contoh af al allah
Sifatdan Af 'al Allah. Sifat dan perbuatan atau af'al Allah terangkun di dalam Asma` al-Husna yakni nama-nama Allah yang indah. Asma` al-Husna atau nama-nama Allah yang indah dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kelembutan, kesantunan, cinta dan kasih sayang.
Contohkalimat i'rob nashob dengan terbuangnya nun pada Af'alul khomsah sebagai berikut 1. نَحْنُ لَنْ يَكْتُبُوْا فِى الْمَسْجِد Artinya Kami tidak akan menulis di masjid, yaktubu menjadi nashob karena amil nawashib lan, yaktubuu asalnya yaktubuuna 2.
KalauAllah menghendaki untuk tidak terjadi kemaksiatan, Allah tidak ciptakan Iblis. Maka kekufuran orang yang kafir, keimanan orang yang beriman, semuanya terjadi kerana ketentuan, takdir, keinginan dan kehendakNya. Dan Allah menghendaki semuanya itu dan mentakdirkannya. Namun Allah meridhai keimanan dan membenci kekufuran dan kemaksiatan.
Diantara nama Allah yang perlu di fahami ialah nama al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhahir dan al-Bathin. Empat nama di antara nama-nama Allah yang sangat indah. Empat nama ini ditambah nama al-'Alim terkumpul pada Al-Qur'an, surah al-Hadid ayat 3, yaitu firman-Nya: هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ
T3T4- Sifat Dan Af'al Allah - 31-03-2020 | PDF. ipincom. AF'AL ALLAH DAN AF'AL IBAD. Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Setiap Perbuatan Makhluk Menunjuk Af'al Allah SWT - apahabar.com. Af'alul Khomsah: Pengertian, Contoh dan Tanda I'robnya - khoiri.com. KELAKUAN DAN AF'AL ALLAH PADA BATANG TUBUH - YouTube
mở bài gián tiếp đoàn thuyền đánh cá. Apakah itu Af’al al-Qulub? Pernahkah anda mendengar istilah Af’al al-Qulub dalam ilmu Nahwu? Dari namanya kita bisa menebak bahwa ia adalah fi’il yang berhubungan dengan hati, tapi apa sebenarnya af’al al-qulub itu? Pengertian Af’al al-Qulub Af’al al-Qulub berasal dari kata af’al pekerjaan-pekerjaan dan al-qulub beberapa hati. Ia merupakan fi’il yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin hati yang me-nashab-kan dua maf’ul yang berasal dari susunan mubtada’ khabar. BACA JUGA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM Af’al al-Qulub berjumlah 14, di antaranya adalah رَأَى ,عَلِمَ ,دَرَى ,وَجَدَ ,أَلْفَى ,تَعَلَّمْ ,ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ ,جَعَلَ ,حَجَا ,عَدَّ ,زَعَمَ ,هَبْ Fi’il-fi’il ini disebut sebagai “Af’al al-Qulub” karena ia merupakan pekerjaan yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin, maka dari itu, makna-maknanya berada pada hati al-qulub. Namun tidak semua fi’il qalbiy yang berhubungan dengan hati me-nashab-kan dua maf’ul, melainkan di antaranya ada yang me-nashab-kan satu maf’ul seperti عَرَفَ dan فَهِمَ tahu dan paham. Dan adapula yang berhukum lazim tidak memiliki maf’ul seperti حَزُنَ dan جَبُنَ sedih dan takut. Adapun yang dimaksud dengan asal maf’ul merupakan mubtada’ khabar bisa kita lihat pada contoh di bawah ini ظَنَنْتُ زَيْدًا مُسَافِرًا Aku mengira Zaid adalah orang bepergian Contoh di atas berasal dari susunan mubtada’ khobar berikut زَيْدٌ مُسَافِرٌ Zaid adalah orang yang bepergian Menghapus kedua atau salah satu maf’ul Af’al al-Qulub Tidak boleh menghapus kedua maf’ul atau salah satu maf’ul af’al al-qulub dengan alasan iqtishar merasa cukup, dalam artian tanpa dalil. Namun jika ada dalil dengan alasan ikhtishar, yakni meringkas, maka boleh menghapus kedua maf’ul atau salah satunya. Contoh terhapusnya dua maf’ul karena ada dalil adalah sebagai berikut Ketika ada yang bertanya هَلْ ظَنَنْتَ خَالِدًا مُسَافِرًا؟ Apakah kamu mengira khalid adalah orang yang bepergian? Kemudian yang ditanya menjawab ظَنَنْتُ Aku telah mengira Maksudnya adalah ظَنَنْتُهُ مُسَافِرًا Aku telah mengiranya khalid orang yang bepergian Ada juga contoh dari al-Qur’an أَيْنَ شُرَكَاءِيَ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ – القصص 62 Artinya Di mana sekutu-sekutuKu yang engkau yakini اي كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَهُمْ شُرَكَاءِيْ Maksudnya kamu yakin mereka sekutu-sekutuKu Dan contoh dari kata-kata bijak مَنْ يَسْمَعْ يَخَلْ Barangsiapa mendengar maka menyangka اي يَخَلْ مَا يَسْمَعُهُ حَقًّا Maksudnya menyangka apa yang ia dengar sebagai kebenaran Sedangkan contoh terhapusnya satu maf’ul karena ada dalil sebagai berikut Ketika ada yang bertanya هَلْ تَظُنُّ أَحَدًا مُسَافِرًا؟ Apakah kamu mengira seseorang adalah orang yang bepergian? Kemudian seseorang menjawab أَظُنُّ خَالِدًا Aku mengira Khalid اي أَظُنُّ خَالِدًا مُسَافِرًا Maksudnya Aku mengira Khalid adalah orang yang bepergian Namun jika tidak ada dalil yang menunjukkan pada maf’ul yang terhapus maka tidak diperbolehkan menghapus kedua maf’ul atau salah satunya. Inilah pendapat shahih dari beberapa madzhab ulama’ nahwu. Macam-macam Af’al al-Qulub Kemudian, af’al al-qulub dibagi menjadi dua macam Pertama, af’al al-yaqin أفعال اليقين, yang menunjukkan pada keyakinan kepercayaan yang mantap. Kedua, af’al adh-dhann أفعال الظنّ, yang menunjukkan pada dugaan cenderung/condong pada salah satu kemungkinan. Af’al al-Yaqin أفعال اليقين Af’al al-yaqin أفعال اليقين ada 6, yaitu رَأَىعَلِمَدَرَىتَعَلَّمْوَجَدَأَلْفَى Adapun penjelasannya sebagai berikut 1. رَأَى رَأَى yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan meyakini نحو رَأَيْتُ زَيْدًا مُعَلِّمًا Aku tahu dan yakin bahwa Zaid adalah seorang guru Tidak ada perbedaan antara keyakinan yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang berdasar atas kepercayaan yang mantap saja, walaupun keyakinan tersebut berbeda dengan kenyataan. Karena keyakinan itu dinisbatkan/dikembalikan kepada orang yang memiliki keyakinan tersebut. Sebagaimana contoh dalam al-Qur’an. إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيْدًا وَنَرٰىهُ قَرِيْبًا – المعارج ٧-٦ Artinya Sesungguhnya mereka orang-orang kafir meyakininya ba’ts/kebangkitan jauh tercegah dan kita meyakininya ba’ts dekat terjadi/nyata. رَأَى yang bermakna selain عَلِمَ وَاعْتَقَدَ رَأَى yang bermakna الْحِلْمِيَّة bermimpi juga me-nashab-kan dua maf’ul. رَأَى ini memiliki mashdar الرُّأْيَا mimpi/penglihatan saat tidur dan me-nashab-kan dua maf’ul karena juga termasuk pekerjaan yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin. Contohnya sebagai berikut إِنِّيْ أَرٰىنِيْ أَعْصِرُ خَمْرًا – يوسف ٣٦ Artinya Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras khamr Maf’ul yang pertama pada contoh ayat tersebut adalah ya’ mutakallim dan maf’ul keduanya adalah jumlah “أَعْصِرُ خَمْرًا” Namun jika رَأَى adalah بَصَرِيَّة yang bermakna “أًبْصَرَ وَرَأَى بِعَيْنِهِ melihat dengan matanya”, maka ia hanya muta’addi pada satu maf’ul. نحو رَأَيْتُ زَيْدًا Aku telah melihat Zaid رَأَى yang bermakna “إِصَابَةُ الرِّئَةِ” mengenai paru-paru juga muta’addi pada satu maf’ul. نحو ضَرَبَهُ فَرَأَىهُ Aku memukulnya lalu aku mengenai paru-paru-nya 2. عَلِمَ عَلِمَ yang bermakna اعْتَقَدَ yakin muta’addi sampai dua maf’ul. نحو فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ – الممتحنة ١٠ Artinya “Lalu jika kalian yakin bahwa mereka perempuan-perempuan berhijrah adalah orang-orang beriman…” عَلِمَ yang bermakna selain اعْتَقَدَ Apabila عَلِمَ bermakna عَرَفَ mengerti maka ia hanya muta’addi sampai dengan satu maf’ul. نحو عَلِمْتُ الْأَمْرَ Aku telah mengetahui perkara tersebut وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا – النحل ٧٨ Artinya “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dengan keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu” Dan apabila عَلِمَ bermakna شَعَرَ , أَحَاطَ , أَدْرَكَ merasa, meliputi, dan menyampaikan maka ia muta’addi sampai satu maf’ul dengan dirinya sendiri atau dengan perantara huruf ب ba’. نحو عَلِمْتُ الشَّيْئَ / عَلِمْتُ بِالشَّيْئِ Aku telah merasakan sesuatu 3. دَرَى دَرَى yang bermakna عَلِمَ عِلْمَ اعْتِقَادٍ mengetahui dengan pengetahuan keyakinan me-nashab-kan dua maf’ul sebagaimana contoh berikut دَرَيْتُكَ مُجْتَهِدٌ Aku telah mengetahui dengan pengetahuan keyakinan bahwa kamu adalah orang yang rajin Atau bisa kita lihat pada contoh syiir bahar thawil berikut دُرِيْتَ الْوَفِيَّ الْعَهْدَ يَا عَمْرُو فَاغْتَبِطْ فَإِنَّ اغْتِبَاطًا بِالْوَفَاءِ حَمِيْدُ Artinya Telah diketahui dengan pengetahuan keyakinan bahwa engkau adalah orang yang menepati janji Wahai Amr, maka bergembiralah! Sesungguhnya bergembira sebab memenuhi janji itu terpuji Catatan Pada syair tersebut memang “دَرَى” bentuknya bina’ majhul sehingga “تَ” pada “دُرِيْتَ” adalah maf’ul pertama yang berdiri sebagai naib fa’il dan “الْوَفِيَّ” adalah maf’ul kedua yang berdiri sebagai maf’ul pertama. Namun yang sering kali dilakukan pada penggunaan “دَرَى” adalah ia muta’addi kepada satu maf’ul dengan perantara huruf ba’, misalnya دَرَيْتُ بِالشَّيْءِ aku mengetahui sesuatu. دَرَى dengan makna lain Namun apabila دَرَى bermakna “خَتَلَ” memperdaya, maka ia muta’addi sampai satu maf’ul saja, misal دَرَيْتُ الصَّيْدَ aku telah memperdaya binatang buruan. Dan apabila دَرَى bermakna “حَكَّ” menggaruk/menyisir, maka ia juga muta’addi sampai satu maf’ul saja. Misalnya دَرَيْتُ رَأْسِيْ بِالْمِدْرَى aku telah menyisir kepalaku dengan sisir. 