnya pada surat al-Hujurat. . seperti yang dinamakan oleh Muhammad Ali al-Shabuni dalam tafsir „Rawai‟ al-Bayan Fi Tafsir Ayat al-Ahkam‟. Mengenal Metode Tafsir Tahlili ilmu kedokteran dan al-Qur‟an bukan buku ilmu astronomi, kimia, kedokteran, hanya saja al-Qur‟an mengobati manusia dan membentuk psikologi, akhlak, dan diberikan ruang untuk meneliti dan eksperimen pada bidang ilmiah kauniyah. Para ulama kaum Muslimin juga memandang baik dalam mengambil manfaat dari hasil penelitian tentang alam, kehidupan, dan manusia untuk memahami al-Qur‟ itu dapat memperdalam pemahaman mengenai nash al-Qur‟an. Hanya saja tidak boleh untuk memperkuat pendapat perorangan sedangkan tidak ada korinah yang kuat. 4. Penjelasan historis masyarakat sosiologis saat ayat turun Kondisi masyarakat atau kejadian yang terjadi sebelum turunya ayat al-Qur‟an atau apa yang terjadi di masa Nabi Muhammad saw sangat membutuhkan perincian dan penjelasan yang cukup. Sehingga pembaca dapat memahami petunjuk ayat secara ada isyarat pada beberapa kejadian yang membutuhkan pengetahuan yang syamil komprehensif, dikarenakan ayat turun berkenaan tentang kejadian ayat-ayat permulaan pada surat al-Mujadilah juz 28. 5. Kandungan pengetahuan insani dan sosial kontemporer seperti ilmu psikologi, ilmu sosial, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa sebagian besar dari ilmu-ilmu yang ada di zaman sekarang ini memiliki dasar dan akar di dalam al-Qur‟ al-Suyuti mengatakan bahwa kitabullah al-Qur‟an mencakup segala sesuatu ilmu.Adapun berbagai beragam ilmu yang ada itu ada petunjuknya di dalam al-Qur‟an. Pada kesempatan yang lain imam Suyuti mengatakan bahwa al-Qur‟an berisikan juga ilmu-ilmu selain ilmu terdahulu, seperti kedokteran, arsitek, dan ulama tafsir tidak melarang untuk mengambil pengetahuan manusia dalam bidang ilmu apapun dan menjadikannya sebagai khidmah pada al-Qur‟an al-karim, bukan sebagai alat untuk menghukumi al-Qur‟an.. Imam Suyuti, al-Iklil fi istinbat al-Tartil. . Misy‟an al-Aisawi, al-Tafsir al-Tahlili; Tarikh wa al-Tathawur, al-Mu‟tamar al-Ilm al-Thani li-Kulliyah al-Ulum al-Islamiyah, 2012 M, hal 75-76 Mengenal Metode Tafsir Tahlili H. Kesimpulan Pada akhirnya, penulis mengatakan bahwa tafsir tahlili merupakan metode tafsir yang sebagian besar para ahli tafsir menggunakannya untuk berkhidmat pada kitab Allah ta‟ala. Para ahli tafsir tidak meninggalkan sesuatu yang mempedalam/memperluas ruang pemahaman ayat melainkan mereka akan menggunakan metode itu atau mengikut sertakan penjelasan itu. Akan tetapi ada perbedaan di antara mufassir itu merupakan antara ahli tafsir ada yang menjelaskan tafsirnya secara luas komprehensif, ada pula yang menjelaskan secara ringkas dan padat. Pada zaman kontemporer ini, ada penambahan dalam bab atau penjelasan dalam tafsir. Zaman ini telah memberikan saham dalam menjelaskan nash al-Qur‟an yang sesuai dengan tabiat zamannya. Muncul di zaman ini tafsir ilmi, yang merupakan bukti kebenaran firman Allah dalam bidang a‟lam Mengenal Metode Tafsir Tahlili DAFTAR PUSTAKA Muhammad Al-Razi, Mukhtar Al Shihah, Kairo Al-Saktah Al-Jadid, 1329H Muhsin Abd Al-Hamid, Tatawur Tafsir Al-Qur‟an. Abd Al-Rahman Al-Suyuti, Al Itqan Fi „Ulum Al-Qur‟an, Madinah Munawarah Majma‟ Al-Malik Al-Fahd, 1426H Muhammad Husain Al-Dzahabi, Al-Tafsir Wa Al Musfassirun, Kairo Maktabah Wahbah, 1976 M Misy‟an Al-Aisawi, Al-Tafsir Al-Tahlili; Tarikh Wa Al-Tathawur, Al-Mu‟tamar Al-Ilm Al-Thani Li-Kulliyah Al-Ulum Al-Islamiyah, 2012 M. Abd Al-Rahman Al-Suyuti, Al Itqan Fi „Ulum Al-Qur‟an, Madinah Munawarah Majma‟ Al-Malik Al-Fahd, 1426H Muhyiddin Syarof Al-Nawawi, Tahdzib Al-Asma‟ Wa Al-Lugat Beirut Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah Muhammad Abd Al Adzim Al-Zarqani, Manahil Al Urfan Fi Ilm Al Qur‟an Beirut Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1995 M. Muhammad Abdullah Al-Zarkasyi, Al-Burhan Fi „Ulum Al-Qur‟an Kairo Dar L-Turats, 1984 M. Ahmad Al-Tsa‟labi, Al-Kasyf Wa Al-Bayan, Beirut Dar Al-Ihya‟ Al-Turats Al-Arabi 2002 M Muhammad Yusuf, Abu Hayyan, Al-Bahru Al-Muhith Beirut Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1993 Juz 1/103. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur‟an Jakarta Pustaka Pelajar, 1988. Definition Of Method, Accessed Oktober 2017. Https// Definisi Kata Metode, Diakses Oktober 2017, Https// Ahmad Bin Faris, Mu‟jam Maqayis Dar Al-Fikr, 1979 M. Musa‟id Al-Tayyar, Su‟al An Al-Tafsir Al-Tahlili, Http// Mengenal Metode Tafsir Tahlili ... Menurut kajian Muhammad Salih al-Din 2010, Dr. Wahbah menggunakan metode penafsiran secara taḥlīlī, iaitu mentafsirkan al-Quran mengikut tertib dan urutan yang sama dengan yang tertulis di mushaf. Hal ini juga selari dengan kajian Rokim 2017 yang menegaskan bahawa salah satu langkah pentafsiran al-Quran oleh ulama terdahulu yang menggunakan metode taḥlīlī ialah menerangkan maksud perkataan dalam al-Quran, menyatakan asbāb al-nuzūl, munāsabāt antara surah dan surah, i'rāb dan pelbagai qirā'at. Selain daripada itu penjelasan kandungan balāgahnya dan keindahan susunan kalimatnya, penjelasan hukum fekah yang diambil dari ayat dan penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. ...... Kajian Rokim 2017 menjelaskan bahawa kitab al-Tafsīr al-Munīr adalah antara kitab yang membincangkan hikmah sesuatu hukum itu disyariatkan dan perkara ini amat diperlukan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Boleh dikatakan setiap perkara yang disyariatkan, Dr. Wahbah akan menyertakannya seperti hikmah pengucapan sumpah dalam li'ān secara berulang-ulang ketika menghuraikan ayat 6-10 dalam bahagian al-fiqh wa al-ḥayāh. ... Miftah Khilmi HidayatullohThe 19th century was the century of colonialization of the Islamic world. At that time, Abduh offered the tajdid idea through the Qur'an interpretation as a response to the condition of Muslims who were slumped and colonized by the West. The researcher examines more deeply the intellectual history of Abduh's interpretation, by describing the conditions before Abduh's interpretation was delivered genesis and the conditions after impact. Lacapra's theory of intellectual history is used to deepen this research by describing the six contexts surrounding Abduh's interpretation, namely intentions, motivation, society, culture, corpus, and structure/ analogous concepts. The results of the preliminary research that we have done state that Abduh offers a simple, pro-science, and socially-styled interpretation of the Qur'an so that it can be a source of guidance for Muslims who are being colonized to regain happiness in the world and the hereafter.... Menurut kajian Muhammad Salih al-Din 2010, Dr. Wahbah menggunakan metode penafsiran secara taḥlīlī, iaitu mentafsirkan al-Quran mengikut tertib dan urutan yang sama dengan yang tertulis di mushaf. Hal ini juga selari dengan kajian Rokim 2017 yang menegaskan bahawa salah satu langkah pentafsiran al-Quran oleh ulama terdahulu yang menggunakan metode taḥlīlī ialah menerangkan maksud perkataan dalam al-Quran, menyatakan asbāb al-nuzūl, munāsabāt antara surah dan surah, i'rāb dan pelbagai qirā'at. Selain daripada itu penjelasan kandungan balāgahnya dan keindahan susunan kalimatnya, penjelasan hukum fekah yang diambil dari ayat dan penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. ...... Kajian Rokim 2017 menjelaskan bahawa kitab al-Tafsīr al-Munīr adalah antara kitab yang membincangkan hikmah sesuatu hukum itu disyariatkan dan perkara ini amat diperlukan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Boleh dikatakan setiap perkara yang disyariatkan, Dr. Wahbah akan menyertakannya seperti hikmah pengucapan sumpah dalam li'ān secara berulang-ulang ketika menghuraikan ayat 6-10 dalam bahagian al-fiqh wa al-ḥayāh. ...... Menurut kajian Muhammad Salih al-Din 2010, Dr. Wahbah menggunakan metode penafsiran secara taḥlīlī, iaitu mentafsirkan al-Quran mengikut tertib dan urutan yang sama dengan yang tertulis di mushaf. Hal ini juga selari dengan kajian Rokim 2017 yang menegaskan bahawa salah satu langkah pentafsiran al-Quran oleh ulama terdahulu yang menggunakan metode taḥlīlī ialah menerangkan maksud perkataan dalam al-Quran, menyatakan asbāb al-nuzūl, munāsabāt antara surah dan surah, i'rāb dan pelbagai qirā'at. Selain daripada itu penjelasan kandungan balāgahnya dan keindahan susunan kalimatnya, penjelasan hukum fekah yang diambil dari ayat dan penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. ...... Kajian Rokim 2017 menjelaskan bahawa kitab al-Tafsīr al-Munīr adalah antara kitab yang membincangkan hikmah sesuatu hukum itu disyariatkan dan perkara ini amat diperlukan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Boleh dikatakan setiap perkara yang disyariatkan, Dr. Wahbah akan menyertakannya seperti hikmah pengucapan sumpah dalam li'ān secara berulang-ulang ketika menghuraikan ayat 6-10 dalam bahagian al-fiqh wa al-ḥayāh. ...... Menurut kajian Muhammad Salih al-Din 2010, Dr. Wahbah menggunakan metode penafsiran secara taḥlīlī, iaitu mentafsirkan al-Quran mengikut tertib dan urutan yang sama dengan yang tertulis di mushaf. Hal ini juga selari dengan kajian Rokim 2017 yang menegaskan bahawa salah satu langkah pentafsiran al-Quran oleh ulama terdahulu yang menggunakan metode taḥlīlī ialah menerangkan maksud perkataan dalam al-Quran, menyatakan asbāb al-nuzūl, munāsabāt antara surah dan surah, i'rāb dan pelbagai qirā'at. Selain daripada itu penjelasan kandungan balāgahnya dan keindahan susunan kalimatnya, penjelasan hukum fekah yang diambil dari ayat dan penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. ...... Kajian Rokim 2017 menjelaskan bahawa kitab al-Tafsīr al-Munīr adalah antara kitab yang membincangkan hikmah sesuatu hukum itu disyariatkan dan perkara ini amat diperlukan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Boleh dikatakan setiap perkara yang disyariatkan, Dr. Wahbah akan menyertakannya seperti hikmah pengucapan sumpah dalam li'ān secara berulang-ulang ketika menghuraikan ayat 6-10 dalam bahagian al-fiqh wa al-ḥayāh. ...... Menurut kajian Muhammad Salih al-Din 2010, Dr. Wahbah menggunakan metode penafsiran secara taḥlīlī, iaitu mentafsirkan al-Quran mengikut tertib dan urutan yang sama dengan yang tertulis di mushaf. Hal ini juga selari dengan kajian Rokim 2017 yang menegaskan bahawa salah satu langkah pentafsiran al-Quran oleh ulama terdahulu yang menggunakan metode taḥlīlī ialah menerangkan maksud perkataan dalam al-Quran, menyatakan asbāb al-nuzūl, munāsabāt antara surah dan surah, i'rāb dan pelbagai qirā'at. Selain daripada itu penjelasan kandungan balāgahnya dan keindahan susunan kalimatnya, penjelasan hukum fekah yang diambil dari ayat dan penjelasan makna umum dari ayat dan