4. تَعَلَّمْ تَعَلَّمْ yang bermakna اعْلَمْ وَاعْتَقِدْ ketahuilah dan yakinlah! muta’addi sampai dua maf’ul. Sebagaimana pada syi’ir bahar thawil berikut نحو تَعَلَّمْ شِفَاءَ النَّفْسِ قَهْرَ عَدُوِّهَا فَبَالِغْ بِلُطْفٍ فِي التَّحَيُّلِ وَالْمَكْرِ Yakinlah! sembuhnya hati itu menundukkan musuhnya Maka sampaikanlah dengan lembut dalam siasat dan muslihat Namun penggunaan تَعَلَّمْ dengan diikuti “أَنَّ وَصِلَتُهَا” anna dan shilah/jumlah yang terhubung dengannya lebih banyak dan lebih masyhur. Misalnya pada syiir bahar wafir berikut تَعَلَّمْ أَنَّ خَيْرَ النَّاسِ مَيْتٌ عَلَى جِفْرِ الْهَبَاءَةِ لَا يَرِيْمُ Yakinlah sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah orang mati Yang tidak meninggalkan Jifr al-Haba’ah rawa di Negara Ghathfan تَعَلَّمْ dengan makna lain Apabila تَعَلَّمْ merupakan amr/perintah dari fiil “تَعَلَّمَ يَتَعَلَّمُ” belajar maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو تَعَلَّمُوْا الْعَرَبِيَّةَ وَعَلِّمُوْهَا النَّاسَ Belajarlah Bahasa Arab dan ajarkanlah Bahasa Arab tersebut kepada manusia! 5. وَجَدَ وَجَدَ yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan yakin muta’addi sampai dua maf’ul. Sedangkan mashdar dari fi’il ini adalah الْوُجُوْدُ وَالْوِجْدَانُ . نحو وَجَدْتُ الصِّدْقَ زِيْنَةَ الْعُقَلَاءِ Aku yakin dengan pengetahuan keyakinan bahwa kejujuran adalah perhiasan orang-orang yang berakal وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفٰسِقِيْنَ – الأعراف ١٠٢ Sesungguhnya Kami yakin bahwa kebanyakan dari mereka sungguh orang-orang fasiq وجد dengan makna lain وجد dengan makna lain dengan makna di atas pengetahuan keyakinan tidak termasuk af’al al-qulub. Contohnya seperti Bermakna “mengenai dan mendapatkan sesuatu setelah kehilangannya” وَجَدْتُ الْكِتَابَ وُجُوْدًا وَوِجْدَانًا Aku menemukan kitab dengan sebenar-benarnya penemuan Bermakna “dendam dan marah” وَجَدَ عَلَيْهِ مَوْجِدَةً Aku marah padanya dengan sebenar-benarnya marah إِنِّيْ سَائِلُكَ فَلَا تَجِدْ عَلَيَّ Sesungguhnya aku adalah orang yang bertanya padamu maka janganlah engkau marah padaku Bermakna “sedih” atau “suka” وَجَدَ بِهِ وَجْدًا Aku sedih padanya dengan sebenar-benarnya sedih وَجَدَ بِهِ وَجْدًا Aku suka dengannya dengan sebenar-benarnya suka Bermakna “merasa cukup” وَجَدَ جِدَةً Aku merasa cukup dengan sebenar-benarnya rasa cukup 6. أَلْفَى أَلْفَى yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan yakin muta’addi sampai dua maf’ul. نحو أَلْفَيْتُ قَوْلَكَ صَوَابًا Aku yakin bahwa ucapanmu benar أَلْفَى dengan makna lain Apabila أَلْفَى bermakna “menemukan” أصاب الشيء وظفر به maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو أَلْفَيْتُ الْكِتَابَ Aku menemukan kitab وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا الْبَابِ – يوسف ٢٥ Dan mereka berdua mendapati tuan/suami wanita tersebut di depan pintu Af’al adh-Dhann أَفْعَالُ الظَّنِّ Af’al adh-Dhann merupakan fi’il-fi’il yang menunjukkan makna dugaan yakni kecenderungan pada salah satu kemungkinan. Dan af’al adh-dhann terdapat dua macam, yakni Macam Pertama, yang bermakna dua yakni dugaan dan yakin, namun kebanyakan bermakna dugaan. Seperti ظَنَّ , خَالَ , حَسِبَ Macam Kedua, yang bermakna dugaan saja. Seperti جَعَلَ , حَجَا , عَدَّ , زَعَمَ , هَبْ Macam Pertama Terdapat tiga fiil pada macam ini, antara lain 1. ظَنَّ ظَنَّ merupakan fiil yang menunjukkan kecenderungan pada salah satu kemungkinan. نحو ظَنَنْتُكَ مُسْلِمًا Aku mengira engkau adalah orang Islam Terkadang ظَنَّ menunjukkan makna yakin, misalnya الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلَاقُوْا رَبِّهِمْ – البقرة ٤٦ Yaitu orang-orang yang telah yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan Tuhannya وَظَنُّوْا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ – التوبة ۱۱۸ Dan mereka telah mengetahui/meyakini bahwasanya tidak ada tempat berlari dari siksa Allah kecuali hanya kepada Allah Namun apabila ظَنَّ bermakna اتَّهَمَ menuduh maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو ظَنَّ الْقَاضِيُ فُلَانًا Seorang hakim telah menuduh si anu 2. خَالَ خَالَ maknanya sama dengan ظَنَّ yang menunjukkan kecenderungan. نحو خَالَ زَيْدٌ بَكْرًا مُعَلِّمًا Zaid telah menduga Bakr adalah guru Dan terkadang خَالَ menunjukkan makna yakin, seperti pada syiir bahar thawil berikut دَعَانِي الْغَوَانِي عَمَّهُنَّ وَخِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ فَلَا أُدْعَى بِهِ وَهُوَ أَوَّلُ Orang-orang kaya memanggilku sebagai paman mereka dan engkau yakin bahwa aku mempunyai nama, lalu bukankah aku dipanggil dengan nama tersebut yang aku punya itu lebih utama? خِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ Ya’ mutakallim pada خِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ merupakan maf’ul pertama dan jumlah “لِيَ اسْمٌ” menempati tempat nashab sebagai maf’ul kedua. 3. حَسِبَ حَسِبَ mempunyai makna yang sama dengan ظَنَّ yang menunjukkan kecenderungan. نحو يَحْسَبُهُمْ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ – البقرة ۲۷۳ Orang yang bodoh menduga bahwa mereka orang-orang kaya sebab memelihara diri dari meminta-minta وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُوْدٌ – الكهف ۱۸ Dan kamu mengira bahwa mereka terjaga sedangkan mereka itu tidur Terkadang حَسِبَ menunjukkan makna keyakinan seperti halnya contoh pada bahar thawil berikut حَسِبْتُ التُّقَى وَالْجُوْدَ خَيْرَ تِجَارَةٍ رَبَاحًا إِذَا مَا الْمَرْءُ أَصْبَحَ ثَاقِلًا Aku yakin bahwa ketaqwaan dan kedermawanan adalah sebaik-baik perdagangan yakni keuntungannya ketika seseorang menjadi berat/sakaratul maut Macam kedua Terdapat lima fiil pada macam ini yakni af’al adh-dhann yang hanya menunjukkan makna dugaan, antara lain 1. جَعَلَ جَعَلَ dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul نحو وَ جَعَلُوْا الْمَلٰئِكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمٰنِ إِنَاثًا – الزخرف ۱۹ Artinya “Dan mereka menduga bahwa malaikat-malaikat yaitu hamba-hamba Allah adalah perempuan”. جَعَلَ dengan makna lain Apabila جَعَلَ bermakna أَوْجَدَ mewujudkan/menciptakan atau أَوْجَبَ menjaga/memperhatikan maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ – الأنعام ١ Dan Allah menciptakan kegelapan-kegelapan dan cahaya اجْعَلْ لِنَشْرِ الْعِلْمِ نَصِيْبًا مِنْ مَالِكٍ Perhatikanlah bagian dari raja untuk penyebaran ilmu Selanjutnya, apabila جَعَلَ bermakna صَيَّرَ merubah maka ia termasuk pada af’al at-tahwil yang menashabkan dua maf’ul. Pembahasan mengenai af’al at-tahwil akan dibahas pada postingan selanjutnya. Lalu apabila جَعَلَ bermakna أَنْشَأَ mulai maka ia termasuk fiil muqarabah/fiil naqish yang menunjukkan makna “memulai dalam melakukan sesuatu”. جَعَلَ زَيْدٌ يَمْشِيْ Zaid mulai berjalan 2. حَجَا حَجَا dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul حَجَوْتُ أَبَاكَ صَائِمًا Aku mengira ayahmu adalah orang yang berpuasa حَجَا dengan makna lain حَجَا hanya muta’addi sampai satu maf’ul apabila mempunyai makna-makna sebagaimana berikut Mengalahkan dalam teka-teki حَاجَيْتُهُ فَحَجَوْتُهُ Aku telah memberi teka-teki padanya lalu aku mengalahkannya dalam teka-teki Menolak/mencegah حَجَوْتُ زَيْدًا Aku telah mencegah Zaid Menyembunyikan/merahasiakan/menjaga حَجَوْتُ السِّرَّ Aku telah menyembunyikan/menjaga rahasia Menjalankan/mendorong حَجَتِ الرِّيْحُ سَفِيْنَةً Angin telah mendorong kapal Dan حَجَا berhukum lazim/tidak memiliki maf’ul apabila mempunyai makna sebagai berikut Mendiami/tinggal حَجَا بِالْمَسْجِدِ Ia mendiami/tinggal di masjid Kikir/terlampau hemat حَجَا بِالشَّيْءِ Ia terlampau hemat pada sesuatu 3. عَدَّ عَدَّ dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh pada syi’ir bahar thawil berikut نحو فَلَا تَعْدُدِ الْمَوْلٰى شَرِيْكَكَ فِي الْغِنَى وَلٰكِنَّمَا الْمَوْلٰى شَرِيْكُكَ فِي الْعُدْمِ Maka jangan kau kira anak paman adalah temanmu dalam kekayaan Akan tetapi anak paman adalah temanmu dalam kefakiran عَدَّ dengan makna lain Apabila عَدَّ bermakna “menghitung” maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul. نحو عَدَدْتُ الدَّرَاهِمَ Aku telah menghitung beberapa dirham 4. زَعَمَ زَعَمَ dengan makna ظَنَّ ظَنًّا رَاجِحًا “menyangka dengan sangkaan yang kuat” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh syi’ir bahar khafif berikut زَعَمْتَنِيْ شَيْخًا وَلَسْتُ بِشَيْخٍ إِنَّمَا الشَّيْخُ مَنْ يَدِبُّ دَبِيْبًا Kau menduga diriku adalah syaikh orang yang sudah tua, sedangkan diriku bukanlah syaikh Syaikh itu tidak lain adalah orang yang merangkak dengan sebenar-benarnya merangkak زَعَمَ dengan makna lain Namun secara umum penggunaan زَعَمَ lebih sering digunakan untuk menunjukkan makna dugaan yang salah, زَعَمَ mengungkapkan ucapan yang diduga sebagai kebohongan. Maka dari itu زَعَمَ digunakan dalam hal yang di dalamnya terdapat kebimbangan atau hal yang sudah diyakini kebohongannya. Orang arab biasanya berkata “زَعَمُوْا كَذَا وَ كَذَا” Orang arab berkata bla bla bla. Dalam artian ”bla bla bla” tersebut adalah perkataan yang bohong. Terkadang pula زَعَمَ bermakna “berkata” saja, tanpa embel-embel bahwa perkataan tersebut adalah kebohongan, dugaan, atau kebimbangan. Apabila زَعَمَ bermakna “memimpin” تَأَمَّرَ وَرَأَّسَ atau “menanggung“ كَفَلَ بِهِ maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja dan dengan perantara huruf jarr. زَعَمَ عَلَى الْقَوْمِ Ia telah memimpin kaum زَعَمَ بِالْمَالِ Ia telah menanggung harta Dan زَعَمَ yang bermakna “lezat/enak” berhukum lazim. زَعَمَ اللَّبَنُ Susu tsb enak 5. هَبْ هَبْ yang berbentuk perintah “fi’il amr” dengan makna “dugalah!” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh pada syi’ir bahar mutaqarib berikut فَقُلْتُ أَجِرْنِيْ أَبَا خَالِدٍ وَإِلَّا فَهَبْنِيْ امْرَءًا هَالِكًا Kemudian aku berkata “Tolonglah aku wahai Abu Kholid, dan jika tidak maka dugalah aku sebagai orang yang hancur” هَبْ dengan makna lain Apabila هَبْ bermakna “berikanlah!” berasal dari هِبَةً maka ia tidak termasuk af’al al-qulub walaupun ia muta’addi sampai dua maf’ul. Karena kedua maf’ul-nya bukan berasal dari mubtada’ khobar. هَبِ الْفُقَرَاءَ مَالًا Berilah orang-orang faqir harta! Menurut lughah yang fashih pada contoh di atas, هَبْ bermakna “berikanlah!” muta’addi kepada maf’ul pertama dengan bantuan lam’. هَبْ لِلْفُقَرَاءَ مَالًا Berilah harta kepada orang-orang faqir! Namun apabila هَبْ bermakna “takutlah!” berasal dari هَيْبَةً maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. هَبْ رَبَّكَ Takutlah pada Tuhanmu! Kesimpulan Af’al al-qulub ada 14 jumlahnya yaitu رَأَىعَلِمَدَرَىوَجَدَأَلْفَىتَعَلَّمْظَنَّخَالَحَسِبَجَعَلَحَجَاعَدَّزَعَمَهَبْ Dimana dari angka 1-6 adalah af’al al-yaqin, dan dari angka 7-14 merupakan af’al al-dhann. Namun 7, 8, dan 9 terkadang menunjukkan makna yakin. Demikian pembahasan af-al al-qulub semoga bermanfaat.
Artikel Af'alul khomsah Pengertian, Contoh dan Tanda I'robnya menjelaskan tentang pengertian Af'alul khomsah, tanda I'rob yang terdapat di Af'alul khomsah, Contoh Af'alul khomsah di bahasa Arab serta contoh penulisan Af'alul khomsah di dalam Alqur'an. Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara, apabila saudara mempunyai pertanyaan silahkan tanyakan melalui kolom komentar di bawah atau melalui halaman itu Af'alul Khomsah?secara bahasa Arab af'alul khomsah berarti fi'il yang lima, Pengertian af'alul khomsah adalah setiap fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak dan ya' mu'annas mukhotobah. afa'alul khomsah atau fi'il yang lima itu sebagai berikut يَفْعَلَانِ artinya Dia berdua laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلَانِ artinya Kamu berdua laki-laki sedang mengerjakanيَفْعَلُوْنَ artinya Mereka laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلُونَ artinya Kalian laki-laki sedang mengerjakan تَفْعَلِيْنَ artinya Kamu wanita sedang mengerjakanDari pola wazan di atas akan kita gunakan untuk kata kerja sa ala bertanya dan fataha membuka sebagiamana contoh di bawah Tabel Perubahan kata dengan wazan pola af'alul khomsahContoh Af'alul khomsah di kalimat bahasa ArabBerikut 5 contoh penulisan Af'alul khomsah di dalam kalimat bahasa Arab, adapun warna kuning kami berikan kepada lafadz yang terdapat asma'ul khomsah supaya memudahkan di dalam mempelajari dan وَ مُهَمَّدٌ يَسْأَلاَنِ اِلَى الْاُسْتَاذِ Artinya Zaid dan Muhammad sedang bertanya kepada ustadzهُمْ يَقْرَئُوْنَ الْقُرْان فِى الْمَسْجِدِ Artinya Mereka membaca Al Qur'an di masjidاَنْتُمَا تَفْتَحَانِ الْبَاب Artinya Kamu berdua sedang membuka pintuاَنْتُمْ تنْصُرُوْنَ الْمُسْلِمَة Artinya Kalian semua sedang menolong muslimahاَنْتِ تَفْتَحِيْنَ الْكِتَابَ Artinya Kamu Wanita sedang membuka pintuTanda I'rob Af'alul khomsah di Bahasa ArabMenurut ilmu tata bahasa Arab, Af'alul khomsah memliki 3 tanda I'rob, 3 tanda i'rob di Af'alul khomsah adalah Rofa', Jazm dan Nashob. sebagaimana tertulis di dalam nadhoman kitab Alfyah waj'al li nahwi yaf'alaanin nuuna rof'an wa tad'iina wa tas لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رفْعًاوَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَاوَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْArtinya Jadikanlah Nun sebagai tanda rofa' untuk kalimat yaf'alaani, seperi lafadz tad'iina Fi'il Mudhori' dengan ya' muannas Mukhotobah dan seperti lafadz tas aluna fi'il mudhori' dengan wawu jama'. Adapun Jazm dan Nashob sama dengan membuang nun seperti lafadz lam takuuni li taruumi madzlamah seorang wanita tidak sengaja melakukan kedholiman"Dari nadhoman Alfiyah di atas dapat difahami bahwa Af'alul khomsah bisa memiliki tanda i'rob rofa' Tanda rofa'nya dengan adanya nun, seperti tad'iina dan tas aluna pada contoh nadhoman Alfiyah di atas. Adapun contoh I'rob rofa' dengan af'alul khomsah di bahasa Arab sebagai berikut اَنْتُمْ تَذْهَبُوْنَ اِلَى الْمَدِيْنَةِ Artinya Kalian semua lelaki pergi ke kota, tadzhabuuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahالمُسلِمُوْنَ يَقْرَئُونَ الْقُرْانَ فِى الْمَسْجِدِ Artinya Orang-orang muslim membaca Al qur'an di Masjid, yaqrouuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahالمُسلِمُوْنَ يَجْلِسُونَ فِى الْبَيْتِ Artinya Orang-orang muslim sedang duduk di rumah, yajlisuuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahI'rob Jazm di Af'alul KhomsahMenurut Nadhoman alfiyah di atas untuk menunjukkan adanya I'rob Jazm di Af'alul Khomsah adalah dengan membuang nun, seperti lafadz lam takuuni, yang asalnya takuuniina, karena ada amil yang menjazmkan berupa harfun lam, maka menjadi lam takuunii.لَمْ تَكُــــوْنِي asalnya adalah تَكُــــوْنِيْنَ, harfun lam menjamzkan fi'il mudhori' sehingga lafadz takuuniina harus membuang nun nya menjadi takuuniMembuang huruf Nun wajib sebagai tanda i'rob jazm juga tertulis di dalam nadhoman kitab imrithi sebagai berikut fakhadzfu nuunir rof'i qot'an yalzamu fil khomsatil af'aali khaetsu نُوْنِ الرَّفْعِ قَطْعًايَلزَمُ فِي الخَمْسَةِ لأَفْعَالِ حَيْثُ تُجْزَمُArtinya "Membuang nun alamat rofa' itu diwajibkan sebagai tanda I'rob Jazm pada Af'alul khomsah." Adapun contoh kalimat bahasa Arab dengan I'rob Jazm di Af'alul khomsah sebagai berikutاَنْتُمْ لَمْ يَنْصُرُو اَطْفَالُهُمْ Kamu semua belum menolong anak-anak mereka. yanshuruu adalah merupakan contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah لَمْ يَقْرَئُو الْقُرْان فِى الْمَسْجِد Mereka semua belum membaca Al Qur'an di Masjid, yaqrou adalah contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah لَمْ يَجْلِسُوْ فِى الْبَيْتِ Orang-orang muslim belum duduk di rumah, yajlisu adalah contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah Nashob di Af'alul KhomsahMenurut Nadhoman alfiyah di atas untuk menunjukkan adanya I'rob Nashob di Af'alul Khomsah adalah dengan membuang huruf nun, seperti lafadz litaruumii, asalnya adalah taruumiina, karena ada lam juhud yaitu lam yang menashobkan fi'il mudhori' maka menjadi litaruumi. لِتَرُوْمِي asalnya adalah تَرُوْمِيْنَ, terdapatnya lam juhud maka menashobkan fi'il mudhori' sehingga menjadi