petunjuk-petunjuknya. ...... Kajian Rokim 2017 menjelaskan bahawa kitab al-Tafsīr al-Munīr adalah antara kitab yang membincangkan hikmah sesuatu hukum itu disyariatkan dan perkara ini amat diperlukan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Boleh dikatakan setiap perkara yang disyariatkan, Dr. Wahbah akan menyertakannya seperti hikmah pengucapan sumpah dalam li'ān secara berulang-ulang ketika menghuraikan ayat 6-10 dalam bahagian al-fiqh wa al-ḥayāh. ...... Jika suatu produk tafsir dituliskan berdasarkan tartīb al-ayah wa al-suwar maka dapat diketahui bahwa metode yang digunakan dalam tafsir tersebut adalah ijmāli dan taḥlili. Untuk membedakan kedua metode tersebut, dapatlah dilihat dari panjang dan pendeknya penjelasan yang terdapat di dalamnya Rokim, 2017. Jika penjelasan di dalamnya dijelaskan secara umum, maka metode yang digunakan adalah ijmāli dan jika penjelasan di dalamnya dijelaskan secara panjang lebar menyentuh berbagai aspek, maka metode yang digunakan adalah metode taḥlili. ...Akhdiat AkhdiatAbdul KholiqPenafsiran Al-Qur’an telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW sampai dengan sekarang ini. Suatu produk penafsiran yang muncul dari masa Nabi SAW sampai sekarang tentulah berbeda, baik dari metode maupun kesimpulan yang dihasilkan. Hal itu terjadi karena kebutuhan suatu penafsiran setiap masa selalu berbeda-beda. Di samping itu munculnya anggapan bahwa produk tafsiran lama tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman akan setiap permasalahan manusia. Maka karena itu, dari empat metode yang sudah disimpulkan oleh Al-Farmawi, yaitu ijmāli, taḥlīli, muqāran, dan metode mauḍū’i, penulis mencoba untuk membahas metode ijmāli. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas kemunculan tafsir ijmāli, dasar dan urgensi tafsir ijmāli, langkah-langkah tafsir ijmāli dan kelebihan serta kekurangan tafsir ijmāli. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif berbasis library research dengan pendekatan analisis-deskriptif. Berdasarkan metode tersebut, artikel ini menemukan hasil bahwa metode ijmāli muncul pertama kali pada masa Nabi SAW. Tafsir ijmāli adalah metode penafsiran Al-Qur’an dengan penjelasan singkat, global dan tidak panjang lebar. Dan metode ini sangat cocok untuk digunakan bagi pemula dan orang awam dalam memahami Al-Qur’an. Adapun langkah-langkahnya adalah menguraikan ayat secara sistematika Al-Qur’an, menjelaskan secara umum serta makna mufradatnya, berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab, dan bahasa yang digunakan mengupayakan pemilihan diksi yang mirip dengan lafadz yang digunakan oleh Al-Qur’an. Di samping itu metode ijmāli memiliki kelebihan jelas dan mudah dipahami, terbebas dari penafsiran israiliyat dan dekat dengan bahasa Al-Qur’an. Sedangkan kekurangannya adalah petunjuk Al-Qur’an yang tidak utuh/parsial dan penafsiran dangkal atau tidak menyeluruh.... Metode ini menafsirkan dengan pola ma'tsur dan ra'yi. Pemaknaan teks dilaksanakan secara utuh yang disertai pencantuman asbabun nuzul, munasabah antar ayat, dan pengertian setiap kosakata yang terbilang sulit Rokim, 2017. Perkembangan metode ini terbagi pada tiga periode. ...Ihsan ImadudinAini Qurotul AinTulisan ini bertujuan untuk memetakan kategorisasi tafsir serta problematikanya dengan meninjau dari tiga aspek yaitu sumber, metode, dan corak penafsirannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan library research atau studi pustaka. Hasil studi menunjukan bahwa dari segi sumber tafsir terbagi menjadi dua kategori yaitu sumber primer atau tafsir bil ma’tsur dan sumber sekunder atau tafsir bil ra’yi. Ditinjau dari segi metode, tafsir terbagi menjadi empat kategori yaitu tahlili, ijmail, moqaran dan maudhu’i. Ditinjau dari segi corak, kategori tafsir memilik variasi corak yang sangat banyak di antaranya corak lughawi, hukmi, falsafi, sastra, ilmi, adab ijtima’i, dan akan terus muncul corak baru sesuai dengan perkembangan zaman. Kategorisasi tafsir ini hasil selain mempermudah dalam pemetaan keilmuan Al-Qur’an, dalam prosesmya ternyata menemui beberapa problematika terutama dalam aspek aksiologi dan SalsabilaThis study aims to discuss the concept of covering the genitals from the perspective of the Qur'an in Surah An-Nur verse 31 from the perspective of Karim's interpretation of the Qur'an and the interpretation of An-Nur. This research method is qualitative through literature study with a fiqh approach. This study concludes that there are similarities in the interpretation of women's genitalia according to the interpretation of the Qur'an Karim by Mahmud Yunus and the interpretation of An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy, namely all parts of the body except the face, the palms of the hands and the soles of the feet, both of which refer to the opinion of Ibn Abbas. However, there is also a difference in the limits of a woman, according to the interpretation of the Qur'an Karim by Mahmud Yunus, a woman's half arm and half calf can be seen because these body parts are usually seen when working, this refers to the opinion of the Hanafi school. According to Hasbi Ash-Shiddieqy's interpretation of An-Nur, shaking hands with non-mahrams is not haram, because women's palms are not part of the Azmi FaridaZainal AbidinAbstrak Karya tulis ini membahas peran penting sebagai media yang menyuarakan moderasi Islam. Dalam konteks saat ini, suara kelompok konservatif-Islamis masih mendominasi dunia maya, sehingga perlu melakukan langkah strategis untuk membalikkan keadaan. Langkah strategis ini disebut sebagai gerakan Escape from Echo Chamber Keluar dari Ruang Gema. Echo Chamber sesungguhnya berupa algoritma digital yang memudahkan pencarian konten sesuai keinginan pengguna media sosial. Namun, lama-kelamaan Echo Chamber menjadi ruang eksklusif yang tertutup. Algortima ini dikhawatirkan karena kondisi sekarang masih didominasi oleh kelompok konservatif-islamis. Maka, Peran penting dalam menyuarakan moderasi Islam perlu hadir secara maksimal. Terlebih, konten tafsir digital menjadi rujukan karena slogan kembali ke Al-Qur’an dan hadis semakin eksis di Indonesia. Sebagai penelitian kualitatif, karya tulis ini dideskripsikan secara analitik, Adapun hasil penelitian ini yaitu gerakan Escape from Echo Chamber dimaknai sebagai upaya untuk sosialisasi tafsir digital yang moderat secara nyata, baik melalui kunjungan ke instansi pendidikan ataupun melalui festival keagamaan khas anak muda. Kata Kunci Tafsir Digital, Escape from Echo ChamberAhmad Fadhil RizkiSudirman M. Johan Afrizal NurThe Phenomena that occur at this time are very detrimental to society, namely conflicts and wars that occur at every point in the world since ancient times until now it will never end and will continue until the future because there is no solution in it, but in the Al-Quran, Allah SWT told a story about the politic of Balqis in the letter Al-Naml verses 32-35, namely a queen who was able to solve the war problems that would be faced with good and wise when getting a letter from the Prophet Sulaiman as containing invitation to believe in Allah SWT or will be fought if refused it, she was not in a hurry in making decision. First, she held a deliberation with her dignitaries to get the best suggestions and opinions, Second, think carefully even though she had a large amount, complete weapons and trained troops, but she also thought about the risks that would be faced after the war, Third, taking lessons from previous historical experience if the kings have fought and won, they would ruin the place and hold people to be their slaves. Fourth, from the deliberation, she considered sending a gift to the Prophet Sulaiman to change his decision, Fifth, after careful consideration, the queen of balqis decided to make peace because if she made a wrong decision the people of Sabaq would become victims of the war, from the story above, it can be concluded that the deliberation is a solution for the people to achieve the best consideration, mutual agreement and bring peace to each community and Al-Qur"an Kairo Dar L-TuratsAl-Burhan FiMuhammad Abdullah Al-Zarkasyi, Al-Burhan Fi "Ulum Al-Qur"an Kairo Dar L-Turats, 1984 Penafsiran Al-Qur"an Jakarta Pustaka PelajarNashruddin BaidanNashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur"an Jakarta Pustaka Pelajar, 1988.
BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangAl-Qur’an adalah kallamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup umat manusia agar bisa selamat di dunia dan di akhirat. Maka dari itu, kita sebagai umat manusia harus bisa memahami isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk bisa memahami isi kandungannya lahirlah ilmu tafsir menurut beberapa ulama dibagi menjadi empat macam yaitu, tafsir Tahlili, tafsir Ijmali, tafsir Muqaran, dan tafsir Mawdlu’i. Namun, yang akan kita bahas kali ini yaitu tentang tafsir Tahlili adalah ilmu tafsir yang menafsirkan Al-Qur’an secara detail dari mulai ayat demi ayat, surat demi surat ditafsirkan secara berurutan, selain itu juga tafsir ini mengkaji Al-Qur’an dari semua segi dan maknanya. Tafsir ini juga lebih sering digunakan daripada tafsir-tafsir yang ulama membagi tafsir Tahlili menjadi beberapa macam yaitu, tafsir ma’tsur, tafsir ra’yi, tafsir Shufi, tafsir Fikih, tafsir Falsafi, tafsir Ilmi, dan tafsir Adab Al-Ijtima’i. Dan untuk lebih jelasnya tentang tafsir Tahlili akan dibahas pada bab Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan tafsir Tahlili?2. Bagaimana ciri-ciri dari tafsir Tahlili?3. Apa Contoh tafsir Tahlili?4. Apa keistimewaan dan kelemahan tafsir Tahlili?BAB IIPEMBAHASANA. Pengertian Tafsir Tahlili Tafsir Tahlili merupakan metode tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.