litaruumiMembuang Nun sebagai tanda I'rob Nashob pada af'alul khomsah juga tertulis di dalam nadhoman kitab jurumiyah ang berbunyi wa amma hadzfun nuuni fayakuunu 'alaamatan lin nasbi fil af'alil khomsatil latiy rof'uha bisyabaatin حَذْفُ النُّوْنِ فَيَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِى الْاَفْعَالِ الْخَمْسَةِ الَّتِي رَفْعُهَا بِثَبَاتِ النُّونِ Artinya " Adapun terbuangnya nun maka ia menjadi tanda bagi nashob pada fi'il yang lima ketika rofa'nya dengan tetap nun."Adapun contoh terbuangnya nun dengan sebagai tanda i'rob nashob kami berikan warna kuning. Contoh kalimat i'rob nashob dengan terbuangnya nun pada Af'alul khomsah sebagai berikut1. نَحْنُ لَنْ يَكْتُبُوْا فِى الْمَسْجِد Artinya Kami tidak akan menulis di masjid, yaktubu menjadi nashob karena amil nawashib lan, yaktubuu asalnya yaktubuuna2. لَنْ يَّضُرُّوا اللّهُ شَيْئً Artinya Mereka tidak akan memberi bahaya kepada Allah sedikit pun yadhurru menjadi nashob karena terdapat amil nawashib lan, yadhurru asalnya adalah yadhurruuna 2. فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ QS. Muhammad ayat 22 Artinya "Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?". tufsiduu menjadi nashob karena karena terdapat amil nawashib lan, tufsiduu asalnya adalah Penulisan Af'alul khomsah di dalam Al Qur'anAapun lafadz yang menunjukkan bahwa lafadz tersebut mengikui pola wazan af'alul khomsah kami berikan garis bawah supaya lebih mudah di dalam mempelajarinya Berikut adalah contoh penulisan af'alul khomsah di dalam Al Quran الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ QS. Al Baqoroh ayat 3 yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,. اَمْ لَمْ يَعْرِفُوْا رَسُوْلَهُمْ فَهُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَ ۖ QS. AL Mu'minun ayat 69 Artinya ataukan mereka tidak mengenal Rosul mereka muhammad, karena itu mereka mengingkarinyaفَاِذْ لَمْ يَأْتُوْا بِالشُّهَدَاۤءِ فَاُولٰۤىِٕكَ عِنْدَ اللّٰهِ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ ,,, QS. An nur ayat13 Artinya Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ QS. An Nur ayat 17 Artinya Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ QS. An Nur ayat 22 Artinya Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah
– Af’alul khomsah adalah lima fi’il mudhari’ yang memiliki karakteristik khusus dalam hukum i’rabnya sehingga menjadi pembagian sendiri dalam penjelasan kalimat fi’il Bahasa Arab. Yang perlu diperhatikan, jangan sampai tertukar dengan istilah asmaul khomsah. Afalul khomsah = fi’il yang lima. Asmaul khomsah = isim yang lima. Karena sama-sama menggunakan istilah khomsah, banyak pemula yang tertukar saat menyebutkan keduanya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut apa itu afalul khomsah beserta contohnya, yuk simak penjelasannya berikut ini. Secara bahasa Secara bahasa, afalul khamsah الأفعال الخمسة terdiri dari dua kata الأفعال dan الخمسة. الأفعال merupakan jamak taksir dari lafadz الفعل yang berarti kalimat-kalimat fi’il. GUNAKAN PROMO INI SEBELUM KEHABISAN .... Sedangkan kata الخمسة berarti yang lima. Dengan demikian, secara bahasa, afalul khomsah berarti fi’il-fi’il yang limat. Secara istilah Adapun menurut istilah ilmu nahwu, definisi afalul khomsah yaitu sebagai berikut الأفعال الخمسة هي كل فعل مضارع اتّصل به ألف الاثنين، أو واو الجماعة، أَو يَاء المخاطبة Af’alul khomsah adalah setiap fiil mudhari’ yang bersambung dengannya alif tatsniyah, atau wawu jamak, atau ya’ mukhotobah.kitab An-Nahwu At-Tathbiqiyy Macam Macam Afalul Khomsah gambar tabel macam macam af’alul khomsah Dilihat dari pengertiannya, af’alul khomsah bisa dibagi menjadi 3 kelompok besar Alif tatsniyah Afalul khomsah dari alif tatsniyah ada dua macam يَفْعَلَانِ dan تَفْعَلَانِ. Keduanya berasal dari dhomir huma dan antuma. Lihat tabel berikut ini NoDhomirAfalul KhomsahArtinya1lk2-هُمَايَفْعَلَانِMereka berdua laki-laki sedang/akan mengerjakan2pr-هُمَاتَفْعَلَانِMereka berdua perempuan sedang/akan mengerjakan3اَنْتُمَاتَفْعَلَانِKalian berdua bisa laki/perempuan sedang/akan mengerjakanTabel afalul khomsah dari alif tatsniyah Perhatikan kata تَفْعَلَانِ. INGIN PINTAR BERBAHASA ARAB? BELI BUKUNYA DENGAN HARGA PROMO DI SINI Kata tersebut bisa digunakan untuk mereka berdua perempuan, dan bisa juga untuk kamu berdua baik laki-laki maupun perempuan. Wawu Jamak Pembagian af’alul khomsah yang kedua, yang diikuti dengan wawu jamak. Ada dua macam juga. Berasal dari dhomir hum dan antum. Lihat tabel berikut untuk lengkapnya NoDhomirAfalul KhomsahArtinya1هُمْيَفْعَلُوْنَMereka laki-laki sedang/akan mengerjakan2اَنْتُمْتَفْعَلُوْنَKalian laki-laki sedang/akan mengerjakanTabel afalul khomsah dari wawu jama’ah Baca jamak mudzakkar salim. Ya Mukhotobah Yang terakhir, satu fi’il mudhari’ yang diikuti ya’ mukhotobah. Berasal dari dhomir anti اَنْتِ. Yaitu تَفْعَلِيْنَ. Artinya kamu perempuan sedang/akan mengerjakan. Sebutkan Af’alul Khomsah Apa Saja! Setelah mengetahui pembagiannya, maka bisa kita ringkas, 5 fi’il mudhori’ yang disebut dengan afaalul khomsah yaitu يَفْعَلَانِ contohnya contohnya contohnya contohnya contohnya تَكْتُبِيْنَ. Silakan hafalkan 5 fi’il mudhari’ di atas agar nanti lancar saat menentukan i’rabnya. 5 Kondisi di atas adalah kondisi saat marfu’. Hukum I’rab Af’alul Khomsah Alamat i’rob af’alul khomsah yaitu sebagai berikut Alamat rofa’ af’alul khamsah adalah bitsubutin-nun dengan tetapnya nun. Contohnya الْمُسْلِمُوْنَ يُصَلُّوْنَ فِي الْمَسْجِدِ. Para lelaki muslim sedang sholat di khamsah saat nashob ditandai dengan membuang nun. Contohnya الْمُسْلِمُوْنَ لَنْ يُصَلُّوْا فِي السَّفِيْنَةِ. Para lelaki muslim tidak akan sholat di khamsaat saat jazm ditandai dengan membuang nun. لَمْ يُصَلُّوْا. Saat nashob dan jazm, nun dibuang. Saat rofa’, nun tetap ada. Pembagian Af’alul Khomsah Afalul khomsah bisa juga dibagi menjadi 3 yaitu Bentuk ma’lum Yaitu yang berbentuk kata kerja aktif. Bisa diartikan me-. Contohnya يَنْصُرَانِ، تَنْصُرَانِ، يَنْصُرُوْنَ، تَنْصُرُوْنَ، تَنْصُرِيْنَ Artinya menolong. Contohnya dalam bentuk kalimat. الْمُسْلِمَانِ يَنْصُرَانِ أَخَاهُمَا Dua orang muslim menolong saudara mereka berdua. Bentuk majhul Berbentuk kata kerja pasif. Artinya di-. يُنْصَرَانِ، تُنْصَرَانِ، يُنْصَرُوْنَ، تُنْصَرُوْنَ، تُنْصَرِيْنَ Artinya ditolong. Contohnya dalam kalimat الْمُسْلِمَانِ يُنْصَرَانِ. Penjelasan Af’alul Khomsah Lanjutan Alif tatsniyah, wawu jamak, dan ya mukhotobah pada afalul khomsah, ada kalanya menjadi fa’il, naibul fa’il, dan isimnya kaana. Menjadi fa’il, jika dalam bentuk ma’lum, seperti يَجْلِسُوْنَ, mereka laki-laki naibul fa’il, dalam bentuk majhul, seperti يُكْتَبُوْنَ, mereka laki-laki isimnya kaana, seperti يَكُوْنَانِ، يَكُوْنُوْنَ، تَكُوْنِيْنَ. Contoh Kalimat Af’alul Khomsah Contoh dibentuk dari fiil madhi Berikut ini contoh afalul khomsah beserta artinya NoFiil MadhiAf’alul KhomsahMa’lumAf’alul KhomsahMajhulArtinya1ضَرَبَيَضْرِبُوْنَيُضْرَبُوْنَMemukul/Dipukul2اَخْرَجَيُخْرِجَانِيُخْرَجَانِMengeluarkan/Dikeluarkan3عَلَّمَتُعَلِّمُوْنَتُعَلَّمُوْنَMengajar/Diajar4اَكْرَمَتُكْرِمَانِتُكْرَمَانِMemuliakan/Dimuliakan5قَرَأَيَقْرَأُوْنَيُقْرَأُوْنَMembaca/Dibaca6اَذْهَبَتُذْهِبِيْنَتُذْهَبِيْنَMenghilangkan/Dihilangkan7مَنَعَيَمْنَعُوْنَيُمْنَعُوْنَMencegah/Dicegah8اَنْزَلَيُنْزِلُوْنَيُنْزَلُوْنَMenurunkan/Diturunkan9سَأَلَتَسْأَلُوْنَتُسْأَلُوْنَBertanya/Ditanya10عَرَفَيَعْرِفُوْنَيُعْرَفُوْنَMengetahui/DiketahuiTabel contoh afalul khomsah Contoh dalam Al Qur’an Berikut ini contoh-contoh afalul khomsah di dalam Al Qur’an beserta surat dan ayatnya Marfu’ Surat Al Baqarah ayat 75 اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَكُمْ. Maka apakah kamu Muslimin sangat mengharapkan mereka akan percaya al Maidah ayat 37 يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنَ النَّارِ. Mereka ingin keluar dari Ar-rahman ayat 6 وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ. Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk kepada-Nya.Surat Hud ayat 73 قَالُوْٓا اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ. Mereka para malaikat berkata, “Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah?Surat Hud ayat 18 اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan al ahqaf ayat 17 وَهُمَا يَسْتَغِيْثٰنِ اللّٰهَ. Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah. Manshub Surat Al Baqoroh ayat 75 اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا al Maidah ayat 37 يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنَ Al Kahfi ayat 82 ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Majzum Surat As-shaffat ayat 29 قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, “Tidak, bahkan kamulah yang tidak mau menjadi orang At-Tahrim ayat 10 فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا. Tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari siksaan Al Qashash ayat 7 وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ. Dan janganlah engkau takut dan jangan pula bersedih hati. Beri’rab jazm karena didahulu laa nahiyah. Baca juga Alamat nashob jamak muannats salim. Akhir Kata Setelah membaca artikel ini, mudah-mudahan kamu bisa menjawab, apa yang dimaksud afalul khomsah, bisa sebutkan macam dan contohnya, serta bisa menentukan i’rab yang tepat. Demikian materi penjelasan lengkap tentang af’alul khomsah kali ini. Silakan dishare jika materi ini bermanfaat. Baca juga isim ghoiru munshorif.