[1] Selain itu, ada juga yang menyebutkan tafsir tahlili adalah tafsir yng mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dari segala segi dan maknanya. Seorang pengkaji dengan metode ini menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutan dalam mushhaf Utsmany. Untuk itu ia menguraikan kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur i’jaz, balaghah dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang diistinbathkan dari ayat, yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, aqidah atau tauhid, perintah, larangan, janji, ancaman, haqiqat, majaz, kinayah, dan isti’arah. Di samping itu juga mengemukakan kaitan antara ayat-ayat dan relevansinya dengan surat sebelum dan sesudahnya . Dengan demikian sebab nuzul ayat atau sebab-sebab turun ayat, Hadits-hadits Rosulloh SAW dan pendapat para sahabat dan tabi’in-tabi’in sangat dibutuhkan. Maka, tafsir tahlili merupakan ilmu tafsr yang menafsirka ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan dari ayat per ayat sesuai urutan pada mushaf utsmani, menjelaskan setiap ayatnya secara detail yang meliputi beberapa hal antara lain, isi kandungan ayatnya, asbab al nuzulnya, dan lain-lain. Metode tafsir Tahlili ini sering dipergunakan oleh kebanyakan ulama pada masa-masa dahulu. Namun, sekarangpun masih digunakan. Para ulama ada yang mengemukakan kesemua hal tersebut di atas dengan panjang lebar ithnab, seperti Al-Alusy, Al-Fakhr Al-Razy, Al-Qurthuby dan Ibn Jarir Al-Thabary. Ada juga yang menemukakan secara singkat ijaz, seperti Jalal al-Din Al-Shuyuthy, Jalal al-Din Al-Mahally dan Al-Sayyid Muhammad Farid Wajdi. Ada pula yang mengambil pertengahan musawah, seperti Imam Al-Baydlawy, Syeikh Muhammad Abduh, Al-Naysabury, dll. Semua ulama di atas sekalipun mereka sama-sama menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan metode Tahlili, akan tetapi corak Tahlili masing-masing berbeda. [2]Para ulama telah membagi wujud metode tafsir Tahlili menjadi tujuh macam, yaitu tafsir bil Ma’tsuri, tafsir bir Ra’yi, tafsir Shufi, tafsir Fikih, tafsir Falsafi, tafsir Ilmi, tafsir Adab al-ijtimi’ Tafsir Tahlili bentuk Ma’tsuri / tafir bi al-Ma’tsuri riwayatTafsir bil Ma’tsuri yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat lain, dengan sunnah Nabi SAW, dengan pendapat sahabat Nabi SAW, dan dengan perkataan tabi’in. Menurut Subhi as-Shalih, bentuk tafsir seperti ini sangat rentan terhadap masuknya pendapat-pendapat di luar Islam, seperti kaum zindiq Yahudi, Parsi, dan Parsi, dan masuknya hadits-hadits yang tidak shahih.[3]2. Tafsir Tahlili Bentuk bir Ra’yi / tafsir bi al-Ra’yiTafsir bir Ra’yi merupakan cara penafsiran Al-Qur’an dengan dan penalaran dari mufasir itu sendiri. Mufasir dalam metode ini diberi kebebasan dalam berpikir untuk menafsirkan Al-Qur’an. Hal tersebut tentu dibatasi oleh kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur’an, agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang dalam menafsirkan Al-Qur’ Tafsir Tahlily Bentuk ShufiTafsir Shufi mulai berkembang ketika ilmu-ilmu agama dan sains mengalami kemajuan pesat serta kebudayaan Islam tersebar di seliruh pelosok dunia dan mengalami kebangkitan dalam segala seginya. Tafsir ini lebih menekankan pada aspek dan dari sudut esoterik atau isyarat-isyarat yang tersirat dari ayat oleh para tasawuf. Metode bentuk ini dibagi menjadi dua yaitu, teoritis dan praktis. Dalam bentuk teoritis, mufasir menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan mazhabnya dan sesuai dengan ajaran-ajaran mereka. Mereka menta’wilkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penjelasan yang menyimpang dari pengertian tekstual yang telah dikenal dan didukung oleh dalili Syar’i. Sedangkan dalam bentuk praktis, mufasir menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berdasarkan isyarat-isyara tersembunyi. 4. Tafsir Tahlili Bentuk Fikih Tafsir Fikih adalah tafsir yang menekankan pada tinjauan hukum dari ayat yang di tafsirkan. Tafsir ini banyak di temukan dalam kitab-kitab fikih yang dikarang oleh imam-imam dari berbagai mazhab yang berbeda. 5. Tafsir Tahlili Bentuk Falsafi Tafsir Falsafi merupakan ilmu tafsir yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan filsafat. Pendekat filsafat yang digunakan adalah pendekatan yang berusaha melakukan sintesis dan siskretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat Al-Qur’an, selain itu juga menggunakan pendekatan yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. 6. Tafsir Tahlili Bentuk Ilmi Tafsir ini mulai muncul akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, sehingga tafsir ini dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan almiah atau dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan. Dalam tafsir ini mufasir berusaha mengkaji Al-Qur’an dengan dikaitkan dengan gejala atau fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Namun, yang sangat disayangkan adalah pada tafsir ini terbatas pada ayat-ayat tertentu dan bersifat parsial, terpisah dengan ayat-ayat lain yang berbicara pada masalah yang sama. 7. Tafsir Tahlili Bentuk Adab Al-Ijtima’i Adab Al Ijtima’i Tafsir adalah suatu metode tafsir yang coraknya menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat Al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemasyarakatan, serta usaha-usaha untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah kemasyarakatan berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dengan mengemukakannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan indah didengar. Jadi, metode tafsir tahlili ini dibagi oleh beberapa ulama menjadi beberapa macam, yaitu tafsir bi al-Ma’tsuri, bi al-Ra’yi, Shufi, Fikih, Falsafi, Ilmi, dan Adab al-Ijtima’i. Semua bentuk tafsir tahlili memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Tafsir bi al ma’tsuri adalah tafsir yang penafsirannya dengan menggunakan ayat-ayat lain, riwayah Nabi SAW, sahabat, dan tabi’in. Tafsir bi al ra’yi adalah tafsir yang penafsirannya menggunakan metode ijtihad dan penalaran. Tafsir shufi adalah tafsir yang menekankan pada isyarat-isyarat yang terdapat pada ayat yang dikemukakan oleh tasawuf. Tafsir fikih adalah tafsir yang menekankan pada tinjauan hukum dari ayat yang ditafsir. Tafsir falsafi adalah tafsir yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendekatan filsafat. Tafsir ilmu adalah tafsir yang menggunakan pendekatan ilmiah atau teori-teori ilmu pengetahuan. Dan yang terakhir tafsir adab al-ijtima’i adalah tafsir yang menjelaskan kepada hubungan dengan Ciri-ciri Tafsir Tahlili Metode Tafsir tahlili memiliki ciri khusus yang membedakannya dari metode tafsir lainnnya, ciri-ciri tersebut adalah 1. Mufasir menafsirkan ayat per ayat sesuai dengan urutan dalam mushaf ustmani, yaitu dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat Mufasir menjelaskan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an secara komprehensif dan menyeluruh, baik makna harfiah setiap kata maupun asbabun Bahasa yang digunakan metode tahlili tidak sesederhana yang dipakai metode tafsir Contoh-contoh Tafsir Tahlili Ada cukup banyak contoh tafsir tahlili, antara lain Contoh tafsir tahlili dalam bentuk bi al-ma’tsuri yang menafsirka Al-Qur’an dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Rasullullah SAW untuk menjelaskan sebagian kesulitan yang ditemui oleh para sahabat semasa Rasulullah SAW masih hidup. Seperti penafsiran hadits Rasulullah SAW terhadap pengertianالغضو ب عليهم dan الضا لين Al-Fatihah 7, penjelasan beliau tentang firman Allah الذ ين امنواولم يلبسواايمانهم بظلم Al-An’am 82 dan firman Allah يايهاالذين امنوااتقواالله ØÙ‚ تقاته Ali Imran 102 dan lain-lain. Contoh yang dalam bentuk shufi, yaitu Al-Alusy berkata tentang isyarat yang diberikan oleh firman Allah Al-Baqarah 45, sebagai berikut qãZŠÃètFó™$ur Îö9¢Ã9$$Ã/ Ão4qn=¢Ã9$ur 4 $pk¨XÃur ÃouŽÃ7s3s9 žwà ’n?tã tûüÃèñ»sƒÃ¸$ ÇÃÃÈ Artinya “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.Bahwa shalat adalah sarana untuk memusatkan dan mengkonsentrasikan hati untuk menangkap tajally penampakan diri Allah dan hal ini sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang luluh dan lunak hatinya untuk menerima cahaya-cahaya dari tajally-tajally Allah yang amat halus dan menangkap kekuasaan-Nya yang perkasa. Merekalah orang-orang yang yakin, bahwa mereka benar-benar berada di hadapan Allah dan hanya kepada-Nyalah mereka kembali, dengan menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan mereka fana’ dan meleburkannya ke dalam sifat-sifat Allah baqa’, sehingga mereka tidak menemukan selain eksistensi Allah sebagai Raja yang Maha Halus dan Maha beberapa contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa tafsir tahlili itu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan bentuknya atau mempunyai karakter tersendiri. Selain itu, masih ada banyak lagi contoh dari tafsir tahlili. Ada cukup banyak contoh kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir ini, antara lain - Jami’ al-Bayan fy Tafsir al-Qur’an, karangan Imam Ibn Jarir Al-Thabary- Ma’alim al-Tanzil yang dikenal dengan Al-Tafsir al-Manqul, karangan Imam Al-Baghawy- Madarik al –Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, karangan Al-Ustadz Mahmud Al-Nasafy- Anwar al-Tanzil wa Asrarnal-Ta’wil, karangan Al-Ustadz Al-Baydlawy- Tafsir Al-Qur’an al-Adhim, karangan Imam Al-Tustury- Haqaiq al-Tafsir, karangan Al-Allamah Al-Sulamy w. 421 H- Ahkam Al-Qur’an, karangan Al-Jasshash w. 370 H- Al-Jami’ li Al-Qurthuby w. 671 H- Mafatih al-Ghaib, karangan Al-Fakhr Al-Razi w. 606- At-Tafsir al-Ilm li al-Kauniyat al-Qur’an al-Karim, karya Hanafi Ahmad- Al-Islam Yatahadda, karangan Al-Allamah Wahid al-Din Khan- Tafsir al-Manar, karya Rasyid Ridha w. 1345 H- Tafsir Al-Qur’an al-Karim, karya Mahmud SalthutDan masih banyak lagi contoh kitab yang berdasarkan atau yang menggunakan metode tafsir tahlili ini.[4]D. Keistimewaan dan KelemahannyaDalam menganalisa tafsri tahlili, muncul beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan kegunaan metode penafasiran ini, diantaranya adalah apa keistimewaan dan kelemahan metode tafsir ini, dan bagaimana pula contohnya. Dalam bagian ini akan dibahas insya Allah mengenai keistimewaan dan juga kelemahan tafsir ini. Suatu metode yang dilahirkan seorang manusia, selalu saja memliki kelemahan dan keistimewaan. Demikian halnya juga dengan metode tahlili ini. Namun perlu disadari keistimewaan dan kelemahan yang dimaksud disini bukanlah suatu hal yang negatif, akan tetapi rujukan dalam ciri-ciri metode tafsir tahlili ditemukan beberapa keistimewaan diantaranya adalah tafsir ini biasanya selalu memaparkan beberapa hadist ataupun perkataan sahabat dan para tabiin, yang berkenaan dengan pokok pembahasan pada ayat. Juga didalamnya terdapat beberapa analisa mufassir mengenai hal-hal umum yang terjadi sesuai dengan ayat. Dengan demikian, informasi wawasan yang diberikan dalam tafsir ini sangat banyak dan lainnya adalah adanya potensi besar untuk memperkaya arti kata-kata dengan usaha penafsiran terhadap kosa-kata ayat. Potensi ini muncul dari luasnya sumber tafsir metode tahlili tersebut. Penafsiran kata dengan metode tahlili akan erat kaitannya dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan tidak tertutup kemungkinan bahwa kosa-kata ayat tersebut sedikit banyakanya bisa dijelaskan dengan kembali kepada arti kata tersebut seperti pemakaian aslinya. Pembuktian seperti ini akan banyak berkaitan dengan syair-syair lainnya adalah luasnya bahasan penafsiran. Pada dasarnya, selain kedetilan, keluasan bahasan juga menjadi salah satu ciri khusus yang membedakan tafsir tahlili dengan tafsir ijmali. Seperti disebutkan di atas, bahwa salah satu keistimewaan tafsir tahlili dibandingkan dengan tafsir ijmali adalah kedetilannya dalam menguraikan sebuah ayat. Sebuah ayat yang tidak ditafsirkan oleh metode ijmali kadang kala membutuhkan ruang yang banyak bila ditafsirkan dengan metode tahlili. Disamping keistimewaan, juga ada kelemahan. Namun sekali lagi kelemahan disini bukanlah merupakan kelemahan yang mengharuskan kita tidak menggunakan atau mengabaikan tafsir ini. Akan tetapi hendaknya dalam menyikapi kelemahan ini, kita haru dapat memilah milih beberapa informasi dan wawasan yang dipaparkan dalam metode penafsiran satu kelemahan yang sering disebutkan adalah berkenaan dengan Israiliyat yang mungkin terkadang masuk dalam informasi yang diberikan mufassir. Juga sama halnya dengan berbagai hadist lemah yang tidak selayaknya digunakan pada tempat dan kondisi sesuai. Akan tetapi dengan analisa kritis yang mendalam, kelemahan ini sangat mungkin untuk dihindarkan. Selayaknyalah memang seorang mufassir yang berkompeten untuk memberikan perhatian serius terhadap sumber informasi yang ia gunakan dalam menafsirkan sebuah ayat. Israiliyyat tidaklah begitu sulit untuk dikenali, konsepnya hanyalah apakah informasi tersebut mempunyai sumber yang jelas atau tidak, bila sumbernya jelas dan kuat maka informasi tersebut bisa dipakai dan pula dengan hadist-hadist dha’if ataupun pendapat-pedapat para sahabat maupun tabi’i. Hukum dasar hadist da’if adalah tidak boleh diamalkan, hal ini tentu saja berlaku dalam pemakaian sebagai sumber tafsir. Hadist dha’if tersebut hanya bisa dipakai sebagai penguat apabila ada hadist yang lebih kuat menjelaskan senada dengan hadist da’if lain tafsir tahlili adalah kesannya yang bertele-tele dan sistematis. Tapi apakah demikian adanya? Sepintas memang akan terlihat demikian karena tafsir tahlili membutuhkan wadah yang lebih banyak dan luas dibandingkan dengan tafsir ijmali. Pemakaian kata yang banyak tidak bisa dikatakan bertele-tele bila memang kajian tersebut membutuhkan wadah bahasa yang panjang untuk menguraikannya. Bertele-telenya sebuah penafsiran adalah dengan banyak kalimat-kalimat yang tidak berfungsi dengan baik dalam menguraikan ayat, seperti perulangan penjelasan, atau kiasan-kiasan yang tidak dan keluasan bahasan tafsir tahlili dalam menguraikan sebuah ayat tentu saja membutuhkan usaha yang lebih keras dan waktu yang lebih lama bagi seorang mufassir. Bagi beberapa golongan hal ini juga dianggap sebagai kelemahan dibandingkan dengan tafsir ijmali yang praktis dan metode tafsir tahlili dapat dirangkum sebagai berikut1. Sumber yang Analisa Kekayaan arti kosa-kata dalam Detil Sedangkan beberapa kelemahannya adalah1. Peluang untuk masuknya israiliyyat lebih Peluang untuk masuknya informasi yang tidak penting lebih Membutuhkan wadah, kata, waktu yang relatif lebih besar.[5]BAB IIIPENUTUPSimpulanTafsir Tahlili merupakan suatu metode tafsir Al-Qur’an yang cara penafsirannya dilakukan secara detail dari setiap ayat-ayat yang ditafsir. Aspek yang dibahas dalam metode tafsir tahlili, yaitu kosa kata, lafadz, arti yang dikehendaki, dan sasaran yang dituju dari kandungan ayat yang ditafsir, yaitu unsur ijaz, balaghah, dan keindahan kalimat. Aspek pembahasan makna dari ayat yang ditafsir, meliputi hukum fikih, dalil syar’i, norma-norma akhlak, akidah atau tauhid, perintah, larangan, janji, ancaman, dan lain-lain. Selain itu juga mengemukakan tentang kaitan ayat-ayat dan relevansinya dengan surat sebelum dan ini telah dibagi oleh beberapa ulama menjadi beberapa macam yaitu, tafsir ma’tsur, tafsir ra’i, tafsir Shufi, tafsir Fikih, tafsir Falsafi, tafsir Ilmi, dan tafsir Adab Al-Ijtima’i. Semua bentuk atau corak dari metode tafsir tahlili di atas memiliki karakter tersendiri, namun metode penafsirannya sama yaitu dengan menggunakan metode tafsir dari metode tafsir tahlili, antara lain- Mufasir menafsirkannya ayat per ayat secara berurutan sesuai dengan urutan pada mushaf Mufasir menjelaskan isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an secara konfrehensif dan Tafsir ini dijelaskan secara panjang banyak contoh dari metode tafsir tahlili ini, baik itu contoh ayat yang ditafsirkan dengan menggunakan metode tafsir tahlili maupun contoh kitab, atau mufasir yang menggunakan metode tafsir tahlili dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Adapun contoh dari kitab yang menggunakan tafsir tahlili, yaitu kitab Jami’ al-Bayan fy Tafsir al-Qur’an, karangan Imam Ibn Jarir Al-Thabary, Ma’alim al-Tanzil yang dikenal dengan Al-Tafsir al-Manqul, karangan Imam Al-Baghawy, dan masih ada banyak lagi contoh-contoh yang itu semua, metode tafsif tahlili ini juga memiliki beberapa keistimewaan dan kelemahan. Keistimewaan dari tafsir ini antara lain, ruang lingkupnya luas, memuat berbagai ide, metode tahlili adalah merupakan metode tertua dalam sejarah penafsiran Al-Quran, ayat-ayat al-Qur’an yang kita lihat sekarang urut-urutannya sesuai dengan mushaf, dan masih banyak lagi keistimewaan dari tafsir ini. Selain keistimewaan, adapun kelemahannya, yaitu Al-Qur’an sebagai petunjuk terlihat menjadi parsial, menghasilkan penafsiran yang subyektif, masuknya pemikiran isra’iliat, dan makalah dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan tentunya bagi penulis itu sendiri. Kritikan dan saran akan kami tunggu demi bertambah baiknya makalah PUSTAKA Nashruddin Ba’idan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta Glaguh UHIV , 1998. Ali Hasan Al-Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta PT Raja Grafindo Persada, 1994. Nur Kholis, Pengantar Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta Sukses offset, 2008. [1] Nashruddin Ba’idan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta Glaguh UHIV, 1998, h. 31 [2] Ali Hasan Al-Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta PT Raja Grafindo Persada,1994 , h. 41-42. [3] Nur Kholis, Pengantar Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta Sukses offset, 2008, [4] Ali Hasan Al-Aridl, Op. Cit.
METODE TAFSIR TAHLILI ABDULLAH KHUSAIRI Pendahuluan Salah satu dampak positif dari pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahya Purnama yang diduga menistakan agama oleh sebagian golongan ummat Islam adalah tafsir-tafsir al-Quran dibicarakan di ruang publik secara terbuka. Khususnya Surat al-Maidah ayat 51.[1] Terlepas kepentingan politik praktis kekuasaan yang telah mengitari persoalan penafsiran surat al-Maidah ayat 51 tersebut, yang jelas di panggung publik, media massa dan media sosial, tafsir al-Quran khusus ayat-ayat yang berkenaan dengan kepemimpinan telah disuarakan secara lantang. Persoalan serupa ini memang sering muncul dalam kontestasi politik menjelang dunia suksesi di daerah bahkan dalam Pemilihan Presiden.[2] Walau pun akhirnya, memang pendalaman kajian tafsir harus terus dipaparkan kepada publik agar tidak terjebak dalam logika sempit dan menjauhkan simpati dan menegasi keberagaman dan al-islam al-rahmat al-amin.[3] Kita tidak akan mengupas pro kontra penafsiran Surat al-Maidah ayat 51 tersebut. Peristiwa ini cukuplah menjadi titik balik bersama untuk mendalami lebih jauh metode-metode tafsir al-Quran. Perbedaan penafsiran adalah keniscayaan yang harus dihormati sejauh tidak memiliki efek negatif dan berlawanan maksud kehadiran al-Quran sebagai petunjuk bagi ummat manusia al-hudan al-nash.[4] Melanjutkan materi kuliah Quranic Exgesis of Methode, setelah kita mengenal beberapa pendekatan dalam tafsir bi al ma'tsur dan bi al-ra'yi, corak-corak penafsiran, faktor-faktor penyebab penyimpangan dalam tafsir, kaidah-kaidah dalam penafsiran, dsb. maka pada makalah ini akan khusus mengupas Metode Tafsir Tahlili. Metode Tafsir Tahlili merupakan satu dari empat metode tafsir yang dibahas dalam memelajari Ilmu Tafsir. Empat metode tersebut adalah, Metode Tafsir Ijmali, Metode Tafsir Tahlili, Metode Tafsir Maudhu'i dan Metode Tafsir Muqarin.[5] Makalah ini akan memaparkan pengertian, ciri-ciri dan contoh-contoh kitab-kitab Tafsir Tahlili, contoh-contoh penafsiran, kelebihan dan kelemahan, serta pendapat penulis. Pengertian Secara bahasa al lughah, kata Tahliliy berasal dari akar kata bahasa arab, hallala-yuhallilu-tahlilan. Artinya, analisa atau menguraikan. Bahasa Inggrisnya, to analize, detailing.[6] Demikian arti dari segi bahasa al lughah. Secara istilah, menurut M. Quraish Shihab, Metode Tafsir Tahlili merupakan suatu bentuk tafsir yang berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari berbagai sisi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Quran sebagaimana tercantum dalam mushaf. Menurut Muhammad Baqir al-Shadr menamakan Metode Tafsir Tahlili sebagai Metode Tajzi’iy, yaitu metode tafsir yang berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari berbagai segi dengan memerhatikan susunan surat dan ayat al-Quran.[7] Sedangkan Abdul Hayy al-Farmawi menyatakan, Tafsir Tahlili dengan suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari seluruh aspeknya.[8] Pada kerjanya Metode Tafsir Tahlili menganalisis dari sisi bahasa, al-lughah, sebab-sebab turun ayat al-asbab al-anuzul, hubungan antar ayat, nasikh mansukh, perkembangan kebudayaan generasi nabi dan sahabat maupun tabi’in. Di samping itu, khusus lainnya yang kesemuanya ditujukan untuk memahami kandungan al-Quran. Artinya Metode Tafsir Tahlili dapat disebutkan sebuah cara mengangkat dan menarik isi kandungan teks ayat-ayat al-Quran dengan cara menganalisis dari berbagai sisi. Kandungan inilah dijadikan sebagai acuan untuk memahami perintah, mengerjakan perintah dari Allah Swt. Ciri-Ciri dan Contoh Kitab Tafsir Tahlili Sungguhpun para mufassir memiliki kecenderungan corak penafsiran sesuai menurut kadar kedalaman keilmuan yang dimilikinya namun mereka tetap menggunakan kaidah-kaidah umum Ilmu Tafsir al-Quran. Yaitu, Kaidah Quraniyah, Kaidah Sunnah, Kaidah Bahasa, Kaidah Ushul al-Fiqh dan Kaidah Ilmu Pengetahuan.