4 Februari 2009 at 1211 PM Menurut Muhammad Abduh, bahwa “At-tauhid huwa wahdaniyatullah fi al-zat wa al-sifat wa al-af’al wa al-ibadah wama siwazaalik”, artinya, “Tauhid itu adalah meng-esakan Allah dalam zat, dalam sifat, dalam perbuatan, dalam ibadah, dalam pujian, dalam pemeliharaan, dan dalam hal-hal lain.” Perbuatan-perbuatan Allah adalah sesuatu yang unik, yang hanya itu saja, dan tidak ada yang lain dapat menyamai apa yang dilakukan Allah. Artinya, perbuatan Allah adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah tanpa ada sesuatu lain yang dapat menyamai ataupun menirukan apa yang dilakukan Allah Swt. Perbuatan-perbuatan Allah ini ditujukan semuanya dalam rangka sifat Maha Rahman dan Maha Rahim yang tujuannya untuk kebaikan makhluk-Nya, terutama untuk makhluk-Nya yang paling unggul, yaitu manusia. Sehingga dengan demikian sebenarnya, apa yang dilakukan Allah Swt itu sesungguhnya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Karena itulah, Allah Swt mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan untuk manusia itu merupakan sesuatu yang pasti tujuannya untuk kebaikan. Pertama kali Allah menciptakan alam dan isinya, “fi khalqissamawaati wal ardh” dalam penciptaan langit-langit dan bumi, untuk apa itu? Yaitu untuk kebaikan kita. Allah menciptakan bahwa di langit-langit itu atau di antara langit dan bumi terdapat ruang yang berisi udara. Untuk apa itu? Semuanya untuk manusia pula. Dan karena itu pula, Allah kemudian mengungkapkan, bahwa dalam rangka kebaikan itu, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik pula. Sehingga diungkapkan dalam satu ayat yang terdapat dalam Surat At-Tiin, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. At-Tiin 4 Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh Allah itu adalah mempunyai tujuan-tujuan khusus. Ketika menciptakan kebaikan, Allah mempunyai tujuan. Demikian juga ketika ada hal-hal yang ternyata itu merupakan sesuatu yang dinilai merugikan bagi manusia, tetapi dalam hal-hal yang merugikan itu ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Setiap Rasul mendapat anugerah mu’jizat yang dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya. Nabi Isa mendapat mu’jizat pengobatan, sehingga dapat menolong sebagian umatnya yang menderita penyakit yang ketika itu belum ada obatnya, dan nabi-nabi yang lain pun juga mendapat mu’jizat yang kemudian dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya umatnya ketika itu. Lantas apakah anugerah Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat memberikan nilai-nilai positif atau kenikmatan-kenikmatan kepada umatnya seperti para nabi dan rasul yang terdahulu yang mendapat anugerah mu’jizat sehingga dapat memberikan nilai-nilai positif dan kenikmatan kepada umat-umatnya ketika itu? Di dalam Surat Ali Imran ayat 190-191 disebutkan Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, Ali Imraan 190 Siapakah ulil albab itu? yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ali Imraan 191 Tampaknya di sini Allah telah memberikan perbandingan, bahwa umat-umat terdahulu merupakan umat-umat yang keras, yang hanya mau percaya kalau mereka melihat sesuatu yang diinformasikan itu secara nyata. Sampai-sampai ketika mereka dianjurkan untuk beriman kepada Allah, jawaban mereka apa? Lam nu’minalaka, hatta narallaha jahratan Ya Musa, kami tidak akan beriman kepada apa yang kamu informasikan, sampai kami melihat Allah yang merupakan Sang Khalik dapat kita lihat secara nyata. Sehingga pada ayat tadi sebetulnya adalah untuk teguran, bahwa umat Nabi Muhammad itu secara budaya sudah lebih modern dibandingkan umat Nabi Musa. Sekarang kita ini secara budaya dan secara ilmu pengetahuan, sudah lebih modern dibandingkan dengan para sahabat. Tetapi, kemodernan akibat budaya, akibat kemajuan penalaran, mengapa masih harus disertai dengan pemikiran umat masa lalu yang kalau sesuatu itu harus terlihat nyata di depan kita. Maka Allah menegur, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta dalam pergantian malam dan siang, itu sebetulnya sudah cukup sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagai tanda dan bukti bahwa Allah itu Wujud ada, Allah itu Qadirun berkuasa/mampu melakukan segala sesuatu, tanpa harus ditunjukkan bahwa Allah itu seperti ini dan seperti itu. Sehingga bukanlah cara yang terbaik untuk membuktikan bahwa Allah itu ada, yaitu dengan meminta sesuatu yang nyata, walaupun itu memang mu’jizat. Dalam bahasa aqidah, apa yang dianugerahkan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi-nabi terdahulu itu dinamakan “Mu’jizat Mu’aqqatah” mu’jizat yang temporer, yang hanya terjadi sekali dan tidak akan pernah terulang lagi. Sehingga, Nabi Musa memukulkan tongkat maka laut terbelah menjadi jalan, itu takkan terulang lagi. Begitu juga ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu dan batu itu memancarkan dua belas mata air, itu hanya terjadi sekali dan takkan pernah terulang lagi. Apakah Rasulullah Saw pernah mendapatkan mu’jizat mu’aqqatah? Pernah, yaitu ketika dalam suatu peperangan, makanan habis, padahal ketika itu pasukan istirahat, perut lapar, energi habis, maka kemudian Rasulullah bisa memperbanyak makanan yang sedikit. Tetapi itupun hanya terjadi sekali. Dengan seperti ini, apakah umat Rasulullah Saw para sahabat ketika itu hanya menginginkan bukti yang hanya sekali saja, kemudian tidak dapat dinalar dan dibuktikan kembali pada masa-masa yang akan datang. Maka kemudian Allah menegur, bahwa kalau masih bersikap demikian meminta bukti yang nyata berupa mu’jizat mu’aqqatah, maka umat Rasulullah akan dikategorikan bukan termasuk “ulul albab”. “albab” itu jamak dari “lubbun”, “lub” artinya intisari. Intisari dari manusia adalah akal dan jiwanya. “ulul albab” adalah kelompok yang memiliki saripati kemanusiaan. Artinya yang memiliki akal dan jiwa yang difungsikan. Sehingga kita-kita ini akan disebut sebagai orang yang memiliki akal yang difungsikan, atau sebaliknya yaitu yang memiliki akal tapi tidak difungsikan? Pernah dikritik Allah, “lahum quluubun laa yafqahu nabiha” mereka punya jiwa, punya hati, punya akal, tapi tidak dipakai untuk memikirkan segala sesuatu. Mereka punya mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ciptaan Allah Yang Maha Sempurna. Mereka punya telinga, tapi tidak dipergunakan untuk mendengar kebaikan-kebaikan yang disampaikan. Sehingga kemudian Allah menegur, apakah kita manusia mau memilih mana antara “ulul albab” atau orang-orang yang hanya puas dengan bukti sesaat. Kalau memilih “ulul albab”, maka di situlah, “allazina yazkurunallah” yang selalu berzikir ingat kepada Allah kapan saja, di mana saja, serta bagaimanapun keadaannya, selalu mengingat Allah. Ketika kita ingat kepada Allah, apa implikasinya? Implikasinya adalah kita menjadi ingat kepada ciptaan-Nya, Maha Kuasa-Nya, Maha Kebaikan-Nya. Sehingga ini akan mendorong kita, kalau Allah Maha Baik, saya bisa tidak menjadi baik, kalau Allah Maha Pengampun, saya bisa tidak mengampuni sesama. Ini akan mendorong kita untuk memiliki sifat-sifat yang ada pada Allah. Sehingga nantinya akan, “Rabbana, maa khalaqta haaza baathila” Ya Allah, sungguh tidak sia-sia Engkau ciptakan sesuatu yang ada di dunia. Sungguh tidak sia-sia Allah menciptakan segala sesuatunya di atas dunia ini. Bahkan