[9] Ciri-ciri metode Tafsir Tahlili di antaranya adalah, ayat-ayat Al-Qur’an ditafsirkan, ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai urutan dalam mushhaf Utsmany, atau dimulai dari Surat al-Fatihah, diakhir dengan surat an-Nash. Mufassir menguraikan kosa kata, lafaz dan menjelaskan arti yang ditetapkannya. Sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur i’jaz, balaghah dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang di-istinbath-kan dari ayat, yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, aqidah atau tauhid, perintah-perintah, larangan, janji, ancaman, hakikat, majaz, kinayah, dan al isti’arah. Di samping itu juga mengemukakan kaitan antara Ayat-Ayat dan relevansinya Surat sebelum dan sesudahnya. Dilengkapi lagi dengan sebab-sebab turun ayat al-asbab al-nuzul, hadits-hadits Rasulullahh SAW dan pendapat para sahabat dan tabi’in-tabi’in yang berkenaan dengan ayat yang ditafsirkan. Mufassir yang menggunakan metode tahlili umumnya menguasai lebih dari satu bidang ilmu. Seperti diketahui ulama pada masa dahulu tidak hanya menguasai satu bidang ilmu saja. Mereka bisa disebut multidisipliner. Hasil dari Metode Tafsir Tahlili ini melahirkan beragam kitab tafsir. Ada yang ditulis dengan panjang lebar al-ithnab, ada yang secara singkat al-ijaz dan ada pula di antara keduanya, pertengahan al-musawah. Kitab Tafsir al-Quran yang ditulis Mufassir al-Alusy, al-Fakhr al-Razy, al-Qurthuby dan Ibn Jarir al-Thabary termasuk katagori al-ithnab. Kitab tafsir karya Jalal al-Din Al-Shuyuthy, Jalal al-Din al-Mahally dan al-Sayyid Muhammad Farid Wajdi masuk kategori singkat al-Ijaz. Sedangkan karya Imam al-Baydlawy, Syeikh Muhammad Abduh, al-Naysabury, masuk kategori pertengahan al-musawah.[10] Sekalipun mereka sama-sama menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan metode tahlili akan tetapi corak Tahlili masing-masing berbeda. Sesuai dengan kecenderungan mufasir tersebut. Lebih lengkap, kitab tafsir dengan Metode Tafsir Tahlili adalah 1. Tafsir al-Qur’an al-azhim karya Ibn Katsir. 2. Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawy al-Bantany. 3. Tafsir al-Fakh al-Razy yang terdiri dari tafsir al- Kabir Mafatih al-Ghaib yang terdiri dari 30 jilid dan Tafsir al-Saghir Asrar al-Tanzil wa Anwar al-Ta’wil. 4. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, karangan Imam Ibn Jarir Al-Thabary 5. Ma’alim al-Tanzil yang dikenal dengan Al-Tafsir al-Manqul, karangan Imam Al-Baghawy 6. Madarik al –Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, karangan Al-Ustadz Mahmud Al-Nasafy 7. Anwar al-Tanzil wa Asrarnal-Ta’wil, karangan Al-Ustadz Al-Baydlawy 8. Tafsir Al-Qur’an al-Adhim, karangan Imam Al-Tustary 9. Haqaiq al-Tafsir, karangan al-Sulamy w. 421 H 10. Ahkam Al-Qur’an, karangan Al-Jasshash w. 370 H 11. Al-Jami’ li Al-Qurthuby w. 671 H 12. At-Tafsir al-Ilm li al-Kauniyat al-Qur’an al-Karim, karya Hanafi Ahmad 13. Al-Islam Yatahadda, karangan Al-Allamah Wahid al-Din Khan 14. Tafsir al-Manar, karya Rasyid Ridha w. 1345 H 15. Tafsir a-Jalalain, karya Jalal al-Din Al-Shuyuthy, Jalal al-Din al-Mahally 16. Tafsir Al-Qur’an al-Karim, karya Mahmud Salthut 17. Tafsir Imam al-Zamakhsari Al-Ksyasaf an Haqaiq al-Tanzil wa uyun al-Aqawil fi Wujud al-Ta’wil, karya Tafsir Imam al-Zamakhsari [11] Corak Metode Tafsir Tahlili Pada pertemuan terdahulu kita telah mengupas beragam corak penafsiran al-Quran. Pemahaman tentang corak ini, tiada lain adalah ragam dari metode yang digunakan dalam melahirkan karya tafsir oleh kalangan ulama.[12] Berbeda metode penafsiran, kedalaman dan penguasaan ilmu, tentunya menghasilkan bentuk tafsir yang berbeda. Namun perbedaan tersebut tidak kontra dari makna awal ayat. Metode Tafsir Tahlili dikelompokkan menjadi beberapa macam. Yaitu, tafsir bil Ma’tsuri, tafsir bir Ra’yi, tafsir as-Shufi, tafsir al-Fikhi, tafsir al-Falsafi, tafsir al-Ilmi, tafsir al-Adab al-ijtimi’i.[13] Lebih jelasnya, sbb 1. Bentuk Tafsir Ma’tsuri Riwayat Tafsir bil Ma’tsuri yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat lain, dengan sunnah Nabi SAW, dengan pendapat sahabat Nabi SAW dan dengan perkataan tabi’in. Menurut Subhi as-Shalih, bentuk tafsir seperti ini sangat rentan terhadap masuknya pendapat-pendapat di luar Islam, seperti kaum zindiq Yahudi, Parsi dan masuknya hadits-hadits yang tidak shahih. Namun demikian pada tafsir Ibnu Jarir al-Thabary H, Jami al-Bayani fi Tafsir al-Quran dan tafsir Ibn Katsir H, tafsir al-Quran, kecil kemungkinan terdapat penyimpangan maksud. Mengingat para mufassir bekerja dengan itikad ibadah dan kehati-hatian yang tinggi. 2. Bentuk Tafsir bir ar-Ra’yi Nalar Tafsir bir Ra’yi merupakan cara penafsiran Al-Qur’an dengan dan penalaran dari mufasir. Mufasir dalam punya kebebasan menafsirkan al-Qur’an. Hal tersebut tentu dibatasi oleh kaidah-kaidah penafsiran al-Qur’an, agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang dalam menafsirkan Al-Qur’an. Model Tafsir bir ar-ra’yi dapat dilihat dalam kitab tafsir, sbb § ا نوا ر ا لتنزيل وا سرا ر ا لتاء ويل- al-Baidhawy 691 H. § مدا رك التنزيل ÙˆØÙ‚ا تق ا لتاء ويل- al-Nasafy w. 701 H. § لبا ب ا لتاءويل ÙÙ‰ ا لتنزيل- al-Khazin w. 741 H. § ا رشا د ا لعقل ا لسليم الى مزا يا ا لكتب ا لكريم-Abu al-Su’ud w. 982 §Ù…ÙØ§ ØªÙŠØ Ø§ لغيب - al-Fakhr al-Razi w. 606 H.[14] 3. Bentuk Tafsir as-Shufi Tafsir as-Shufi mulai berkembang ketika ilmu-ilmu agama dan sains mengalami kemajuan pesat serta kebudayaan Islam tersebar di seluruh pelosok dunia dan mengalami kebangkitan dalam segala seginya. Tafsir ini lebih menekankan pada aspek esoterik atau isyarat-isyarat yang tersirat dari ayat oleh para sufi. Para tokoh aliran ini menamakan tafsir mereka dengan al-Tafsir al-Isyari, yaitu menta’wil ayat-ayat, berbeda dengan arti zhahirnya, berdasarkan isyarat-isyarat tersembunyi yang hanya tampak jelas oleh para pemimpin suluk, namun tetap dapat dikompromikan dengan arti zhahir yang dimaksudkan. Di antara kitab-kitab tafsir al-Quran bercorak sufi adalah Tafsir al-Qur’an al-Karim oleh al-Tustari w. 383 H; Haqaiq al-Tafsir, oleh al-Sulami H, Araisy al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an, karya al-Syairazi w. 606 H, Latha’if al-Isyarah, karya al-Qusyairi H.[15] 4. Bentuk Tafsir al-Fikhi Hukum Tafsir Fikih adalah tafsir yang menekankan pada tinjauan hukum dari ayat yang ditafsirkan. Tafsir ini banyak di temukan dalam kitab-kitab fikih yang ditulis imam-imam dari berbagai mazhab yang berbeda. Tafsir yang ditulis tersebut menguatkan dalil atas kebenaran mazhab.[16] Para mufasir menggunakan kaidah ushul dalam menafsirkan ayat. Kaidah-kaidah tersebut adalah a. Kaidah yang berkaitan dengan al-amr wa al-nahy Al-amr adalah tuntutan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan dari pihak yang lebih tinggi derajatnya kapada pihak yang lebih rendah. Sedangkan al-nahy merupakan kebalikan dari al-amr. Apabila Allah swt memerintahkan sesuatu berarti melarang untuk melakukan sebaliknya. b. Kaidah-kaidah ushuli lainnya antara lain 1. Am dan Khash. Am adalah lafaz yang mencakup seluruh satuan-satuan yang pantas baginya dan tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Sedangkan lafaz khash merupakan kebalikan dari lafaz Am, yaitu yang tidak menghabiskan semua apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan. 2. Mujmal dan Mubayyan. Mujmal adalah lafaz yang mengandung dua makna atau lebih, yang kesemuanya masih sulit untuk ditentukan secara pasti mana yang lebih tepat untuknya, karena makna yang dikandung oleh lafaz tersebut sama-sama kuatnya. Sedangkan mubayyan merupakan penjelas terhadap lafaz yang masih mujmal pengertiannya. 3. Manthuq dan Mafhum. Manthuq adalah sesuatu makna yang ditunjukkan oleh ucapan lafaz itu sendiri. Dengan kata lain, pengucapan lafaz itu sendirilah yang memberi jalan bagi kita untuk dapat mengerti maksud kandungannya sehingga tidak ada kemungkinan makna lain kecuali apa yang dapat dimengerti dari teks itu sendiri. Sedangkan mafhum adalah sesuatu makna dari suatu lafaz yang ditunjukkan secara tersirat. 4. Muthlaq dan Muqayyad. Muthlaq adalah suatu lafazh yang menunjukkan kepada satu-satuan tertentu tetapi tanpa adanya pembatasan. Sedangkan yang dimaksud lafazh muqayyad adalah kebalikan dari lafazh muthlaq. Manna’ al-Qaththan dalam Mabahis fi Ulum al-Qur’an, mendefinisikannya sebagai suatu lafazh yang menunjukkan atas suatu hakikat dengan adanya batasan. 5. Hakikat dan Majas. Hakikat merupakan suatu lafaz yang tetap pada makna aslinya, dan tidak ada taqdim makna yang didahulukan dan ta’khir makna yang diakhirkan di dalamnya. Sedangkan majaz adalah lafaz yang digunakan untuk suatu arti, yang semua lafaz itu bukan diciptakan untuknya.[17] Di antara kitab-kitab tafsir yang bercorak tafsir al-Fikhi ini adalah § اØÙƒØ§ Ù… ا لقر ا Ù† , oleh al-Jash-Shash w. 370 H § ا ØÙƒØ§ Ù… ا لقران , karya Ibn al-Arabi w. 543 H § الجا مع لا ØÙƒØ§ Ù… ا لقرا Ù† , oleh al-Qurthuby w. 671 [18] 5. Bentuk Tafsir al - Falsafi Filsafat Tafsir Falsafi merupakan ilmu tafsir yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan filsafat. Pendekat filsafat yang digunakan adalah pendekatan yang berusaha melakukan sintesis dan siskretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat al-Qur’an. Selain itu juga menggunakan pendekatan yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Tafsir ini hadir di tengah-tengah pesatnya perkembangan ilmu dan budaya dan gerakan penerjemahan buku-buku falsafah dari Yunani dimasa Dinasti Bani Abbasiyah. Tokoh-tokoh Islam yang membaca buku-buku filsafat dari Yunani terbagi kepada dua golongan. Pertama, golongan yang menolak falsafat, karena mereka menemukan adanya pertentangan antara falsafat dan agama. Kelompok ini secara radikal menentang falsafat dan berupaya menjauhkan umat darinya. Tokoh pelopor kelompok ini adalah Imam Ghazali[19] dan al-Fakr al-Razi. Imam Ghazali bahkan secara khusus menulis tentang metode falsafat yang menurutnya rancu.[20] Kedua, golongan yang mengagumi dan menerima falsafat, meskipun didalamnya terdapat ide-ide yang bertentangan dengan nash-nash syara’. Kelompok ini berupaya mengkompromikan atau mencari titik temu antara falsafat dan agama serta berusaha menyingkirkan segala pertentangan. Di antara kitab-kitab tafsir yang ditulis berdasar corak falsafi ini, yaitu dari golongan pertama yang menolak falsafat adalah kitab tafsir Mafatih al-Ghaib, oleh al-Fakhr al-Razi w. 606 H. Al-Imam al-Ghazali, melalui kitabnya Ihya ulum ad-Din dan Jawahir al-Qur’an, Al-Imam al-Suyuthy, melalui kitabnya al-Itqan. Sayangnya tak ada kitab tafsir al-Qur’an secara lengkap dan utuh versi para filosof. Namun demikian ada yang tematik dan mengupas mendalam tentang ketuhanan, kosmologi dan hal-hal yang menjadi kajian utama filsafat. Hikmah bersentuhannya filsafat Yunani dengan Islam, lahirnya filosof-filosof dari kalangan Islam. 6. Bentuk Tafsir al-Ilmi Ilmu Tafsir ini mulai muncul dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, sehingga tafsir ini dalam menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan ilmiah atau dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan. Dalam tafsir ini mufasir berusaha mengkaji al-Qur’an dengan dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Tafsir ini terbatas pada ayat-ayat tertentu dan bersifat parsial, terpisah dengan ayat-ayat lain yang berbicara pada masalah yang sama. Tafsir ini lebih dekat kepada model metode Tafsir Ijmali. Meskipun terdapat berbagai kendala dan rintangan serta tantangan, nampaknya masih ada tokoh-tokoh ulama kontemporer yang berminat melakukan kajian al-Tafsir al-Ilmi untuk menyingkapi makna ayat-ayat kauniyah. Tokoh ulama yang dimaksud antara lain a. Al-Ustazd Dr. Muhammad Ahmad al-Ghamrawi. Didalam kitabnya, Sunanullah al-Kauniyah, dia telah mengemukakan pembahasan panjang lebar mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang menunjuk kepada masalah meteorologi. b. Al-Ustazd Dr. Abd al-Aziz Ismail. Didalam karyanya, al-Islam wa al-Thib al-Hadist, tokoh ini menafsirkan sebagian ayat-ayat kawniyah secara ilmiah seraya mengungkapkan aspek-aspek kemukjizatannya. c. Al-Syekh Thanthawi Jauhari. Melalui kitab tafsirnya yang tebal, beliau telah mengemukakan pembahasan mengenai berbagai macam ilmu yang disyaratkan oleh ayat-ayat kawniyah. Andaikan tokoh ini tidak sempat memberikan penjelasan yang luas dan panjang lebar, niscaya masih banyak hakikat dan nilai ilmu yang ada di dalam ayat tersebut tetep tersembunyi. d. Ahmad Mukhtar al-Ghazi. Didalam kitab yang diberi judul Riyadh al-Mukhiar, tokoh ini banyak membahas ayat-ayat kawniyah, pembahasannya tersebut terbatas pada sudut pandang salah satu aspek dari sekian banyak aspek ilmu modern. e. Al-Ustadz Hanafi Ahmad, seperti yang terdapat dalam karyanya, al-Tafsir al-Ilmi li al-Ayat al-Kawniyah fi al-Qur’an al-Karim. [21] 7. Bentuk Adab al-Ijtima’i Tafsir adalah suatu metode tafsir yang coraknya menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemasyarakatan, serta usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah kemasyarakatan berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dengan mengemukakannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan indah didengar.[22] Tafsir ini mengandalkan kekuatan bahasa dan sastra budaya mufasir, dikaitkan dengan persoalan kekinian pada masanya. Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dapat digolongkan mengikuti corak ini, yang banyak memberi sumbangan persoalan kemasyarakatan kekinian pada masa itu. Contoh-Contoh Tafsir Tahlili 1. Contoh Metode Tafsir Ma'tsuri Salah satu contoh Metode Tafsir Tahlili yang menggunakan bentuk penafsiran ayat dengan ayat, yaitu kata-kata al-muttaqin orang-orang bertakwa dalam ayat 2, Surat al-Baqarah dijabarkan ayat-ayat sesudahnya ayat-ayat 3-5 yang menyatakan الَّذِينَ ÙŠُؤْÙ…ِÙ†ُونَ بِالْغَÙŠْبِ ÙˆَÙŠُÙ‚ِيمُونَ الصَّÙ„َاةَ ÙˆَÙ…ِÙ…َّا رَزَÙ‚ْÙ†َاهُÙ…ْ ÙŠُÙ†ْÙِÙ‚ُونَ Ùˆَالَّذِينَ ÙŠُؤْÙ…ِÙ†ُونَ بِÙ…َا Ø£ُÙ†ْزِÙ„َ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙƒَ ÙˆَÙ…َا Ø£ُÙ†ْزِÙ„َ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒَ ÙˆَبِالْØ¢ØِرَØ©ِ Ù‡ُÙ…ْ ÙŠُوقِÙ†ُونَ Ø£ُولَٰئِÙƒَ عَÙ„َÙ‰ٰ Ù‡ُدًÙ‰ Ù…ِÙ†ْ رَبِّÙ‡ِÙ…ْ ۖ ÙˆَØ£ُولَٰئِÙƒَ Ù‡ُÙ…ُ الْÙ…ُÙْÙ„ِØُونَ Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akherat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka orang-orang yang beruntung. 2. Contoh Metode Tafsir bir ar-Ra'yi Salah satu contoh penafsiran bi al-Ra’yi adalah penafsiran yang dikemukakan oleh imam al-Mahalli dan imam as-Sayuthi dalam kitab tafsir kolaborasi mereka “Tafsir Jalalain”, mengenai surat al-Isra’ ayat 85 ÙˆَÙŠَسْØ£َÙ„ُونَÙƒَ عَÙ†ِ الرُّÙˆØِ ۖ Ù‚ُÙ„ِ الرُّÙˆØُ Ù…ِÙ†ْ Ø£َÙ…ْرِ رَبِّÙŠ ÙˆَÙ…َا Ø£ُوتِيتُÙ…ْ Ù…ِÙ†َ الْعِÙ„ْÙ…ِ Ø¥ِÙ„َّا Ù‚َÙ„ِيلًا Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. Imam al-Mahalli menafsirkan kata ”ruh” bahwa sesungguhnya ruh itu adalah jasad atau jisim halus jism al-lathif, yang dengan masuknya ia ke dalam diri manusia, maka manusia bisa hidup. Kemudian imam as-Suyuthi memberikan penafsiran bahwa perkara ruh itu termasuk ilmu Allah Ta’ala. Sebab itu menahan diri dari memberikan defenisinya adalah lebih baik. Karena tafsir ini termasuk tafsir bi al-Ra’yi yang ringkas maka kedua mufassir tersebut memberikan penjelasan yang singkat dengan pendapatnya dan menafsirkan ayat tersebut dengan mempertimbangkan maksud ayat dan syari’at. 3. Contoh Metode Tafsir as-Shufi Contoh yang dalam bentuk shufi, yaitu dari al-Alusy berkata tentang isyarat yang diberikan oleh firman Allah al-Baqarah 45, sebagai berikut Ùˆَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ ÙˆَالصَّÙ„َاةِ ۚ ÙˆَØ¥ِÙ†َّÙ‡َا Ù„َÙƒَبِيرَØ©ٌ Ø¥ِÙ„َّا عَÙ„َÙ‰ الْØَاشِعِينَ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, keculi bagi orang-orang yang khusyu’. 2 45 Bahwa shalat adalah sarana untuk memusatkan hati untuk menangkap tajally penampakan diri Allah dan hal ini sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang luluh dan lunak hatinya untuk menerima cahaya-cahaya dari tajally-tajally Allah yang amat halus dan menangkap kekuasaan-Nya yang perkasa. Merekalah orang-orang yang yakin, bahwa mereka benar-benar berada di hadapan Allah dan hanya kepada-Nyalah mereka kembali, dengan menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan mereka fana’ dan meleburkannya ke dalam sifat-sifat Allah baqa’, sehingga mereka tidak menemukan selain eksistensi Allah sebagai Raja yang Maha Halus dan Maha Perkasa. Contoh lain, dapat dikemukakan Al-alusi ketika menolak pendapat Mu’tazilah dan membela Asy’ariyah, dalam menafsirkan surat al Kahfi ayat 29. ÙˆَÙ‚ُÙ„ِ الْØَÙ‚ُّ Ù…ِÙ†ْ رَبِّÙƒُÙ…ْ ۖ ÙَÙ…َÙ†ْ Ø´َاءَ ÙَÙ„ْÙŠُؤْÙ…ِÙ†ْ ÙˆَÙ…َÙ†ْ Ø´َاءَ ÙَÙ„ْÙŠَÙƒْÙُرْ ۚ Ø¥ِÙ†َّا Ø£َعْتَدْÙ†َا Ù„ِلظَّالِÙ…ِينَ Ù†َارًا Ø£َØَاØَ بِÙ‡ِÙ…ْ سُرَادِÙ‚ُÙ‡َا ۚ ÙˆَØ¥ِÙ†ْ ÙŠَسْتَغِÙŠØُوا ÙŠُغَاØُوا بِÙ…َاءٍ ÙƒَالْÙ…ُÙ‡ْÙ„ِ ÙŠَØ´ْÙˆِÙŠ الْÙˆُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ Ùˆَسَاءَتْ Ù…ُرْتَÙَÙ‚ًا Dan katakanlah "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. QS. 1829 Menurut al-Alusi, ayat ini tidak menunjukkan adanya free will dan free act sebagaimana yang diklaim oleh kaum Mu’tazilah. Hal ini karena free will dan free act bertentangan dengan dua hal; Pertama, bila untuk berbuat manusia perlu berkehendak, maka untuk membuat kehendak manusia juga perlu berkehendak, begitu seterusnya, sehingga akan terjadi proses teologis yang tidak ada ujung pangkalnya. Kedua, Allah SWT telah berfirman dalam surat al-Insan ayat 30. ÙˆَÙ…َا تَØ´َاءُونَ Ø¥ِÙ„َّا Ø£َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءَ اللَّÙ‡ُ ۚ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ùƒَانَ عَÙ„ِيمًا ØَÙƒِيمًا Dan kamu tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.QS. 7630 Ayat ini jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Demikian menurut al-Alusi.[23] 4. Contoh Metode Tafsir al-Fikhi Tafsir al-fikhi menitikberatkan perspektif hukum yang akan diambil dari al-Quran. Namun demikian tetap dengan kajian komperehensif. Hal ini seperti yang ditulis Al-Qurtubi. Metodologi tafsirnya adalah; menyebutkan asbabun nuzul sebab-sebab turunnya ayat, mengemukakan ragam Qira’at dan i’rab, menjelaskan lafazh-lafazh yang gharib asing, melacak dan menghubungkan berbagai pendapat kepada sumbernya, menyediakan paragraph khusus bagi kisah para mufassir dan berita-berita dari para ahli sejarah, mengutip dari para ulama terdahulu yang dapat dipercaya, khususnya penulis kitab hukum. Misalnya, ia mengutip dari ibnu Jarir Ath-Thabari. Ibnu Athiyah, Ibnu Arabi, Alkiya Harrasiy dan Abu bakar Al-Jasshash. Al-Qurtubi sangat luas dalam mengkaji ayat-ayat hukum. Ia mengetengahkan masalah-masalah khilafiyah, hujjah bagi setiap pendapat lalu mengomentarinya. Dia tidak fanatik madzhab. Contohnya saat menafsirkan firman Allah, al-Baqarah ayat 187. Ø£ُØِÙ„َّ Ù„َÙƒُÙ…ْ Ù„َÙŠْÙ„َØ©َ الصِّÙŠَامِ الرَّÙَØُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰ Ù†ِسَائِÙƒُÙ…ْ ۚ Ù‡ُÙ†َّ Ù„ِبَاسٌ Ù„َÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ Ù„ِبَاسٌ Ù„َÙ‡ُÙ†َّ ۗ عَÙ„ِÙ…َ اللَّÙ‡ُ Ø£َÙ†َّÙƒُÙ…ْ ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ تَØْتَانُونَ Ø£َÙ†ْÙُسَÙƒُÙ…ْ Ùَتَابَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَعَÙَا عَÙ†ْÙƒُÙ…ْ ۖ Ùَالْآنَ بَاشِرُوهُÙ†َّ Ùˆَابْتَغُوا Ù…َا Ùƒَتَبَ اللَّÙ‡ُ Ù„َÙƒُÙ…ْ ۚ ÙˆَÙƒُÙ„ُوا Ùˆَاشْرَبُوا ØَتَّÙ‰ٰ ÙŠَتَبَÙŠَّÙ†َ Ù„َÙƒُÙ…ُ الْØَÙŠْØُ الْØ£َبْÙŠَضُ Ù…ِÙ†َ الْØَÙŠْØِ الْØ£َسْÙˆَدِ Ù…ِÙ†َ الْÙَجْرِ ۖ ØُÙ…َّ Ø£َتِÙ…ُّوا الصِّÙŠَامَ Ø¥ِÙ„َÙ‰ اللَّÙŠْÙ„ِ ۚ ÙˆَÙ„َا تُبَاشِرُوهُÙ†َّ ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ عَاكِÙُونَ ÙِÙŠ الْÙ…َسَاجِدِ ۗ تِÙ„ْÙƒَ Øُدُودُ اللَّÙ‡ِ ÙَÙ„َا تَÙ‚ْرَبُوهَا ۗ ÙƒَذَٰÙ„ِÙƒَ ÙŠُبَÙŠِّÙ†ُ اللَّÙ‡ُ آيَاتِÙ‡ِ Ù„ِلنَّاسِ Ù„َعَÙ„َّÙ‡ُÙ…ْ ÙŠَتَّÙ‚ُونَ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah meng-ampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minum-lah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. Ada banyak hal yang dibahas dalam ayat ini, sesudah mengemukakan perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum orang yang akan makan siang hari dibulan Ramadhan karena lupa, dan mengutip pendapat Imam Malik, yang mengatakan batal dan wajib mengqadha; Ia mengatakan, “Menurut pendapat selain Imam Malik, tidaklah dipandang batal setiap orang yang makan karena lupa akan puasanya, dan jumhur pun berpendapt sama bahwa barang siapa makan atau minum karena lupa, ia tidak wajib mengqadha’nya. Dan puasanya tetap sempurna. Hal ini berdasarkan pada hadits Abu Hurairah, katanya, Rasulullah bersabda, “jika seseorang sedang berpuasa lalu makan atau minum karena lupa, maka yang demikian adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya, dan ia tidak wajib mengqadha’nya.” Dari kutipan ini kita melihat, dengan pendapat yang dikemukakannya itu Al-Qurtubi tidak lagi sejalan dengan madzhabnya sendiri, ia berlaku adil terhadap madzhab lain. Al-Qurtubi juga melakukan konfrontasi terhadap sejumlah golongan lain. misalnya, ia menyanggah kaum Mu’tazilah, Qadariyah, Syi’ah Rafidhah, para filosof dan kaum sufi ynag ekstrim. Tetapi dilakukan dengan bahasa yang halus. Dan didorong oleh rasa keadilan, kadang-kadang ia pun membela orang-orang yang di serang oleh ibn Arabi dan mencelanya karena ungkapan-ungkapannya yang kasar dan keras terhadap ulama. Dan jika perlu mengkritik, maka kritikannya pun bersih serta dilakukan dengan cara sopan dan terhormat. 5. Contoh Metode Tafsir al-Falsafi Beberapa pendapat para filosof muslim dalam menafsirkan al-Qur’an dapat dilihat dalam karya Al-Farabi, Ikhwanus Shafa dan Ibnu Sina. Al-Farabi menulis Fushus al-Hikam yang memuat beberapa penafsirannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan filosofis. Salah satunya adalah penafsirannya terhadap Surat al-Hadid ayat 3. Ù‡ُÙˆَ الْØ£َÙˆَّÙ„ُ ÙˆَالْØ¢Øِرُ Ùˆَالظَّاهِرُ ÙˆَالْبَاØِÙ†ُ ۖ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ بِÙƒُÙ„ِّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ عَÙ„ِيمٌ Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Penafsiran Al-Farabi terhadap ayat ini bercorak platonik, yakni penafsiran Plato tentang kekekalan alam. Oleh karena itu Al-Farabi menafsirkan kepemulaan Allah dari segi bahwa segala yang ada dan mengakibatkan adanya yang lain, itu semua adalah berasal dari-Nya. Allah adalah yang pertama dari segi ada-Nya. Ia yang pertama dari setiap waktu yang keberadaanya bergantung pada-Nya. Telah ada waktu ketika tidak ada sesuatu selain dari-Nya.