bencana alam sekalipun merupakan ciptaan Allah, yaitu ciptaan yang sesuai dengan sunnatullah. Kalau begitu di mana letaknya kalau ciptaan ini memberikan kebaikan bagi manusia? Dengan bencana alam, pada awalnya manusia memang mengalami banyak kerugian, banyak yang mati, lingkungannya rusak dan sebagainya. Tapi dengan bencana alam ini ternyata kemudian menimbulkan kesadaran, kepedulian dari sesama menyikapi musibah yang menimpa saudaranya, sehingga tergerak untuk membantu. Inilah nilai positifnya. Tidak ada hal yang sia-sia dari apa yang diciptakan oleh Allah di atas dunia ini, meskipun bencana alam sekalipun. Kalau kita menghayati semua ini, maka kita akan menemukan hikmah dan tujuan dari penciptaan Allah tentang hal-hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pasti pada akhirnya kita akan menemukan sesuatu yang memberikan nilai manfaat dan nilai lebih bagi kehidupan kita. Apakah tujuan Allah mengutus Nabi? Allah mengungkapkan, “Ketika Allah menciptakan manusia dalam kondisi terbaik, maka di situ pula Allah kemudian tidak akan pernah meninggalkan manusia dalam keterpurukannya.” Ketika manusia tersesat karena tidak lagi dapat mengikuti ajaran-ajaran para Rasul terdahulu karena banyaknya polusi-polusi kebudayaan serta noda-noda kemaksiatan yang mengotori akidah atau ajaran agama yang disampaikan Rasul, sehingga umat cenderung untuk melakukan kemungkaran, maka Allah tidak tinggal diam. Maka diutuslah para Nabi untuk mengingatkan lagi. Kemudian setelah Sang Nabi wafat, tidak berapa lama kemudian digantikan dengan Nabi yang lain. Sehingga, selalu ada Nabi yang menggantikan. Mengapa? Karena tujuannya adalah untuk menghindarkan umat manusia dari kesesatan, dari kesalahan syari’at, serta dari kesalahan ibadah. Ketika Rasulullah ditetapkan sebagai Khatamun Nabiyyin Nabi Yang Terakhir, apakah ini berarti setelah Rasulullah Saw wafat, maka Allah kemudian akan meninggalkan manusia, yang kemudian manusia akan hidup dalam keterpurukan dan kesesatan? Namun Rasulullah kemudian menginformasikan Innallaha yursilu li kulli ummatin ala ra’simiatin man yujaddidu laha diinaha Sesungguhnya Allah selalu akan mengirim pada setiap umat seseorang yang selalu akan memperbaharui pemahaman agama yang sudah menyimpang, agar umat tadi terhindar dari kezaliman. Sepeninggalan Rasulullah, maka muncullah mujaddid pertama di dalam Islam, yaitu Umar bin Khattab Khalifah Kedua dari Khulafaur Rasyidin. Apa jasa beliau sehingga dikenal sebagai mujaddid pertama di dalam Islam yang mengingatkan umat? Jasa beliau adalah untuk melestarikan Al-Qur’an, yaitu mengusulkan agar wahyu yang diterima Rasulullah disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena ketika itu, begitu Rasulullah wafat ternyata sebagian Bangsa Arab ketika menyatakan memeluk Agama Islam lebih dikarenakan wibawa Rasulullah atau lebih didorong karena akhlak Rasulullah. Dikhawatirkan sepeninggalan Rasulullah, orang-orang yang memeluk Islam karena pengaruh wibawa Rasulullah itu akan berbalik kepada kejahiliyahan. Semasa hidup Rasulullah, otoritas penetapan hukum berada pada beliau selaku penerima wahyu. Sehingga sepeninggalan Rasulullah, tinggallah Al-Qur’an sebagai pedoman hukum, selain juga Sunnah Rasulullah yang ketika itu juga belum dikodifikasi dibukukan, sama halnya dengan Al-Quran. Dalam hal ini, Umar bin Khatthab memandang perlu dan pentingnya Al-Quran untuk segera disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena saat itu Al-Qur’an memang belum dibukukan, melainkan pencatatannya masih tercerai berai dan lebih banyak mengandalkan catatan dan hafalan para sahabat yang mencatat Al-Qur’an semasa hidupnya Rasulullah. Sedangkan saat itu masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq, banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang. Sehingga berkaitan dengan hal ini, maka ide Umar bin Khattab untuk menyatukan Al-Qur’an dalam satu jilid mushaf dapat dikatakan sebagai ide pembaharuan tajdid. Umar bin Khatthab selaku tokoh tajdid pembaharuan itu dapatlah dikatakan sebagai mujaddid pembaharu. Berkaitan dengan akhlak Rasulullah yang menjadi magnet tersendiri bagi syi’ar Agama Islam, sehingga semasa hidupnya Rasulullah banyak Bangsa Arab yang masuk Islam karena akhlak Rasulullah, bukan karena akidah yang ditawarkan. Maka sangat tepatlah ketika Rasulullah menyatakan, “Innama bu’istimu li utammima makarimal akhlaq,” Sesungguhnya Rasulullah itu diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tentang kemuliaan akhlak Rasulullah ini, pernah terjadi ketika di Mekkah setiap kali Rasulullah berangkat ke Ka’bah ketika itu untuk beribadah, yang saat itu wahyu untuk melakukan perintah shalat lima waktu shalat fardhu belumlah diterima Rasulullah, sehingga ibadah Rasulullah ketika itu hanya dilakukan dua kali, yaitu “bukratan wa ashiila”, yaitu pagi dan petang, yang mana ibadah seperti ini sudah dilakukan Rasulullah sejak beliau menerima wahyu. Diceritakan bahwa setiap Rasulullah berangkat ke Ka’bah, di perempatan jalan sudah menunggu seseorang. Begitu melihat Rasulullah, orang tersebut langsung memaki-maki. Kadang-kadang makian tak mempan, maka diambilnya pasir lalu dilemparnya ke arah Rasulullah. Tapi Rasulullah tak mempedulikan itu. Rasulullah hanya tersenyum saja atas perlakuan orang tersebut. Sehingga orang tersebut semakin kesal saja. Mengapakah orang tersebut kesal? Orang tersebut kesal, karena keinginannya ketika dia memaki-maki Rasulullah, maka Rasulullah juga harus membalasnya dengan memaki-maki ataupun marah. Karena kalau Rasulullah marah, maka dia orang itu mempunyai alasan untuk melakukan perbuatan yang lebih dari itu. Namun Rasulullah hanya tersenyum saja menanggapi itu semua. Suatu saat ketika Rasulullah berangkat ke Ka’bah, ternyata orang yang biasanya memaki-maki beliau tersebut tidak ada. Rasulullah pun heran, karena tak biasanya, dan Rasulullah merasa ada sesuatu yang kurang dan janggal, karena biasanya disambut oleh sesuatu, tapi saat itu tidak. Akhirnya Rasulullah melanjutkan perjalanan ke Ka’bah. Setelah dari Ka’bah, Rasulullah pun bertanya-tanya, kemana gerangan orang yang biasanya memaki-maki dirinya itu. Ternyata setelah diketahui, bahwa orang tersebut sedang sakit. Lalu Rasulullah bergegas pulang, kemudian minta kepada istrinya Khadijah untuk membungkuskan makanan. Dengan membawa makanan, Rasulullah pun langsung menjenguk orang tersebut ke rumahnya. Mengetahui bahwa yang datang adalah Rasulullah, orang tersebut semakin ketakutan, takut kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Rasulullah pun masuk ke rumah orang tersebut. Ternyata ketakutan orang tersebut tak terbukti, karena Rasulullah datang bukanlah untuk membalas dendam, melainkan untuk menjenguk orang tersebut yang sedang sakit. Maka orang tersebut kemudian hilang rasa takutnya, malahan kemudian muncul penghargaan dan rasa simpati terhadap Rasulullah, karena orang-orang di sekitarnya belum ada yang peduli kalau dia sedang sakit. Tapi ini, orang yang selama ini dimusuhinyalah yaitu Rasulullah yang peduli dan menjenguknya yang sedang sakit. Ketika Rasulullah akan pamit pulang dan mau keluar dari rumah orang tersebut, tiba-tiba orang tersebut memanggil “Ya Muhammad, aslamtu bima da’awtani”, ya Muhammad, saya menyatakan keislaman saya terhadap apa yang engkau dakwahkan kepada kami. Islamnya orang tersebut karena apa? Bukan karena keyakinan bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu benar, bukan karena mempercayai bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu datang dari Allah. Tetapi lebih dikarenakan akhlak mulia Rasulullah. Manusia, karena secara fitrah mempunyai potensi fujur kekuatan yang selalu mengajak kepada keburukan, maka pasti tidak ada satupun manusia yang terhindar dari keinginan untuk melakukan keburukan. Sehingga berbuat buruk itu konon sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun di sinilah, ketika kita melakukan keburukan, hendaknya segera sadar bahwa itu salah. Bagaimana memperbaikinya? Ikutilah perbuatan buruk tadi dengan perbuatan baik yang dapat menghapus, yang dapat menjadi kompensasi dari perbuatan buruk tadi. Oleh karena itulah, kita selalu dianjurkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Karena kebaikan itulah yang sesuai dengan tujuan Allah dalam penciptaannya, yaitu penciptaan itu adalah untuk kebaikan. Ketika menganjurkan umat, maka ungkapannya adalah wal takum minkum ummatun, yaf’uuna ila khairi “hendaknya di antara kamu ada sekelompok orang yang mau mengajak kebaikan,” bukan mengajak kepada keimanan terlebih dahulu. Wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhaw anil munkar, setelah mengajak kepada kebaikan, baru kemudian mengajak kepada ajaran syari’ah. Dan itu ternyata sesuai dengan misi pengutusan Allah terhadap Rasul-Nya, li utammima makarimal akhlaq. Kemudian ungkapan tadi dilanjutkan, wa ahsin kama ahsanallahu ilaika, “dan berbuatlah yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi kita bagi manusia”. Pada yang pertama adalah perintah yang baik, maka perintah selanjutnya adalah berbuat yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi manusia. Jadi, semua yang dilakukan Allah terhadap manusia adalah segala sesuatu yang terbaik. Bandingkan dengan apa yang dilakukan manusia. Kalau kita manusia melakukan suatu kegiatan, seringkali semampunya saja. Padahal ketika melakukan sesuatu, kadang kita mengeluarkan tenaga, mungkin juga berfikir bagaimana melaksanakannya, mungkin juga harus mengeluarkan uang. Namun karena di dalam hati niat melakukannya itu seenaknya, maka hasil yang dicapaipun menjadi seenaknya. Berbeda ketika kita melakukan pekerjaan dengan niat untuk mencari hasil yang terbaik, sama-sama mengeluarkan tenaga, biaya, dan penalaran, namun karena dilandasi dengan niat untuk mencapai yang terbaik ahsin, maka hasilnyapun menjadi yang terbaik. Manusia selalu ingin karyanya dihargai. Kalau itu yang diinginkan, tampaknya kita perlu bersikap seperti yang dilakukan Allah, bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pasti ada manfaatnya, pasti membawa sesuatu yang berfaedah bagi makhluk-Nya. Mengapa bagi makhluk-Nya? Karena Allah tidak memerlukan sesuatu, Allah tidak memerlukan apa-apa. Yang dilakukan Allah adalah untuk kepentingan makhluk-Nya, terutama manusia. Sehingga, ketika kita menghayati Keesaan Allah dalam penciptaan, maka hanya Allah yang dapat melakukan segala sesuatu dengan tanpa sia-sia. Rabbana maa khalaqta haaza baathila, maksudnya adalah bahwa apapun yang dilakukan Allah, apapun yang yang diciptakan oleh Allah, pasti akan memberikan nilai tambah bagi manusia. Ini keesaan Allah. Dan kewajiban kita adalah meniru apa yang dilakukan oleh Allah. Yang pasti kita tidak dapat menyamai-Nya, walam ya kullahu kufuwan ahad tidak ada satupun yang dapat menyamai Allah-dalam segala halnya, namun yang dapat kita lakukan hanyalah meniru-Nya. Kalau Allah menciptakan sesuatu adalah selalu memiliki manfaat dan tujuan, kitapun bisa melakukan itu apabila disertai keinginan untuk melakukan dengan yang terbaik, karena sesuatu yang terbaik akan memberikan manfaat. Dalam bahasa teologinya disebut bahwa pengiriman Rasul itu merupakan “nazhariyatusshalah wal ashlah” yang artinya “teori kebaikan dan yang terbaik”, maksudnya adalah bahwa yang dilakukan oleh Allah kepada makhluk-Nya itu adalah sesuatu yang baik dan terbaik. Sehingga setiap makhluk mesti diberi sarana untuk menjadikan dirinya baik dan terbaik. Makhluk yang lemah dan tak memiliki pertahanan diri yang dapat diandalkan ternyata diberi kemampuan lain. Misalnya, kijang tidak mempunyai pertahanan diri, tapi dia diberi kemampuan bisa lari cepat. Ini adalah untuk kebaikan makhluk itu sendiri. Cumi-cumi tidak dapat menentang predator hewan pemangsa, maka dia diberi kemampuan bisa mengeluarkan cairan hitam yang bisa membuat gelap, sehingga dia bisa menyelamatkan diri. Manusiapun begitu. Bahkan kelengkapan dan kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah merupakan sesuatu yang komprehensif menyeluruh, dari tangan, kaki, akal , pendengaran, penciuman, dan sebagainya, yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan manusia. Maa khalaqta haaza bathila, untuk apa penciptaan Allah yang luar biasa itu? Semuanya adalah ditujukan untuk manusia. Sehingga kita layak menyikapi apa yang ada di sekitar kita, bahwa itu semua adalah ciptaan Allah yang harus kita hayati, kita sikapi, dan kita respon dengan bijaksana. Sehingga kita tidak terlanjur menyikapi dengan sembrono, yang pada akhirnya dapat menyebabkan sesuatu yang salah. Pada saat Rasulullah telah dipastikan sebagai insan pilihan, sebagai manusia yang selalu berjalan dalam kebenaran, mendapat wahyu yang berasal dari Allah, itupun beliau tidak boleh sembarangan. Surat Yaasin mengungkapkan Yaasin, wal quranil hakim Yaasin, Demi Qur’an yang penuh dengan ajaran-ajaran dengan kebijaksanaan. Innaka laminal mursalin Sesungguhnya engkau ya Muhammad adalah benar-benar dari kelompok yang dipilih Tuhan menjadi Rasul yang diutus. Ala shiratal mustaqim Yang pasti berada pada jalan yang benar. Tanziilal azizirrahim Yang mendapat wahyu turun dari Allah. Walaupun sebagai seorang Rasul, tapi tidak boleh berdakwah semaunya. Bagaimana berdakwah? Seperti yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu “hakim”, “hikmah”, kebijaksanaan. Ada ungkapan, qulil haqqa walaukaana murran katakanlah yang benar walaupun itu pahit. Tapi menurut Al-Qur’an tidak begitu. Kalau Al-Qur’an ajarannya adalah seperti yang tersebut pada Surat Al-Baqarah “wakuulu linnaasi husna”, artinya “berbicaralah pada manusia-manusia orang-orang di sekitarmu dengan cara yang terbaik,” maksudnya adalah menyampaikan sesuatu kebenaran dengan nuansa kebaikan. Kalau ingin mengatakan yang benar, bagaimana ungkapan yang benar tersebut dapat diinformasikan dengan cara yang baik dan benar pula, sehingga tidak menyakitkan. Karena kalau “qulil haqqa walaukaana murran” katakanlah yang benar walaupun itu menyakitkan. Tapi kalau dalam Al-Qur’an tidak seperti itu. Sebab kalau sesuatu yang benar disampaikan dengan cara yang keras, maka orang-orang akan lari. Ayat Al-Qur’an juga mengisyaratkan itu “fabima rahmatin min rabbika lintalahum walau kunta fardhan ghalizal qalbi lan fazlu min haulik” maka dengan rahmat Allah, anugerah Allah, yang dikaruniakan kepadamu, hendaknya kamu bersikap lemah-lembut, walaupun yang kamu sampaikan itu benar tapi kalau menyampaikannya dengan cara yang keras dan kaku, maka orang-orang akan lari. Apa saja yang diciptakan Allah ternyata untuk kebaikan manusia. Walaupun apa yang dilakukan Allah itu benar dan bermanfaat, tapi apabila tidak disikapi secara bijak, justru akan menyebabkan munculnya kebencian. Mungkin ada di antara umat Islam yang kurang memperhatikan ini, sehingga kalau menyampaikan kebenaran justru menimbulkan kebencian orang lain. Maka mungkin kita harus menyikapi dengan “fabima rahmatin min rabbika lintalahum”, bersikap lemah-lembut. Jika mengajak kepada kebaikan dan memberantas kemungkaran, bagaimana melaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah, yaitu dengan cara yang lembut, sehingga tidak menimbulkan kebencian. Wal qur’anil hakim demi Al-Qur’an yang di dalamnya penuh dengan ajaran-ajaran yang bijaksana. Ternyata Al-Qur’an itu ajarannya penuh dengan kebijakan-kebijakan. Sehingga sebenarnya itulah tujuan Allah menciptakan hal-hal yang ada di sekitar kita. Itulah tujuan Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, yang kemudian menjadi imaman pedoman, wa nuuran, wa hudan, wa rahmah. Dan yang jangan dilupakan adalah “wa rahmah” dan rahmat, maksudnya adalah bahwa Al-Qur’an itu dapat menjadi hal-hal yang menimbulkan kasih sayang. Dari kata “rahmat” muncul Ar-Rahman Ar-Rahim yang artinya kasih sayang. Sehingga apa yang dilakukan Allah Swt betul-betul merupakan keesaan-Nya, yang semuanya ditujukan untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan, kasih sayang-kasih sayang di antara kita sesama makhluk-Nya. Apabila ini dapat kita hayati, maka pasti akan menimbulkan dorongan pada diri kita. Mengapa saya tidak melakukan yang terbaik, kalau yang burukpun memerlukan tenaga, sama-sama lelahnya. Karena itu, mungkin seperti Allah Swt yang tidak pernah membenci makhluk-Nya, walaupun makhluk-Nya ingkar, tapi Allah selalu membuka pintu taubat, karena menginginkan kebaikan bagi makhluk-Nya. Inilah keesaan Allah dalam perbuatan-Nya. Atau “at-tauhiid fi af’al”. [] Disarikan dari Pengajian Tauhid yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, pada tanggal 12 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor Hanafi Mohan. Entry filed under Akidah Akhlak, Islamika. Tags akhlak, tauhid.