[24] Berkenaan dengan lanjutan ayat ini yaitu pada kalimat “Ùˆَٱلظَّٰاهِرُ ÙˆَٱلْبَاØِÙ†ُ” artinya “Dia Yang Maha Dhahir dan Maha Bathin”, al-Farabi menafsirkan dengan menyatakan bahwa Tidak ada wujud yang lebih sempurna selain dari wujudNya, tidak ada yang tersembunyi kekurangan wujudNya dan Dia ada pada dzat yang Dhahir, dan tidak pantas muncul pada yang batin. DenganNya nampak segala sesuatu yang dhahir seperti matahari, dan nampak segala sesuatu yang tersembunyi dari persembunyiannya. Contoh tafsir ibn Rusyd Jika alam ini baru dan yang mengadakan adalah Allah maka pertanyaan yang muncul, bagaimana membuktikan bahwa Allah itu esa. Dalam hal ini rupanya Ibnu Rusyd menggunakan argumen teologis yang biasa dipakai oleh kaum teolog, yaitu Surat al-Anbiya’ ayat 22. Ù„َÙˆْ Ùƒَانَ ÙِيهِÙ…َا آلِÙ‡َØ©ٌ Ø¥ِÙ„َّا اللَّÙ‡ُ Ù„َÙَسَدَتَا ۚÙَسُبْØَانَ اللَّÙ‡ِ رَبِّ الْعَرْØ´ِ عَÙ…َّا ÙŠَصِÙُونَ Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. 21 22. Sebagaimana halnya para teolog di sini ibn Rusyd menjelaskan ayat tersebut dengan al-Qiyas ala al-gho’ib bi asy-Syahid yaitu menganalogikan yang gaib dengan yang nyata. Kata Ibnu Rusyd ”Sudah menjadi hal yang maklum bahwa berkumpulnya dua penguasa di satu negeri menyebabkan rusaknya negeri tersebut”. Demikian pula jika di alam ini ada-dua tuhan bahkan lebih niscaya akan alam ini akan rusak, namun kenyataan membuktikan bahwa alam ini tetapberjalan baik dan teratur, berartl Allah itu esa. Ibnu Rusyd kemudian memperkuat logika tersebut dengan ayat lain yaitu Ù…َا اتَّØَذَ اللَّÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَÙ„َدٍ ÙˆَÙ…َا Ùƒَانَ Ù…َعَÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ Ø¥ِÙ„َٰÙ‡ٍ ۚØ¥ِذًا Ù„َذَÙ‡َبَ ÙƒُÙ„ُّ Ø¥ِÙ„َٰÙ‡ٍ بِÙ…َا ØَÙ„َÙ‚َ ÙˆَÙ„َعَÙ„َا بَعْضُÙ‡ُÙ…ْ عَÙ„َÙ‰ٰ بَعْضٍ ۚسُبْØَانَ اللَّÙ‡ِ عَÙ…َّا ÙŠَصِÙُونَ Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain besertanya, kalau ada Tuhan besertanya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhantuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. al-Mukminun 23 91[25] 6. Contoh Metode Tafsir al-Ilmi Contoh-contoh penafsiran dengan tafsir ilmi dapat diambil dari al-Baqarah 61 yang bercerita tentang kaum Nabi Musa yang tidak puas dengan makan satu jenis makanan di pegunungan. ÙˆَØ¥ِذْ Ù‚ُÙ„ْتُÙ…ْ ÙŠَا Ù…ُوسَÙ‰ Ù„َÙ†ْ Ù†َصْبِرَ عَÙ„َÙ‰ Øَعَامٍ ÙˆَاØِدٍ Ùَادْعُ Ù„َÙ†َا رَبَّÙƒَ ÙŠُØْرِجْ Ù„َÙ†َا Ù…ِÙ…َّا تُÙ†ْبِتُ الأرْضُ Ù…ِÙ†ْ بَÙ‚ْÙ„ِÙ‡َا ÙˆَÙ‚ِØَّائِÙ‡َا ÙˆَÙُومِÙ‡َا ÙˆَعَدَسِÙ‡َا ÙˆَبَصَÙ„ِÙ‡َا Ù‚َالَ Ø£َتَسْتَبْدِÙ„ُونَ الَّذِÙŠ Ù‡ُÙˆَ Ø£َدْÙ†َÙ‰ بِالَّذِÙŠ Ù‡ُÙˆَ ØَÙŠْرٌ اهْبِØُوا Ù…ِصْرًا ÙَØ¥ِÙ†َّ Ù„َÙƒُÙ…ْ Ù…َا سَØ£َÙ„ْتُÙ…ْ Ùˆَضُرِبَتْ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ُ الذِّÙ„َّØ©ُ ÙˆَالْÙ…َسْÙƒَÙ†َØ©ُ Ùˆَبَاءُوا بِغَضَبٍ Ù…ِÙ†َ اللَّÙ‡ِ ذَÙ„ِÙƒَ بِØ£َÙ†َّÙ‡ُÙ…ْ Ùƒَانُوا ÙŠَÙƒْÙُرُونَ بِآيَاتِ اللَّÙ‡ِ ÙˆَÙŠَÙ‚ْتُÙ„ُونَ النَّبِÙŠِّينَ بِغَÙŠْرِ الْØَÙ‚ِّ ذَÙ„ِÙƒَ بِÙ…َا عَصَÙˆْا ÙˆَÙƒَانُوا ÙŠَعْتَدُونَ Dan ingatlah, ketika kamu berkata “Hai Musa, kami tidak bisa sabar tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? 2. 61 Thantowi Jauhari w. 1940 M mengomentari ayat ini dengan mengambil teori ilmiah Eropa, yakni bahwa model kehidupan Baduwi di pedesaan atau pegunungan, yang biasanya orang mengkonsumsi makanan manna wa salwa jenis makanan yang tanpa efek samping dengan kondisi udara yang bersih, jauh lebih baik daripada model kehidupan di perkotaan yang biasanya orang suka mengkonsumsi makanan siap saji, daging-daging, dan berbagai ragam makanan lainnya, ditambah lagi polusi udara yang sangat membahayakan kesehatan.[26] Contoh lain dapat ditemukan dalam penafsiran M. Abduh terhadap surat al-Fil 3 - 4 yang menafsirkan kata thayran ababil burung Ababil dengan mikroba dan kata al-hijarah batu dengan kuman penyakit. Atau, penafsiran Abdul al-Razq Nawfal pada al-A’raf 189. Ù‡ُÙˆَ الَّذِÙŠ ØَÙ„َÙ‚َÙƒُÙ…ْ Ù…ِÙ†ْ Ù†َÙْسٍ ÙˆَاØِدَØ©ٍ ÙˆَجَعَÙ„َ Ù…ِÙ†ْÙ‡َا زَÙˆْجَÙ‡َا Ù„ِÙŠَسْÙƒُÙ†َ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡َا ÙَÙ„َÙ…َّا تَغَØ´َّاهَا ØَÙ…َÙ„َتْ ØَÙ…ْلا ØَÙِÙŠÙًا ÙَÙ…َرَّتْ بِÙ‡ِ ÙَÙ„َÙ…َّا Ø£َØْÙ‚َÙ„َتْ دَعَÙˆَا اللَّÙ‡َ رَبَّÙ‡ُÙ…َا Ù„َئِÙ†ْ آتَÙŠْتَÙ†َا صَالِØًا Ù„َÙ†َÙƒُونَÙ†َّ Ù…ِÙ†َ الشَّاكِرِينَ Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan beberapa waktu. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya suami istri bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". & 189 Al-Razq menafsirkan kata nafsu al-wahidah diri yang satu dengan proton dan zawjaha dengan pasangannya elektron, dan masing-masing keduanya membentuk unsur atom. Contoh lain, ada penafsiran ayat dalam surah Yasiin ayat 38 ÙˆَالشَّÙ…ْسُ تَجْرِÙŠ Ù„ِÙ…ُسْتَÙ‚َرٍّ Ù„َّÙ‡َا ۚ ذَٰÙ„ِÙƒَ تَÙ‚ْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَÙ„ِيمِ Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. QS. Yaasin 38 Pada masa-masa sebelumnya, para mufassir menafsirkan ayat ini dengan gerakan lahiriah matahari yang berjalan sehari-hari atau per musim. Akan tetapi, pada masa kini, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah dan sains baru, para ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut dengan gerakan matahari menuju suatu titik tertentu yang di situ terdapat planet Vega. Semua penafsiran itu masih disertai dengan kehati-hatian dan bersifat moderatif. Akan tetapi, di beberapa kalangan mufassirin kita melihat keteledoran dan keberlebihan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan rangka mendukung metode penafsiran ilmiah. 7. Contoh Metode Tafsir Adab al-Ijtima'i Corak tafsir adabi ijtimai bukan lagi hanya memfokuskan pada pemaknaan linguistik, tetapi juga melihat keterkaitan makna ayat dengan aspek-aspek atau persoalan yang muncul pada zaman sekarang, sehingga al-Qur’an bukan lagi dianggap sebagai kitab suci yang memiliki sastra tinggi, namun al-Qur’an dapat berfungsi sebagaimana fungsi utamanya bagi masyarakat umat Islam, yakni sebagai petunjuk dalam hidup. Hal inilah yang menjadikan titik perbedaan antara corak tafsir adabi ijtimai dengan yang lainnya. Sebagaimana dapat dilihat dalam contoh penafsiran Juz Amma oleh Muhammad Abduh dalam QS. al-Fiil 3-4. ÙˆَØ£َرْسَÙ„َ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ْ ØَÙŠْرًا Ø£َبَابِيل تَرْÙ…ِيهِÙ… بِØِجَارَØ©ٍ Ù…ِّÙ† سِجِّيلٍ Dan Dia kirimkan kepada mereka, burung-burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu berasal dari tanah yang terbakar. 3-4 Kata أبابيل ialah kawanan burung atau kuda dan sebagainya yang masing-masing kelompok mengikuti kelompok lainnya. sedangkan yang dimaksud dengan ØÙŠØ±Ø§ ialah hewan yang terbang di langit, baik yang bertubuh kecil ataupun besar; tampak oleh penglihatan mata ataupun tidak, ”yang melempari mereka dengan batu-batu dari tanah yang membatu”. Kata سجيل berasal dari bahasa Persia yang bercampur dengan bahasa Arab, yang berarti tanah yang membatu.[27] Abduh menjelaskan bahwa lafaz ØÙŠØ±Ø§ tersebut merupakan dari jenis nyamuk atau lalat yang membawa benih penyakit tertentu. Dan lafaz Ø¨ØØ¬Ø§Ø±Ø© itu berasal dari tanah kering yang bercampur dengan racun, dibawa oleh angin lalu menempel di kaki-kaki binatang tersebut. Dan apabila tanah bercampur racun itu menyentuh tubuh seseorang, racun itu masuk ke dalamnya melalui pori-pori, dan menimbulkan bisul-bisul yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya tubuh serta berjatuhannya daging dari tubuh itu.[28] Dengan begitu, dapat dilihat bahwa penafsiran Abduh ini, lebih bersifat soaial masyarakat modern. Dalam artian bahwa beliau lebih menonjolkan ketelitian redaksi ayat-ayat tersebut, kemudian menguraikan makna yang dikandung dalam ayat tersebut dengan redaksi yang menarik hati, dan adanya upaya untuk menghubungkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat. Berbeda hal nyadengan corak penafsiran lain yang dilakukan oleh beberapa ulama era klasik ataupun pertengahan. Sebut saja misalnya penafsiran dalam Tafsir al-Qurthubi dengan corak fiqhinya, yang hanya menafsirinya dengan memaknai ayat secara linguistik saja. Yakni hanya membahas mengenai segi kebalaghannnya saja dengan mengkaitkannya pada riwayat-riwayat dari beberapa sahabat. Tanpa memaknainya dengan mengkaitkan kehidupan sosial atau pengetahuan yang ada ketika itu dalam masyarakat. Beliau lebih mencantumkan mengenai perbedaan dari beberapa sahabat dengan pengertian bahwa lafaz ØÙŠØ±Ø§ berarti burung yang lebih mirip dengan kelelawar yang bewarna merah dan hitam, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah. Disebutkan juga bahwa lafaz tersebut bermakna burung khudlur riwayat Said bin Jubair, dan sebagainya. Sedangkan mengenai lafaz Ø¨ØØ¬Ø§Ø±Ø© dalam tafsir tersebut ditafsiri dengan batu yang terbuat dari tanah liat, yang dibakar di atas api neraka, dan pada batu-batu itu tertuliskan nama setiap orang yang berhak atasnya.[29] Maka dapat disimpulkan dari contoh tersebut bahwa dalam corak Adabi Ijtimai mempunyai karakteristik atau ciri tersendiri dalam penafsirannya. Yakni bahwa corak tafsir tersebut berkaitan dengan kehidupan sosial dan perkembangan pengetahuan yang berkembang pada masa modern. Kelebihan dan Kelemahan Suatu metode yang dilahirkan seorang manusia dengan segenap kemampuannya selalu memiliki kelemahan dan keistimewaan. Pun begitu Metode Tafsir Tahlili. Namun perlu disadari keistimewaan dan kelemahan yang dimaksud bukanlah suatu hal yang negatif karena kegiatan ini usaha untuk menggali kandungan al-Quran, yang tentunya mufassir selalu berhati-hati dan berkerendahan hati. Tafsir Tahlili ditemukan beberapa keistimewaan diantaranya Pertama, tafsir ini biasanya selalu memaparkan beberapa hadist ataupun perkataan sahabat dan para tabiin yang berkenaan dengan pokok pembahasan pada ayat. Juga didalamnya terdapat beberapa analisa mufassir mengenai hal-hal umum yang terjadi sesuai dengan ayat. Dengan demikian, informasi wawasan yang diberikan dalam tafsir ini sangat banyak dan dalam. Kedua, keistimewaan lainnya adalah adanya potensi besar untuk memperkaya arti kata-kata dengan usaha penafsiran terhadap kosa-kata ayat. Potensi ini muncul dari luasnya sumber tafsir metode tahlili tersebut. Penafsiran kata dengan Metode Tahlili akan erat kaitannya dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan tidak tertutup kemungkinan, kosa-kata ayat tersebut sedikit banyaknya bisa dijelaskan dengan kembali kepada arti kata tersebut seperti pemakaian aslinya. Pembuktian seperti ini akan banyak berkaitan dengan syair-syair kuno. Ketiga, keistimewaan lainnya adalah luasnya bahasan penafsiran. Pada dasarnya, selain detail, keluasan bahasan juga menjadi salah satu ciri khusus yang membedakan tafsir tahlili dengan tafsir ijmali. Sebuah ayat yang tidak ditafsirkan oleh metode ijmali kadang kala membutuhkan ruang yang banyak bila ditafsirkan dengan metode tahlili. Disamping keistimewaan, juga ada kelemahan. Namun sekali lagi kelemahan disini bukanlah merupakan kelemahan yang mengharuskan kita tidak menggunakan atau mengabaikan tafsir ini. Akan tetapi hendaknya dalam menyikapi kelemahan ini, kita harus dapat memilah milih beberapa informasi dan wawasan yang dipaparkan dalam metode penafsiran ini. Lebih dari itu, ketika zaman berganti, kekuatan penalaran berkembang, hasil usaha tafsir tahlili tentu saja beberapa penjelasan tidak lagi bisa diadopsi zaman. Kelemahan-kelemahan itu di antaranya adalah; pertama, yang sering disebutkan adalah berkenaan dengan israiliyat yang mungkin terkadang masuk dalam informasi yang diberikan mufassir. Juga sama halnya dengan berbagai hadist lemah yang tidak selayaknya digunakan pada tempat dan kondisi sesuai. Jadi analisa kritis yang mendalam, kelemahan-kelemahan ini sangat mungkin untuk dihindarkan. Selayaknyalah memang seorang mufassir yang berkompeten untuk memberikan perhatian serius terhadap sumber informasi yang ia gunakan dalam menafsirkan sebuah ayat. Israiliyyat tidaklah begitu sulit untuk dikenali, konsepnya hanyalah apakah informasi tersebut mempunyai sumber yang jelas atau tidak, bila sumbernya jelas dan kuat maka informasi tersebut bisa dipakai dan sebaliknya. Demikian pula dengan hadist-hadist dha’if ataupun pendapat-pedapat para sahabat maupun tabi’i. Hukum dasar hadist da’if adalah tidak boleh diamalkan, hal ini tentu saja berlaku dalam pemakaian sebagai sumber tafsir. Hadist dha’if tersebut hanya bisa dipakai sebagai penguat apabila ada hadist yang lebih kuat menjelaskan senada dengan hadist da’if tersebut. Kedua, tafsir tahlili adalah kesan pemaparan yang bertele-tele dan tidak sistematis. Tentu saja ini terjadi mengingat metode ini mengikuti susunan surat dan ayat dalam mushaf usmani. Sehingga tidak bisa disebut sistematis menurut alur pikir manusia hari ini. Keluasan masalah yang akan dipaparkan tentunya membuat panjang lebar dan berbeda dengan model pemaparan tafsir ijmali. Keluasan bahasan Tafsir Tahlili dalam menguraikan sebuah ayat tentu saja membutuhkan usaha yang lebih keras dan waktu yang lebih lama bagi seorang mufassir. Bagi beberapa golongan hal ini juga dianggap sebagai kelemahan dibandingkan dengan Tafsir Ijmali yang praktis dan sederhana. Sebagai catatan penutup, Metode Tafsir Tahlili merupakan tafsir al-Quran yang memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun kitab-kitab tafsir yang dilahirkan dari metode inilah yang paling tepat untuk dibaca dan memahami al-Quran, setelah itu dilanjutkan dengan memelajari metode tafsir ijmali dan maudhui sebagai zoom out dan zoom in agar mendapat kandungan al-Quran. Begitu pula ketika akan menulis tafsir al-Quran, kita tidak bisa lepas dengan karya para ulama yang telah menulis tafsir dengan menggunakan metode ini. Setelah mengupas makalah ini, penulis dapat menyimpulkan, kerja tafsir bukan pekerjaan interpretasi biasa. Tetapi usaha sungguh-sungguh dan mendalam agar memahami ayat-ayat al-Quran secara komprehensif, tidak hanya satu dua ayat yang bisa berbahaya dari tujuan utama al-Quran diturunkan.[] DAFTAR PUSTAKA Abduh, Muhammad, Tafsir Juz Amma, tej. Muhammad Bagir, Bandung Mizan, 1999 Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, tej. Dudi Rosyadi dan Faturrahman, Jakarta PustakaAzzam, 2009 Abu al Fadl Mahmud al-Alusi, Ruh al-Ma’am fi Tafsir al-Qur’an Azim wa Sab’i al-Matsani, Beirut, Dar Ihya al-Turats al’arabi, Anwar, Rosihan, Ilmu Tafsir, Bandung Pustaka Setia, 2008 Aqil, Said Husin al-Munawwar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta Ciputat Pers, 2002 Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran Al-Quran, Yogyakarya Pustaka Pelajar, 1998 Hasan, Ali Al-Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1994 Hayy Al-Farmawi, Abdul, Tafsir Maudhu‟i Suatu Pengantar, Jakarta Raja Grafindo Persada, 1996 Husaini, Sayid Musa, Metode Penafsiran Saintis di Dalam Buku-buku Tafsir Modern, diakses Jumat 28/10, WIB. Kholis, Nur, Pengantar Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta Sukses Offset, 2008 Mustaqim, Abdul, Aliran-Aliran Tafsir, dari perode klasik hingga kontemporer, Yogyakarta; Kreasi Warna, 2005 Majid, Abdul Majid Abdussalam al-Muntasib, Visi dan Paradigma Tafsir Al-Qur’an Kontemporer, terj. Mohammad Maghfur Wachid. Judul asli Ittijaahat at-Tafsiir fi al-Ashri ar-Rahin, Bangil Al-Izzah, 1997 Izzan, Ahmad, Metodologi Ilmu Tafsir, Bandung Tafakur, 2011, cet. III Syarif, Para Filosof Muslim, cet I, Bandung Mizan, 1985 Suryadilaga, M. Alfatih, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta Teras. 2005 Nata, Abuddin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf; Dirasah Islamiyah IV, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2001 Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, I, II Jakarta UI-Press, 1979 _______________,Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, cet. III, Jakarta Bulan Bintang, 1983 Solihin, M, Tasawuf Tematik Membedah Tema-tema Penting Tasawuf, Bandung Pustaka Setia, 2003 Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an, Bandung Pustaka Islamika, 2002 Tantawi Jauwhari, Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim al-Mushtamil ala Ajaib Badai’ al-Mukawwanat wa Gharib al-Ayat al-Bahirat al-Musama, Juz 1, Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004 Quraish, M. Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, Bandung Mizan, 1998 ________________, Membumikan Al-Qur’an, Bandung Mizan, 1996 __________________, Sejarah & al-Ulum al-Qur’an, Jakarta Pustaka Firdaus, 2001 Yuminah, Corak Penafsiran, dipresentasekan dalam kuliah, Senin 3/10 [1]Basuki Tjahya Purnama alias Ahok dalam suatu kesempatan di Kepulauan Seribu melontarkan pernyataan tentang pihak lawan politiknya memakai propaganda deengan landasan ayat al-Maidah 51, agar warga Jakarta tak memilih dirinya dalam Pemilihan Gubernur DKI 2017-2002. Pernyataan Ahok itu diunggah tidak lengkap, setelah mengalami pemenggalan dan editing, lalu diunggah ke situs video online, [2]Ketika Megawati Soekarno Putri menjadi calon presiden dalam Pemilu 2004 dan 2009, wacana tentang pemimpin perempuan dalam Islam juga mengemuka. Tafsir ayat al-Quran tentang kepemimpinan yang mengemuka adalah QS. An Nisaa 34. Setelah panggung pesta demokrasi itu terlewati, publik dan media massa sudah tak lagi intens membicarakan soal kepemimpinan seorang perempuan. [3]QS. Al-Anbiya’ 107, lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 5, hal. 385 [4] 2213, 179, 241, 5725 [5]Abdul Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu‟i Suatu Pengantar, Jakarta Raja Grafindo Persada, 1996 [6]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Quran, Yogyakarya Pustaka Pelajar, 1998 [7]M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, Bandung Mizan, 1998, lihat juga, Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung Mizan, 1996. [8]Abdul Hayy Al-Farmawi, [9] M. Alfatih Suryadilaga. Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta Teras. 2005. hal. 70 [10]Nur Kholis, Pengantar Al-Qur’an dan Hadis, Yogyakarta Sukses Offset, 2008 [11]Ali Hasan Al-Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1994 [12]Lebih lengkap dalam makalah Yuminah, Corak Penafsiran, dipresentasekan dalam kuliah, Senin 3/10. [13]Said Aqil Husin al-Munawwar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta Ciputat Pers, 2002 [14]Said Aqil Husin al-Munawwar, hal. 74-80 [15]M. Quraish Shihab, Sejarah & Ulum al Qur’an, Jakarta Pustaka Firdaus, 2001 [16]Said Aqil Husein al Munawwar, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehn Hakiki, Jakarta Ciputat Pers, 2002, hal. 70-71 [17]Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, dari perode klasik hingga kontemporer, Yogyakarta; Kreasi Warna, 2005. [18]Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, Bandung Tafakur, 2011, cet. III, hal. 20 [19]Imam Al-Ghazali menulis buku Tahafut al Falasifah, sebagai kritik tajamnya terhadap metode berpikir filsafat. Kritik ini juga dibalas Ibn Rusyd dengan buku Tahafut al Tahafut. Polemik dua tokoh Islam ini dapat ditemukan dalam Syarif, Para Filosof Muslim, cet I, Bandung Mizan, 1985. Lihat, Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf; Dirasah Islamiyah IV, cet. v Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2001, serta Harun Nasution, Jilid II, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta UI-Press, 1979, Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, cet. III, Jakarta Bulan Bintang, 1983. [20]Imam Al-Ghazali menulis buku Tahafut al Falasifah, sebagai kritik tajamnya terhadap metode berpikir filsafat. Kritik ini juga dibalas Ibn Rusyd dengan buku Tahafut al Tahafut. Polemik dua tokoh Islam ini dapat ditemukan dalam Syarif, Para Filosof Muslim, cet I, Bandung Mizan, 1985. Lihat, Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf; Dirasah Islamiyah IV, cet. v Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2001, serta Harun Nasution, Jilid II, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta UI-Press, 1979, Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, cet. III, Jakarta Bulan Bintang, 1983. [21]Lihat Rosihan Anwar, Ilmu Tafsir, Bandung Pustaka Setia, 2008, lihat juga dalam Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, dari perode klasik hingga kontemporer, Yogyakarta; Kreasi Warna, 2005. [22]M. Alfatih Suryadilaga, hal. 55. [23]Abu al Fadl Mahmud al-alusi, Ruh al-Ma’am fi Tafsir al-Qur’an Azim wa Sab’i al-Matsani, Beirut, Dar Ihya al-Turats al’arabi, Juga dalam M. Solihin, Tasawuf Tematik Membedalh Tema-tema Penting Tasawuf, Bandung Pustaka Setia, 2003 [25]Abdul Majid Abdussalam al-Muntasib, Visi dan Paradigma Tafsir Al-Qur’an Kontemporer, terj. Mohammad Maghfur Wachid. Judul asli Ittijaahat at-Tafsiir fi al-Ashri ar-Rahin, Bangil Al-Izzah, 1997 hlm. 279. [26]Tantawi Jauwhari, Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim al-Mushtamil ala Ajaib Badai’ al-Mukawwanat wa Gharib al-Ayat al-Bahirat al-Musama Tafsir Tantawi Jawhari, Juz 1 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004, hlm. 66-67 sebagaimana dikutub dalam Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an. Bandung Pustaka Islamika, 2002 hlm 316 [27]Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, tej. Muhammad Bagir Bandung Mizan, 1999, hlm. 320 [28]Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, tej. Muhammad Bagir, Bandung Mizan, 1999, hlm. 322 [29]Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, tej. Dudi Rosyadi dan Faturrahman Jakarta PustakaAzzam, 2009, hlm. 755-760
ciri ciri tafsir tahlili