Secara bahasa Arab Af'alul khomsah berarti fi'il yang lima, Pengertian af'alul khomsah adalah setiap fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak dan ya' mu'annas mukhotobah. afa'alul khomsah atau fi'il yang lima itu sebagai berikut يَفْعَلَانِ artinya dia berdua laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلَانِ artinya Kamu berdua laki-laki sedang mengerjakanيَفْعَلُوْنَ artinya Mereka laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلُونَ artinya Kalian laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلِيْنَ artinya kalian wanita sedang mengerjakanAf'alul Khomsah bisa mempunyai tanda i'rob nashob dan i'rob jazm dengan membuang huruf nun yang berada di akhir katanya, karena terdapatnya amil nawashib yang menashobkan dan amil jawazim yang menjazmkan af'alul Contoh Af'alul Khomsah di dalam Al Qur'anBerikut adalah 20 contoh af'alul khomsah yang terdapat di dalam al qur'an, adapun warna kuning kami berikan kepada lafadz yang menunjukkan af'alul khomsah supaya memudahkan di dalam mempelajari dan memahaminya. وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ Artinya "Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" QS. Al-Baqarah Ayat 30 ta'lamuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al baqoroh ayat 30. فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ Artinya ",,, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."" QS. Al-Baqarah Ayat 38 yahzanuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al baqoroh ayat 38وَلَكُمْ فِيْهَا جَمَا لٌ حِيْنَ تُرِيْحُوْنَ وَحِيْنَ تَسْرَحُوْنَ Artinya "Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan." QS. An-Nahl Ayat 6 tasharuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 6وَاَ لْقٰى فِى الْاَ رْضِ رَوَا سِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَ نْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ Artinya "Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk," QS. An-Nahl Ayat 15 tahtaduuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 15وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِ لَيْهِ تَجْئَرُوْنَ Artinya "Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." QS. An-Nahl Ayat 53 taj'aruuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 53 وَيَجْعَلُوْنَ لِمَا لَا يَعْلَمُوْنَ نَصِيْبًا مِّمَّا رَزَقْنٰهُمْ ۗ تَا للّٰهِ لَـتُسْـئَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُوْنَ Artinya "Dan mereka menyediakan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, untuk berhala-berhala yang mereka tidak mengetahui kekuasaannya. Demi Allah, kamu pasti akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan." Yaj'aluuna, ya'lamuuna dan taftaruuna contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat للّٰهُ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ حْيَا بِهِ الْاَ رْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يَةً لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ Artinya "Dan Allah menurunkan air hujan dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengarkan pelajaran." QS. An-Nahl Ayat 65 Yasma'uuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 65 ۚ فَمَا الَّذِيْنَ فُضِّلُوْا بِرَآ دِّيْ رِزْقِهِمْ عَلٰى مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُمْ فَهُمْ فِيْهِ سَوَآءٌ ۗ اَفَبِنِعْمَةِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ Artinya "tetapi orang yang dilebihkan rezekinya itu tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama merasakan rezeki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?" QS. An-Nahl Ayat 71 Yajhaduuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 71فَلَعَلَّكَ بَا خِعٌ نَّـفْسَكَ عَلٰۤى اٰثَا رِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَـدِيْثِ اَسَفًا Artinya "Maka barangkali engkau Muhammad akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini Al-Qur'an." QS. Al-Kahf Ayat 6 Lam yu'minuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 6, di mana asalnya adalah yu'minuuna, karena ada huruf lam, sehingga menjadi i'rob jazm dengan membuang huruf nun pada lafadz yu'minuunaفَقَا لُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ لَنْ نَّدْعُوَاۡمِنْ دُوْنِهٖۤ اِلٰهًـا لَّـقَدْ قُلْنَاۤ اِذًا شَطَطًا Artinya lalu mereka berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran."" QS. Al-Kahf Ayat 14, lan nad'uwa adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 14, di mana asalnya adalah nad'uwana, karena ada huruf lan, sehingga menjadi nashhob dengan membuang huruf اِنْ يَّظْهَرُوْا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوْكُمْ اَوْ يُعِيْدُوْكُمْ فِيْ مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوْۤا اِذًا اَبَدًا Artinya "Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."" QS. Al-Kahf Ayat 20. In yadharuu dan lan tuflihuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 20, di mana asalnya adalah yadharuuna dan tuflihuuna, karena ada huruf lan dan in, sehingga menjadi nashob dengan tandanya membuang huruf يَقُوْلُ نَا دُوْا شُرَكَآءِيَ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَّوْبِقًا Artinya "Dan ingatlah pada hari ketika Dia berfirman, "Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu." Mereka lalu memanggilnya, tetapi mereka sekutu-sekutu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan neraka." QS. Al-Kahf Ayat 52. falam yastajiibuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 52, di mana asalnya adalah yastajiibuuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob jazm dengan tandanya membuang huruf الْمُجْرِمُوْنَ النَّا رَ فَظَنُّوْۤا اَنَّهُمْ مُّوَا قِعُوْهَا وَ لَمْ يَجِدُوْا عَنْهَا مَصْرِفًا Artinya "Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya." QS. Al-Kahf Ayat 53 lam yajiduu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 53, di mana asalnya adalah yajiduuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob jazm dengan tandanya membuang huruf nunوَمَا مَنَعَ النَّا سَ اَنْ يُّؤْمِنُوْۤا اِذْ جَآءَهُمُ الْهُدٰى وَيَسْتَغْفِرُوْا رَبَّهُمْ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْاَ وَّلِيْنَ اَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَا بُ قُبُلًا Artinya "Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali keinginan menanti datangnya hukum Allah yang telah berlaku pada umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." QS. Al-Kahf Ayat 55 an yu'minuu dan yastaghfiruu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 55, di mana asalnya adalah yu'minuuna dan yastaghfiruuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda nashob dengan tandanya adalah membuang huruf nun ۗ بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْئِلًا Artinya "Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu untuk mendapat siksa yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya." QS. Al-Kahf Ayat 58 lan yajiduu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 58, di mana asalnya adalah yajiduuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًا ۙ لَّا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا Artinya "Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan." QS. Al-Kahf Ayat 93 yafqohuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 93,اَفَحَسِبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنْ يَّتَّخِذُوْا عِبَا دِيْ مِنْ دُوْنِيْۤ اَوْلِيَآءَ ۗ اِنَّاۤ اَعْتَدْنَا جَهَـنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ نُزُلًا Artinya "Maka apakah orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sungguh, Kami telah menyediakan Neraka Jahanam sebagai tempat tinggal bagi orang-orang kafir." QS. Al-Kahf Ayat 102 an yattakhidzuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 102, di mana asalnya adalah yattakhidzuuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا Artinya "Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." QS. Al-Kahf Ayat 104 yahsabuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 104,كُلَّمَاۤ اَرَا دُوْۤا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْحَرِيْقِ Artinya "Setiap kali mereka hendak keluar darinya neraka karena tersiksa, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya. Kepada mereka dikatakan, "Rasakanlah azab yang membakar ini!"" QS. Al-Hajj Ayat 22 an yakhrujuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Hajj ayat 22, di mana asalnya adalah yakhrujuuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun ٱلَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّاۤ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗ وَلَوْلَا دَ فْعُ اللّٰهِ النَّا سَ بَعْضَهُمْ بِبَـعْضٍ Artinya "yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, ,, QS. Al-Hajj Ayat 40. An yaquuluu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Hajj ayat 40, di mana asalnya adalah yaquuluuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun
contoh af al allah